
Di kantor Bachsmid. Sudah beberapa menit semenjak kepergian Deka.
"Kau percaya anak itu masih muda?" Tanya Bachsmid pada Charris.
"Tentu, pak. Dari wajahnya saja sudah keliahatan kalau dia masih muda." Jawab Charris kaku.
"Yah, berarti aku masih normal. Aku juga masih mencoba beranggapan kalau dia itu masih anak muda. Tapi, kekuasaanya benar-benar bukan sesuatu yang bisa aku cerna." Bachsmid menyeruput teh dari gelas miliknya.
Charris mengangguk, dia sepahaman dengan Bachsmid.
"Tapi, pak, kurasa dia memang bukan orang biasa. Tadi saya mencoba memperhatikan pria disebalahnya."
"Leo maksudmu?"
"Iya, pak. Pria itu memiliki banyak tato."
Bachsmid melirik ke arah Charris sinis.
__ADS_1
"Apa kau sedang bercanda denganku?" Bachsmid mengira Charris tengah melontarkan sebuah jokes kepadanya. Tato adalah hal yang wajar dimiliki seseorang.
"Ah, bukan begitu maksud saya, pak. Apa bapak ingat waktu seminggu lalu Deka bilang tentang tato-tato pembunuh itu?"
Bachsmid terdiam. Dia mencoba mengingat semuanya.
"Waktu itu, di antara foto pembunuh bayaran, terdapat tato-tato yang berbeda setiap orang. Dan setelah saya tanyakan pada kenalan saya di pasar gelap, dia mengatakan terkadang tato menjadi simbolis suatu komplotan seperti para pembunuh bayaran." Terang Charris.
"Lalu, apa hubungannya dengan tato yang kamu lihat pada tubuh Leo?"
Charris menggeleng. Tentunya dia tak tahu apa-apa.
Bersebrangan dengan hal itu, di kediaman Bachsmid, Milla tengah tiduran di sofa mendengarkan musik dari earphone yang dia gunakan. Di depannya terlihat seorang wanita tengah memotong apel untuknya.
“Maya, aku bosan sekali!” Teriak Milla tak tahan. Sudah seminggu ini dia menahan diri di dalam rumah. Setelah kejadian di bathup seminggu yang lalu, hubungan Milla dan Deka menjadi sedikit merenggang.
Semuanya karena kesibukan Deka. Pria itu selalu pulang malam dari kantor Milla selama seminggu ini. Waktu komunakasi mereka berdua jadi sangat singkat. Deka berangkat pagi sebelum Milla bangun dan kembali saat tengah malam. Sesaat setelah Milla tidur. Selain itu, ego Milla juga cukup tinggi. Meski hatinya ingin berbincang dengan Deka tentang kejadian tempo hari, pikirannya malah melarangnya melakukan hal itu. Pikirannya mengatakan kalau hal itu bukanlah yang biasanya dilakukan oleh seorang wanita.
__ADS_1
“kamu mau kemana, Milla? Mau ke mall lagi?” Tanya wanita yang tengah memotong apel untuk Milla. Satu-satunya orang yang makin dekat dengan Milla malah wanita ini. Wanita yang beberapa hari lalu Deka suruh untuk menjadi asisten Milla saat Deka tak ada di sisinya.
“Ah, aku bosan kalau ke mall. Sudah seminggu ini kita mampir ke sana, trus.” Celetuk Milla melepaskan earphone yang menempel di telinganya. Awalnya hubungannya dengan Maya ini tidak berjalan mulus. Ketika itu, Milla masih dalam kondisi marah dengan Deka, jadi Milla langsung mengusir Maya saat pertama kali mereka bertemu.
“Hhmm, mau nongkrong diluar? Aku rasa ada salah satu café yang baru buka di dekat sini.” Saran Maya selesai memotong apel. Meski awalnya diusir oleh Milla, wanita ini tidak pantang menyerah. Dengan gigih dia bertahan hingga akhirnya Milla mau menerima dia sebagai asistennya atau mungkin sekarang malah menjadi sahabatnya.
“Aih, tapi sekarang pasti panas.” Milla benar-benar muak dengan apa yang dirasakannya. Dia ingin sekali ngobrol atau keluar bareng Deka seperti terakhir kali. Tapi Egonya menolak jika harus dia duluan yang minta.
“Kayaknya gak panas deh. Soalnya tadi pas aku lihat, langit mulai mendung.” Balas Maya mendekat ke arah Milla dan memberikan apel yang tadi sudah ia kupas.
“Terimakasih.” Ucap Milla saat menerima satu piring berisi apel ditangannya. Milla langsung memakan buah apel pemberian Maya.
“Ah, aku tahu tempat yang bagus untuk kita datangi.” Maya Teringat suatu tempat yang sangat dia sukai.
“Oh ya? Di mana itu?”
Maya tersenyum mencurigakan.
__ADS_1
“Ayo kita pergi clubbing.”