
"Pagi juga, nak Deka." Balas Eny dengan senyum yang terus melekat pada wajahnya. Deka melihat aura yang baik saat melihat wajah tantenya Milla itu. "Milla mana?"
Eny berhenti di depan Deka begitu pun dengan El. Bedanya El tidak menunjukkan aura yang sama dengan ibunya. Malahan Deka merasakan aura buruk dari pria itu.
"Nih, bocah pagi-pagi moodnya udah jelek aja. Lagi ngumpat gw ya?!" Batin Deka melirik ke sebelah Eny.
"Ada tante di dalem. Masih tidur," Jawab Deka menghiraukan El yang memancarkan aura tak menyenangkan padanya.
"Oh, tolong dibangunin ya. Tante udah masakin sarapan. Kita sarapan bareng."
"Iya, tante. Habis ini kami turun."
Eny mengangguk dan langsung pamit turun duluan diikuti oleh El.
Deka masuk kembali ke dalam kamar. Dia berjalan ke arah kasur dan duduk di samping kasur. Di selanya poni Milla yang sedikit menghalangi wajahnya.
"Ah, masih tidur pun sudah cantik banget." Puja Deka dalam hati tanpa bisa memungkiri kecantikan Milla. Tapi Deka cepat-cepat menghapus pikiran-pikiran itu. Dia harus membangunkan Milla, bukan hanya memandanginya saja.
"Milla, Milla, bangun. Tante Eny nyuruh kita turun." Deka menggerakkan pelan badan Milla agar wanita itu cepat terbangun.
__ADS_1
"Milla,,," Coba Deka lagi karena Milla masih tak meresponnya sebelumnya. Perlahan Milla mulai memberikan tanda dia akan bangun.
"Em,,,, tante masuk ke sini?" Tanya Milla langsung bangkit dari tidurnya sembari mengumpulkan nyawanya.
"Enggak, tadi aku ketemu di depan pintu. Dia bilang udah masakin sarapan buat kita. Katanya ditunggu dibawah."
Milla terdiam dia tak merespon jawaban Deka. Nampaknya perempuan itu sedang mengumpulkan nyawanya. Deka yang menyaksikan itu langsung cekikikan.
"Hahaha, lucu banget sih kamu." Batin Deka yang ingin mencubit pipi Milla saat itu juga. Tapi tentunya tak dilakukannya karena takut Milla marah.
Mau dilihat dari segi manapun yang Milla lakukan memang sangat lucu. Dia mematung dengan posisi terduduk, tetapi kepalanya maju mundur seakan-akan mencoba menahan ngantuk. Itulah yang membuat Deka gemas.
"Ah, iya!" Kaget Milla langsung celingak celinguk. "Ayo, ayo kita turun."
Milla langsung turun dari kasur dan berjalan dengan percaya diri ke arah pintu keluar kamar. Deka yang melihatnya kembali di buat menahan tawa. Gelagat istrinya itu membuat pagi terasa begitu sempurna.
Takut Milla jatuh atau tersandung, Deka segera beranjak. Dengan sigap dia berjalan di samping Milla, mengenggam tangan wanita itu dan mengarahkannya untuk berjalan turun ke bawah.
Saat sedikit lagi sampai di meja makan, Milla mencium bau yang sungguh enak dihidungnya.
__ADS_1
"Hhhhmmmm,,,, enaknya. Ayo cepat Deka. Aku lapar." Terang Milla yang tiba-tiba saja bersemangat. Padahal tadi saat turun tangga wanita terkesan masih tidur. untungnya Deka telaten. Jadi Milla bisa menuruni tangga dengan selamat.
Deka mempercepat langkahnya sesuai arahan Milla.
"Wah, akhirnya bangun juga." Sapa Eny saat melihat Milla dan Deka mendekati meja makan. Eny semakin tersenyum saat melihat Milla nampak bergelayut manja pada lengan Deka. Memang benar Milla butuh bantuan untuk berjalan ke sana kemari, tapi melihat Milla dan Deka seperti saat ini sungguh membuat dia bersukur.
Padangannya dari saat pertama ia mendengar rumor buruk tentang Deka sampai saat ini, perlahan-lahan mulai berubah. Malahan dia merasa sangat bersukur dengan adanya Deka di sisi Milla. Dari cerita Milla kemarin, pria bernama Deka itu menajadi sosok yang sungguh berjasa dalam hidup Milla. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali.
Oleh sebab itu, baik Eny maupun suaminya ikhlas menerima Deka sebagai suami Milla meski mereka tahu bahwa anak mereka mencintai Milla lebih dari apapun.
"Eh, maaf, tante, tadi aku udah bangun tapi tidur lagi." Balas Milla setelah Deka menuntunnya untuk duduk di salah satu kursi. Sementara Deka duduk di sampingnya.
"Gak papa kok. Lagian siapa yang gak nyaman tidur disamping suami sendiri." Sindir Eny membuat wajah Milla langsung memerah.
"Tannntee,,,"
"Sudah, sudah, tante bercanda. ayo kita sarapan. Tante udah laper nungguin kalian semua." Tanpa banyak perbincangan semuanya mulai sarapan mereka seperti semalam. Bedanya tidak ada Bachsmid di sana, pria itu sudah berangkat ke kantor pagi-pagi buta.
Sementara itu, dari ujung meja makan, tatapan sinis tetap dipancarkan oleh pria yang tak suka atas kehadiran Dek. Siapa lagi kalau bukan, El.
__ADS_1