Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
99. Rapat


__ADS_3

dua puluh menit berlalu mereka habiskan untuk sarapan di warteg. Alasan kenapa mereka bisa sangat lama karena ternyata Milla begitu menikmati olahan seafood yang ada di warteg itu sehingga dia nambah satu porsi lagi.


Kini keduanya sudah berada di dalam mobil lagi. Milla nampak paginya kembali cerah setelah kenyang makan.


"Ah, nikmatnya." Ucap Milla yang puas dengan sarapannya.


"Lihatlah wanita ini. Sarapannya saja banyak sekali. Mungkin jika kamu konsisten, kamu bisa gendut." tukas Deka tersenyum bahagia. Dia senang melihat Milla ceria seperti ini.


"Ye,,,, gapapa gendut. Soalnya mau aku gendut sekalipun, aku tetap bakal cantik, kok." Milla tak terima dikatain gendut oleh Deka.


Deka tak melanjutkan candaannya. Dia takut Milla makin sensitif atas perkataannya.


"Oh, iya. Tapi, kenapa kamu suka sekali makan di sana?" Tanya Milla penasaran.


"Karena enak, mungkin?" Jawab Deka tidak bersungguh-sungguh.


"Hah, kamu memang ngeselin." Balas Milla malas.

__ADS_1


"Aku nanya serius malah dibercandain." Batin Milla.


Deka melirik ke arah Milla sebentar lalu kembali melihat ke arah jalan.


"Dulu waktu aku masih kecil, ibu aku suka banget ngajak aku ke warteg. Setiap kali ada acara besar, dia pasti ngajak aku makan di warteg. Lagi liburan, pasti nyarinya warteg." Tiba-tiba saja Deka menceritakan masa kecilnya pada Milla.


"Kamu tahu, bahkan pernah dalam sebulan ibu gak masak sama sekali dan cuman beli makan di warteg. Aku bahkan sampai bosan dibuatnya." Kenangan indah itu terngiang-ngiang dalam benak Deka.


Dari nada suara Deka entah kenapa Milla merasa kasihan. Nadanya seperti orang sedang tengah sedih.


"Bukan berarti masakan ibu aku gak enak. Aku hanya mencoba mengenang kembali memori masa kecilku saja." Penuturan jujur Deka membuat Milla tersentuh. Milla ingin bertanya di mana ibu Deka, tapi ditahannya. Dia takut jawaban Deka malah membuat pria itu bersedih.


Deka segera masuk ke area parkiran dan langsung memarkirkan mobil yang ia bawa. Setelah diparkir, Deka keluar membukakan pintu mobil untuk Milla lalu menuntunnya masuk ke dalam.


Perusahaan Milla ini terletak di pusat pembelanjaan di tengah kota. Jadi seharusnya perusahaan itu dipadati oleh orang-orang. Tapi sejauh Deka memandang, perusahaan itu sungguh sepi. Padahal hari masih hari kerja. Di saat itulah Deka merasa ada yang tidak beres.


Sebenarnya ini bukanlah perusahaan inti milik ayahnya Milla. Perusahaan warisan ayahnya Milla ini merupakan pecahan dari perusahaan yang dimiliki ayahnya. Setelah wafatnya ayah Milla, perusahaan ayahnya dipecah menjadi tiga. satu untuk Milla dan duanya lagi diberikan kepada ibu tiri Milla yang tinggal diluar negeri. Meski hanya memegang satu cabang perusahaan, aset kekayaan Milla dari perusahaan ini bisa dikatakan lebih besar bahkan sampai tiga kali lipat dibandingkan dengan milik ibu tirinya.

__ADS_1


Sesampainya di loby perusahaan, Deka menjumpai resepsionis. Dua wanita resepsionis itu langsung berdiri saat mengenali siapa yang datang. Keduanya juga nampak cemas.


"Selamat pagi, bu Milla dan pak Deka." Sapa dua wanita itu bersamaan.


"Pagi juga." Balas Milla mencoba untuk ramah. Sebenarnya Milla sama sekali tidak tahu apa rencana Deka sampai detik ini. Dia hanya merasa perlu ikut Deka saja.


"Sayang, ingat janji kita tadi malam?" Tiba-tiba saja Deka memanggil Milla dengan sebutan sayang. Dan Milla terkejut mendengarnya. Tapi Milla mencoba membaca suasana. Dia sudah berjanji mengikuti perintah dan ingin menolongnya. Milla merasa inilah saatnya.


"Tentu," Jawab Milla mencoba terdengar sangar.


Deka tersenyum mendengarnya dia sudah dapat izin dari sini.


"Kalian berdua, karena kalian sudah mengenal siapa aku, aku akan langsung saja. Cepat panggil semua petinggi perusahaan untuk rapat pagi ini juga." Deka melirik ke arah jam yang ada di atas dinding. "Sekarang sudah jam 08.38. Aku mau rapat diadakan jam sembilan lima belas. Semuanya wajib hadir tanpa terkecuali. Akan ada konsekuensi untuk mereka yang terlambat dan tak hadir."


Mendengar permintaan Deka, kedua wanita itu langsung menciut. Mereka seperti sedang diawasi singa dari jarak dekat.


"Ta, tapi kami tidak punya nomer beberapa pet-"

__ADS_1


"Apa itu urusanku? Lakukan pekerjaanmu kalau tidak mau dipecat." Deka menarik Milla untuk ikut dengannya langsung ke kantor Milla.


__ADS_2