
"Di sini tuan," wanita itu membukakan pintu sebuah kamar untuk Deka.
Deka mengikuti arahan wanita itu dan masuk ke dalam kamar.
"acara akan dimulai 4 jam dari sekarang. Sekitar jam 8 malam nanti. Tuan besar sudah menyiapkan pakaian untuk anda."
Wanita itu masuk ke dalam kamar dan mengambil satu buah set pakaian formal.
"Bis--"
"Hoam, apa kita tidak bisa santai dulu?" Tanya Deka memotong ucapan wanita itu.
"Maksud anda apa tuan?"
"Haih, bisakah aku tahu namamu dulu?"
"Oh, iya, maafkan atas keteledoran saya. Perkenalkan nama saya Valeene. Saya sekretaris tuan besar Agatha."
"Valeene? Oke, valeene sebagai orang yang bertanggung jawab atas diriku hari ini, mari kita keluar sebentar."
"Maaf?"
"Masih tak paham?"
Valeene mengangguk.
"Aku lapar, aku butuh makanan."
__ADS_1
"Oh, jika anda berkenan, saya bisa ambilkan untuk anda."
"Aih, aku tak selera makan-makanan di sini. Melihat suasana di mansion ini membuatku mual."
"Kalau begitu, anda mau apa tuan? Biar saya keluar dan carikan untutk anda."
"tak perlu aku punya kaki. Biar aku cari sendiri."
"tunggu tuan," Valeene menahan tangan Deka yang hendak keluar kamar.
"Tuan Agatha tidak memperbolehkan anda kemana-mana."
"Kau kira aku tahanan? Aku orang bebas, aku tak butuh izin untuk keluar."
Valeene malah kebingungan.
"Saya mohon tuan. Tetaplah disini, setidaknya sampai acara di mulaii."
"bagaimana jika kau ikut aku saja? Seharusnya tak masalahkan? Bukannya perintah utama tuan mu itu untuk mengawasiku?"
Valeene terkejut.
"Bagai-"
"Sudahlah tidak usah bertele-tele. Ikut saja," Deka menarik tangan Valeene untuk ikut dengannya.
Tanpa ada perlawanan Valeene mengikuti Deka. Mereka berdua keluar dari mansion dan berjalan menjauh dari mansion.
__ADS_1
Deka menghentikan langkahnya di depan sebuah gerobak bakso yang tak jauh dari mansion.
"Kita makan ini." Ucap Deka selayaknya pasangan muda yang sedang berpacaran.
Deka memesan dua bakso untuk dirinya dan Valeene meski aslinya perempuan itu menolak dengan alasan tidak lapar. Selagi menunggu bakso di siapkan, valeene sibuk memerhatikan ponselnya.
Sebenarnya Deka tidak begitu lapar. Alasan lain kenapa ia makan di luar adalah untuk melihat kondisi sekitar mansion itu. Setidaknya jika ada beberapa kejadian tak di inginkan ia tahu jalan keluarnya.
beberapa menit menunggu akhirnya pesanan mereka datang. Bakso yang ada di dalam mangkok terlihat begitu menggiurkan. Aroma dagingnya menyeruak sampai ke hidung Deka dan Valeene. Tanpa banyak komentar, Valeene langsung mencicipi mangkok bakso miliknya.
"Waduh, kayaknya tadi ada yang bilang kenyang." Sindir Deka melihat Valeene lebih antusias menyantap bakso dibanding dirinya.
"Eh, ak-aku biasa saja." Balas Valeene tanpa bisa menyembunyikan rasa paniknya karena ketahuan tertarik pada bakso si depannya.
"Sudah, aku tak mempermasalahkannya. Makan saja." Kali ini giliran Deka yang mencicipi bakso di mangkoknya.
Deka cukup puas dengan cita rasa bakso yang ia pesan. Rasanya mengunggungah lidah tak menipu hidung yang mencium aromanya. Deka langsung menyantap bakso itu tak lupa dengan lontong yang tersedia. Tapi Valeene yang masih malu-malu kucing untuk melanjutkan makannya melihat Deka makan dengan sebuah pertanyaaan.
"Anda tidak menambahkan kecap atau sambal ke dalam mangkok anda?"Heran Valeene melihat cara Deka memakan baksonya.
"Tentu. Cara seperti ini lebih nikmat."
Valeene geleng-geleng kepala.
"Hello,,,, cara makan bakso seperti pa itu? Apa ada orang yang makan bakso tanpa tambahan kecap atau sambal? apa enaknya hei?" Batin Valeene.
"Dasar pria aneh. di mana-mana, kalo makan bakso ya di campur keca atau sambal. Itu baru nikmat."
__ADS_1
Deka tersenyum tipis mendengar penuturan Valeene barusan.
"Woah, ku kira kau robot. Ternyata kau bisa mencaci orang juga ya," Ledek Deka dengan santainya tanpa menatap ke arah Valeene. Yang di ledek langsung memasang wajah cemberut.