
Setelah perdebatan dengan Deka, dua hari berlalu tanpa ada sesuatu pun yang terjadi. Mungkin hanya Milla saja yang sedikit sibuk karena ia mencoba menghubungi beberapa orang kepercayaan ayahnya. Sementara Deka, masih tetap setia mengawasi gerak-gerik bawahanmya Agatha melalui anak buahnya.
Gara-gara perdebatan itu Milla menjaga jarak pada Deka. Dua hari ini mereka belum bertemu lagi meski berada dalam satu atap. Meski berkata Deka tak bersalah, Milla tetap merasa geram padanya. Alasannya sederhana, karena baru paman Agatha lah orang jauh yang mau membantu Milla sampai sejauh ini selain paman George dan Bachsmid.
Sebab Milla sudah berulang kali mencoba mencari bantuan, baik teman maupun orang terdekatnya yang punya koneksi, tapi semuanya mengacuhkannya. Seolah-oleh Milla sudah diberikan cap buronan yang tak boleh ditolong. Tak ada yang membantu. Bahkan perlahan-lahan semuanya pergi satu persatu dari sisinya. Jadi, wajar saja Milla sangat menghargai bantuan Agatha.
Pria itu bahkan sampai memerintahkan Valeene yang merupakan sekretarisnya untuk membantu Milla secara individu. Valeene selalu berada di dekatnya dua hari ini. Menolongnya untuk menghubungi orang-orang kepercayaan ayahnya. Dan persis pagi ini, Valeene datang ke kamar Milla.
"Nona, apa boleh saya masuk?" Tanya Valeene dari luar pintu kamar Milla.
"Tentu, masuklah. Pintunya tidak dikunci," Balas Milla yang sedang bersender di atas kasur. Rasanya seperti Milla sedang menunggu Valeene datang menemuinya.
__ADS_1
Valeene masuk ke dalam kamar Milla sendirian.
"Bagaimana kabarmu hari ini, Valeene?" Tanya Milla saat mendengar suara langkah mendekatinya.
"Baik seperti biasanya, nona. Anda sendiri bagaimana, nona? apa nona sudah sarapan? kalau belum biar saya panggilkan pelayan untuk membawakan sarapan anda kemari."
"Aku baik juga, Valeene. Tak perlu repot-repot memanggil pelayan, baru saja beberapa menit yang lalu aku sarapan di bawah. Oh, iya, boleh aku tahu perkembangan permintaanku, bagaimana? Apakah ada yang merespon positif?"
"mengenai hal itu, saya mohon maaf nyonya. Hasilnya nihil. Tidak ada satupun balasan sama seperti kemarin."
"Tapi saya membawakan berita lain dari tuan Agatha, nona." Sambung Valeene.
__ADS_1
Raut wajah Milla perlahan membaik. Terakhir kali ia bertemu Agatha adalah malam sebelum pamannya itu pergi dengan wanita bernama Jessica itu. Sisanya ia tak pernah mendengar kabarnya.
"Apa itu?" Tanya Milla antusias. Harapan Milla saat ini adalah paman Agatha mau menyokong dirinya. Bukan atas nama perusahaan ayahnya, melainkan dirinya sendiri. Setidaknya itulah yang di tawarkan pamannya tempo hari sebelum pesta di mulai.
"Tuan, mengajak anda makan malam untuk nanti malam. Katanya beliau ingin membahas tentang janji beliau lebih lanjut."
Sontak Milla tersenyum sumringah. Bahkan dia langsung beranjak dari kasur.
"Apa itu benar, Valeene?" Tanya Milla sambil meraba-raba sekitarnya berharap menemukan lawan bicaranya.
Valeene yang sadar akan hal itu mendekati Milla dan menggapai tanganya.
__ADS_1
"Benar, nona. Tadi pagi-pagi sekali tuan mengabarkan informasi ini pada saya. Beliau juga meminta anda untuk ikut saya ke salon untuk perawatan. Karena nanti malam akan hadir beberapa orang penting."
Milla mengenggam erat tangan Valeene. Akhirnya momen yang ia tunggu-tunggu datang.