Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
97. Pagi yang cerah


__ADS_3

setelah selesai ganti baju, Deka dan Milla langsung turun ke bawah. Sesampainya di lanti satu, mereka berpapasan dengan Eny yang ternyata sudah bangun.


"Wih, mau kemana nih pasutri?" Goda Eny saat melihat kedua pasangan muda itu turun dari tangga.


"Pagi tante. Kita mau jogging, biar sehat." Balas Milla tak lupa dengan senyum yang melekat di wajahnya.


"Heleh, tadi dikamar bilangnya mana ada orang jogging jam segini. Giliran sekarang aja, pengen jogging." Sinis Deka.


"Hush, kapan sih aku ngomong gitu!" Milla langsung mati kutu dibilang seperti itu oleh Deka.


"Hahahaha, Biarin aja, Deka. Namanya juga cewek. Suka labil kadang-kadang." Eny mencoba menengahi keduanya. "Kalau mau jogging, pakai sepatu tante aja. Soalnya kita kemarin lupa gak beli sepatu buat kamu."


Eny berjalan ke arah salah satu ruangan yang tak jauh dari sana.


"Sini ikut tante bentar." Eny mengajak Milla dan Deka mengikutinya.


Di dalam ruangan itu, terlihat banyak sekali sepatu, sendal dan beberapa aksesoris lain yang terpajang.

__ADS_1


"coba yang ini." Eny mengambil satu pasang sepatu dan memberikannya kepada Milla.


Milla mengambil sepatu yang disodorkan padanya.


"Dan yang ini buat kamu." Eny memberikan satu pasang sepatu lainnya untuk Deka. "Kalian coba dulu. Kalau gak muat biar tante carikan yang lain."


Milla mengangguk dan langsung mencoba sepatunya. Begitupun juga Dengan Deka.


"Pas kok, tante." Milla langsung memakai yang sebelahnya juga.


"Aku juga pas." Deka juga langsung memakai sepatu yang sebelahnya.


"Gak jauh-jauh kok, tante." Jawab Deka yang akan memimpin jogging pagi mereka.


"Yaudah, hati-hati. Millanya di jaga ya." Pesan Eny mengantar mereka keluar dari rumahnya.


"Dadah, tante." Pamit Milla berjalan menjauh sembari tetap bergandengan dengan Deka.

__ADS_1


Sebelum jogging, Deka mengajak Milla untuk pemanasan terlebih dahulu. Dua menit pemanasan, mereka mulai jogging dengan posisi masih saling bergandengan. Deka menyesuaikan kecepatannya dengan Milla agar wanita itu tidak cepat kelelahan.


"hah, hah, sejauh man,,,a ki,,,ta jogging?" Tanya Milla sudah ngos-ngosan setelah lima menit terus berlari. Nampaknya dia sudah kelelahan. Wajar saja, sebab Milla jarang sekali berolahraga.


"Masih jauh. Pelanin lagi aja gapapa. Tapi jangan berhenti lari." Deka menurunkan lagi tempo larinya yang awalnya sudah pelan. Deka melirik ke samping. Dia tersenyum.


"Ha, mau dalam kondisi apapun dia tetap saja cantik ya." Batin Deka melirik Milla yang sudah kelelahan.


"Ayo semangat, kamu pasti bisa, Milla." Deka memberikan semangat pada Milla agar terus berlari.


Akhirnya setelah perjuangan yang berat, Milla berhasil tetap berlari sampai akhir walaupun dia harus berlari sangat pelan. Milla langsung duduk di trotoar sembari meluruskan kakinya. Kaki Milla rasanya seperti hilang, dia tak dapat merasakan tenaga di bagian kakinya.


Deka duduk di sebalah Milla. Tak seperti Milla yang sudah sangat kelelahan, Deka terlihat biasa saja. Keringat memang membasahi tubuh Deka, tapi tenaganya masih sangat banyak.


"kamu harus sering olahraga." Ucap Deka saat melihat banyaknya keringat Milla yang membasahi tubuhnya. Untungnya jalanan masih sepi tadi, jadi mereka bisa berlari tanpa ada halangan mobil atau motor yang lewat.


"Hah, iya, kurasa kamu benar." Milla mengipas-ngipas tubuhnya dengan jari jemari. Keputusan Deka memilihkan baju untuk Milla ternyata tepat sasaran. Meski sudah diguyur keringat, tubuh Milla tidak sampai terlalu membekas hingga terlihat oleh orang.

__ADS_1


"Ayo pendinginan sebentar, baru pulang." Ajak Deka sebelum mereka kembali ke kediaman Bachsmid.


__ADS_2