
Tepat tengah malam, Milla bermimpi aneh. Dia merasakan geli-geli pada bagian tubuhnya. Terutama pada bagian buah dadanya. Dia merasakan suatu cairan lengket membasahi areanya itu.
“Cup,, kau sudah bangun, babe?” Suara bas pria menyadarkan Milla kalau ternyata dia tidak sedang tertidur. Milla langsung teringat dengan adegan panas yang baru beberapa jam yang lalu mereka lakukan. Dia tentunya tidak bisa melihat bagaimana cara mereka melakukannya, tapi dia bisa merasakannya. Semua terasa nyata dan sangat dinikmati oleh Milla.
Tak mendapatkan balasan, pria itu beralih mencium bibir si wanita. Ciuman itu terasa sangat menuntut dan membuat MIlla kewalahan. Hingga akhirnya pria itu melepaskannya karena sadar Milla sudah kehabisan nafas.
Pria itu mendekat ke arah telinga wanita itu.
“Bukankah seharusnya kita mulai hukuman untukmu?” Bisik Deka yang terdengar sangat sexy dan candu bagi MIlla.
“Hah,,hah,, ap-apa maksudmu hukuman?” Jawab Milla mencoba menarik kembali kewarasannya.
“Kau lupa kalau kau kalah taruhan semalam? Dan aku ingin kamu melayaniku sekarang.” Tutur deka yang tangan kanannya sudah terarah ke bagian mis v milik Milla.
“Ah, jangan di sana!” Milla mencoba menahan tangan Deka yang mencoba masuk ke bawah sana. Tapi upaya gagal, Deka sudah mulai bermain-main dengan jarinya di sana. Alhasil Milla hanya bisa menggigit. Bibir bagian bawahnya. Dia tak mau melepaskan suara-suara aneh seperti beberapa jam yang lalu.
Tapi sebelum Milla berhasil mencapai *******, tangan Deka langsung berhenti.
“Ah, hah, Ke-kenapa berhenti?” Kecewa Milla Mau bagaimanapun Milla menolak, sentuhan Deka tetap akan selalu berhasil meluluhkannya.
Deka tersenyum penuh kemenangan.
“lakukan dulu tugas sekaligus hukumanmu.” Ucap Deka lalu pergi tiduran di sebelah Milla.
Milla tentu paham maksud dan ke mana arah pembincaraan Deka. Tapi dia malu untuk melakukannya.
__ADS_1
“a-aku menolak.” Balas Milla mencoba mengatur ulang nafasnya.
“Tak masalah. Tapi berarti aku harus memecat dan menghukum Maya. Dia terlalu aku banyak aku berikan kelonggaran.” Ucap Deka santai.
Milla tentunya langsung terperanjat. Dia ingat janjinya dengan Deka tadi malam saat di bar. Dan dia tahu Deka bukan orang sembarangan. Omongannya bisa jadi bukan main-main. Dengan berat hati Milla menerima hukuman dari Deka.
Wanita itu langsung terduduk dari tidurnya. Dia meraba yang ada di sekitarnya hingga dia berhasil menyentuh perut Deka. Dia tahu itu berut dari kerasnya oto yang ada di sana dan jumlah lipatan yang dirasakannya. Tangannya semakin turun ke bawah hingga akhirnya menemukan bagian tugas yang diucapkan Deka tadi.
Milla menyentuh bagian itu ragu-ragu. Tapi saat merasa benda itu sedang tertidur, Milla mengumpulkan semua nyalinya dan langsung memegang pedang milik Deka.
“Aih, apa memang ukuran normalnya segini? Pantas saja rasanya sakit.” Batin Milla saat sudah berhasil memegang pedang milik Deka.
Sementara itu, orang yang punya pedang hanya bisa tersenyum puas. Dia tidak menyangka kalau Milla akan benar-benar mau melakukan apa yang disuruh. Tapi lucunya, Milla tidak bertanya padanya apa maksudnya dengan hukuman itu. Dan wanita itu malah memilih bergerak sendiri. Tapi ini juga bagus buat Deka. Dia terlihat sangat menikmati hal ini.
Milla mulai mengerakkan tangannya maju mundur. Perlahan-lahan, benda yang Milla pegang itu mengeras. Hal itu seperti sebuah balon yang tengah ditiup. Namun entah dari mana Milla belajar akan hal ini, dia mulai menunduk. Dia mencoba melahap pedang inti kepunyaan Deka itu.
“Uhuk, uhuk,” Milla langsung terbatuk.
Melihat itu Deka merasa selamat. Jika saja Milla melakukan itu lebih lama, dia yakin miliknya tidak akan bisa bertahan lama.
“Kemarilah,” Deka menarik tangan Milla agar mendekat ke arahnya. Deka meninggikan bantalnya agar dapat melihat Milla dari sudut pandang yang lebih tinggi. “Bukannya aku tidak memintamu melakukan itu. Sekarang lakukan saja seperti yang aku lakukan terakhir kali.”
“Hah, ak-aku tidak bisa.” Kali ini Milla ingin menyerah. Baginya berhubungan dengan gaya seperti itu sungguh memalukan.
“Kamu mau aku memecat Maya?” ancam Deka agar Mlla mau.
__ADS_1
Dengan terpaksa Milla menanggapi kemauan Deka. Pelan-pela Milla berpindah naik ke atas Deka.
“In-ini memalukan.” Ucap Milla yang merasa Deka pasti tengah menatapnya.
“Jika tak mau mak-“
“Ak-aku mulai!” Aba-aba Milla.
Karena milik Deka sudah bangkit, Milla jadi tidak terlalu kesusahan memegang dan mengarahkannya. Milla memberikan aba-aba pada dirinya sendiri.. Satu, dua, tiga! Milla berhasil memasukkan pedang milik Deka ke dalam milliknya meski rasanya masih terasa cukup sakit.
“Ak-aku cabut ya?” Ternyata rasanya masih belum bisa Milla tahan. Tapi deka tak membiarkannya. Di tahannya Milla dengan mengenggam kedua tangannya.
“Lanjutkan, tidak perlu khawatir. Pelan-pelan saja,” Deka memberikan arahan.
Milla mau tak mau mengikutinya. Dengan sangat pelan Milla bergerak. Tapi karena maju mundur terlalu sakit, Milla memutuskan untuk bergoyang. Dia berencan membuat Deka kalah duluan agar ini segera selesai.
“Kamu tidak betah?” Tanya Deka melihat mimik wajah Milla.
Perempuan itu mengangguk.
“kalau begitu berjanjilah kamu tidak akan pergi ke tempat seperti itu lagi. Jika kamu ingin minum atau sesuatu hal semacam itu, berjanjilah kamu hanya akan melakukan itu denganku saja.”
Tanpa banyak berpikir. Milla langsung mengangguk.
“tentu saja, aku berjanji.”
__ADS_1
Deka tersenyum mendengarnya. Tapi bukannya melepaskan Milla, Deka malah mengganti posisinya dengan Milla. Kali ini dia kembali berada di atas.
“Oke, aku pegang janjimu. Sekarang mari kita selesaikan apa yang telah kita mulai.”