
Agatha malah tersenyum senang melihat wanita do depannya itu marah-marah tak jelas. Tak disangka di umurnya yang sudah hampir kepala 4 masih bisa jadi rebutan cewek-cewek muda.
"Apa maksud kamu sayang, Jelas kalo kamu yang paling cantik malam ini." Lagi dan lagi Agatha mencium punggung tangan wanita itu. Namun wanita itu tak merespon lebih.
"kamu tidak cemburu padaku dan wanita itu kan?" Tanya Agatha.
Pertanyaan itu membuat wanita itu terperanjat. Si wanita langsung mengalihkan pandangannya.
"Mana ada," Jawab si wanita tak berani menatap mata Agatha.
"Ayolah Jessica, tak perlu cemburu. Wanita itu hanya mainan sekali saja. Tak lebih dan tak kurang."
Kata 'mainan' yang terlontar membuat wanita yang dipanggil Jessica itu menatap mata Agatha kembali.
"Apa itu benar?" Tanya Jessica memastikan.
Agatha tersenyum manis kepada Jessica. Tangan kanannya beralih membelai lembut pipi wanita itu.
"Tentu benar, sayang. Tidak ada wanita cocok di sisiku kecuali kamu," rayu Agatha agar Jessica segera luluh.
Masih terlihat keraguan dalam raut wajah Jessica. Agatha sadar betul keraguan yang ada di pikiran Jessica.
"Apa kau lupa siapa wanita tadi?!"
"Hhmm,, tadi dia bilang dia adalah anaknya Eleanor."
"Nah, kau tahu siapa orang itu bukan?"
__ADS_1
Jessica mengangguk..
"Yap, dia adalah anak dari musuh bebuyutanku yang selalu ingin aku lenyapkan." jujur Agatha menjelaskan maksud dan tujuannya.
"Lalu kenapa kau menolongnya? Kenapa tidak langsung kau hancurkan saja wanita itu? Apa kau benar-benar menyukainya?"
Agatha langsung tertawa terbahak-bahak memdengar pertanyaan Jessica.
"Ke, kenapa?" Tanya Jessica yang binggung di mana letak lucunya.
"hahahaha, Ah, maaf."
Agatha berdiri dari posisi berlutut nya dan berjalan membuka gorden yang menutupi pintu balkon.
"Hah, aku? menyukainya?"
"Kau pasti bercanda. Apa kau lupa siapa aku? kekeke," Sambung Agatha.
Seketika aura yang dipancarkan oleh pria itu berubah. Perasaan bahagia berubah menjadi mencekam dengan cepat. Tangan Agatha mengepal dengan sangat kencang sampai terlihat beberapa uratnya di punggung tangannya.
Jessica jadi sedikit merinding melihatnya. Sudah lama ia tak merasakan aura mencekam seperti ini. Mungkin terakhir kali adalah sebelum meninggalnya pria itu.
"Setelah semua yang terjadi, takkan aku lupakan semua momen-momen itu. Semuanya, luka dan penghinaan itu terus aku kenang."
Agatha membuka pintu balkon membiarkan angin malam masuk ke dalam kamar.
"Kematian Eleanor bukan puncak kebahagian dalam balas dendamku. Sejak kapan balas dendam selesai dengan kematian yang mudah?" Agatha menjeda perkataannya.
__ADS_1
"Jika itu balas dendamku, setidaknya aku harus melihat kehancuran keluarga mereka. Biarlah pengecut itu melihat dari alam sana bagaimana aku menyiksa keluarga mereka."
Kata-kata ambisius Agatha membius suasana. Namun sebuah tangan perlahan-lahan memeluk pria itu dari belakang.
"Ah, sayang. Kenapa kau tak membicarakannya dari tadi?" Balas Jessica memeluk manja Agatha dari belakang.
"Hehehe, aku berencana menjadikan ini suprise untuk kalian berlima. Bukankah menarik melihat kehancuran musuh di depan mata kita?"
Kedua pasangan itu tertawa bersama.
Pria yang membelakangi Jessica itu, memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan sang terkasih. Perlahan-lahan tangan Agatha membelai pipi mulus Jessica, lalu kemudian turun secara halus ke bagian bibir.
Mata mereka saling bertukar pandangan, seperti sedang membaca pikiran satu sama lain. Satu detik jadi terasa sangat lambat, seperti sedang mengikuti tempo detak jantung keduanya.
Sesaat keberanian itu datang, Agatha tanpa berkata-kata langsung mencium bibir ranum nan mulus milik Jessica. Tidak ada pemberontakan, malah Jessica terlihat sudah menunggu momen tersebut. Wanita itu memejamkan matanya untuk menikmati ciuman itu. Dia memberikan kebebasan untuk Agatha bermain sepuasnya. Dengan semua pengalamannya, Agatha mulai bermain sedikit lebih jauh, yang awalnya hanya ciuman kini berubah jadi saling mengulum. Lidah mereka bertabrakan menciptakan bunyi indah yang tak bisa dihindari.
Gairah panas itu membuat tangan Agatha sedikit gatal. Dengan lancarnya tangannya bermain di dua belahan milik Jessica. Pelan-pelan Agatha menggerayangi tubuh seksi di hadapannya. Bahkan tangannya menelusuri sampai ke titik-titik terdalam yang bisa tangannya jangkau. Sontak Jessica melepas pangutannya dan memeluk erat Agatha saat tangan pria itu bermain di bagian sensitifnya.
"Ah, say,,,ang. Jangan bagian itu." Ungkap Jessica yang tak tahan saat tangan nakal itu bermain-main di bagian miliknya.
Namun bukannya berhenti, Agatha malah membenamkan wajahnya dalam dua puncak duniawi milik Jessica sembari memeluk pinggangnya.
"You're so hot, beb. Bisa kita bermain malam ini?"
Jessica tersenyum nakal.
"Sure."
__ADS_1