Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
125. Mengadu


__ADS_3

Beberapa saat kemudian di tempat lain, seorang gadis berjalan cepat menuju ruang dapur. Dia melihat kakaknya tengah makan.


"Kak, mana mama?" Tanya Amel pada kakaknya.


Kakaknya yang tengah makan melirik ke arah sumber suara. Dia melihat ekspresi marah terpancar dalam wajah adiknya.


"Kalo gak salah tadi di ruang baca. Kenapa em-" Belum rampung ucapan Rafael, adiknya sudah pergi begitu saja. Hal itu membuat Rafael bertanya-tanya. Ada apa dengan adiknya itu.


Tapi karena dia masib ingin makan, Rafael membiarkan adiknya pergi begitu saja dan memilih untuk lanjut makan.


Amel segera pergi ke tempat yang kakaknya bilang tadi. Saat membuka pintu ruang baca, dia langsung menemukan orang yang dicari.


“mama!!” Panggil Amel berlari ke arah mamanya. Dia langsung memeluk mamanya.


“Duh, mel, pelan-pelan dong. Gak usah lari. Mama udah berumur, nanti pinggang mama encok kalo kamu lari kayak gitu.” Balas mamanya membalas pelukannya.


Amel tersenyum dan melepaskan pelukannya.


“Ma, mama tahu gak kabar kak Milla sekarang gimana?” Tanya Amel langsung to the point pada mamanya.


Raut wajah mamanya langsung berubah saat Amel menyebut nama Milla. Semuanya terlihat jelas. Dan Amel bisa pastikan kalau mamanya pasti tahu sesuatu.


“Hhmm, kenapa kamu tiba-tiba tanya tentang dia?” Tanya balik Karin menutup buku yang tadi ia baca lalu meletakkannya kembali ke dalam rak buku.


“Gak papa sih, ma. Cuman mau tahu aja. Soalnya tadi aku sempat ketemu dia di klinik D&M.” Jawab Amel memancing Karin agar mau berbicara jujur padanya.

__ADS_1


“Hah?! Serius kamu? Kamu ketemu di klinik D&M? Dia kerja di sana sekarang? Gak habis pikir mama sama anak itu. Berani sekali dia men-“


“Dia memesan kliinnik D&M buat satu hari ini penuh.” Potong Amel menjelaskan.


Karin langsung mematung mendengarnya.


“Kamu gak salah ngomong kan?” Tanya Karin memastikan kalau anaknya tidak berbohong.


“Beneran, ma. Kalau mama gak percaya, coba tanya saja sama teman-teman aku. Tadi saat aku mau perawatan di sana sama teman-teman, owner D&M mengusir kami. Dan malah melayani Milla layaknya tamu terhormat.” Amel masih merasa kesal dengan perlakuan Andreass tadi.


Karin terdiam. Tentunya ada yang salah di sini. Seharusnya Milla sudah tidak habis. Dia tidak punya harta lagi. Perusahaan atas nama Milla seharusnya akan bangkrut sebentar lagi karena kurangnya dana. Untuk makan saja seharusnya Milla bakal kesulitan.


“Ma, mama, kok, malah bengong sih?” Amel menyadarkan mamanya dari lamunan.


Karin tak menanggapi Amel. Dia malah merogoh sakunya mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


“….”


“….”


Amel yang melihat percakapan singkat mamanya merasa lega. Dia tahu siapa dan apa maksud mamanya menelpon orang itu. Tentunya itu adalah hal baik untuk dirinya.


“ya sudah, ma. Aku balik ke kamar. Aku Cuma mau kasih tahu itu aja.” Ucap Amel meninggalkan Karin di sana.


Karin yang ditinggal pergi putrinya memilih duduk di salah satu sofa dalam ruangan baca.

__ADS_1


“Sialan, apa benar yang dikatakan Amel barusan? Milla, benar-benar bisa hidup sebebas itu? Lalu, bagaimana dengan rencananya? Bukankah seharusnya semuanya berjalan lancar? Ah, aku memang benar-benar harus bertemu langsung dengan orang itu lagi.” Geram Karin menunggu orang yang tadi dia telpon.


Lima menit berlalu, akhirnya seorang pria datang menghampirinya.


“Maaf, jika lama, nyonya.” Ucap Bastian sesaat ia sampai di hadapan Karin.


“Duduk dulu, ada hal penting yang mau kubicarakan denganmu. Jangan lupa tutup pintunya.” Balas Karin yang langsung dituruti oleh Bastian. Setelah menutup pintu, dia duduk di sofa depan Karin.


“jadi, ada apa nyonya?” Tanya Bastian melihat raut wajah cemas dari Karin.


“Ini tentang Milla. Bagaimana kelanjutan rencana untuk gadis itu?” Tanya Karin menyelidiki. Bastian adalah orang kepercayaannya. Jadi, semua hal tentang pekerjaan pasti diserahkan kepadanya.


“Saya rasa semuanya sudah berjalan sebagaimana mestinya, nyonya.” Jawab Bastian. Sebenarnya dia tidak terlalu tahu bagaimana kelanjutan rencananya sampai hari ini.


“Amel tadi bertemu dengan Milla di klinik kecantikan. Dia bilang Milla di sana disambut layaknya tamu terhormat.”


Bastian langsung mendelik. Dia tak percaya hal itu terjadi.


“Saya rasa itu tid-“


“Aku percaya pada putriku.” Tegas Maya memotong ucapan Bastian. Meski hanya sekedar perkataan dari putrinya, tapi dia tetap akan mempercayainya. Setidaknya kalau rumor itu salah, tidak akan ada masalah.


Bastian terdiam seribu Bahasa.


“saya akan pastikan semuanya secara langsung, nyonya. Saya juga akan bertanya pada orang itu.” Ucap Bastian yang paham maksud Karin memanggilnya kemari.

__ADS_1


Karin mengangguk.


“Bagus. Kalau bisa, berikan aku informasi itu secepatnya. Kita harus menyingkirkannya secepatnya.”


__ADS_2