Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
124. Adik Tiri


__ADS_3

“mari nona, kita masuk ke dalam.” Ajak Maya mengenggam tangan Milla untuk turun dari mobil.


“argh,,, kenapa pas sekali sampainya. Padahal kalau waktunya lebih lama, mungkin aku bisa dapat informasi lebih banyak tentang Deka.” Batin Milla sedikit kesal. Meski pada akhrinya dia tetap mengikuti Maya. Dia mungkin bisa mencari tahu tentang deka lain waktu. Sekarang lebih baik dia menikmati klinik yang sudah deka siapkan untuknya. Sudah lama juga dia tidak pergi ke tempat seperti ini. 


Saat baru masuk ke dalam lobi, Milla dan Maya langsung di sambut dengan suara keributan. 


“Hei, hei, apa kamu gak tahu aku anak siapa?” tanya seorang gadis pada salah satu karyawan menantangnya.


“Maaf, nona. Untuk klinik kami sudah direservasi. Jadwal pelayanan untuk umum akan kami lakukan esok hari. Itu semua sudah kami infokan melalui laman situs resmi kami.” Jawab karyawan itu dengan sopan. 


Namun hal itu malah membuat gadis lawan bicaranya semakin naik pitam.  


“Hah, kalian ingin menantangku ya?! Jika aku menelpon ibuku, jangan harap kalian akan lolos.” Ancam gadis lawan bicaranya itu. Sementara beberapa teman dibelakangnya malah panik.


“Mel, mending udah deh, kita ke sini lagi besok.” Ucap temannya yang malu. Meski di sana tidak ada orang lain selain para karyawan, tetap saja mereka merasa malu. 


“Iya, mel. Mending kita balik aja. Kamu tahu kan ini klinik D&M, loh. Gak baik buat ngelawan mereka.” Temannya yang lain memberikan saran yang sama. 


Tapi yang diberi saran malah semakin marah. Mana mungkin dia membiarkan hal ini begitu saja. Dia punya harta dan kuasa. Klinik sekecil ini bukan tandingannya.


“Tidak bisakah kalian diam dan mendukungku?” Protes Amel mengeluarkan ponselnya. Dia mencari kontak ibunya. 


Bertepatan dengan hal itu, Milla dan Maya mendekat ke arah mereka. Namun baru beberapa langkah berjalan, seseorang berpakaian rapih turun dari lift. Pria itu langsung berjalan ke arah mereka. Amel yang melihat itu tak jadi memanggil ibunya. 


“Heh, lihatkan, mereka sampai memanggil ownernya untuk mengatasi masalah ini. Ah, indahnya hidup ini.” Batin Amel melihat pria itu mendekatinya. 


Tapi ternyata dugaan Amel salah. Pria itu malah melewatinya. 


“Selamat datang, Nona Milla. Perkenalkan nama saya Andreass. Owner klinik ini. Saya sungguh senang nona dengan senang hati datang kemari.” Sapa Andreass sedikit membungkuk sebagai tanda hormatnya. 

__ADS_1


Amel yang melihat semua itu sungguh terkejut. 


“Kenapa tuan Andreass menyapa wanita itu begitu baik? Dan kenapa pula wanita itu ada di sini?” Batin Milla tak menyangka dengan apa yang dilihatnya.


“Salam kenal juga, Andreass. Malahan aku yang bersyukur bisa mampir ke tempat seterkenal ini.” Balas Milla yang merasa bahwa dirinya lah yang seharusnya begitu bersyukur bukan Andreass. 


“Ah, bagaimana kalau kita langsung masuk ke dalam, nona. Sesuai permintaan tuan Erato, kami sudah menyiapkan klinik kami hari ini untuk anda. Mari saya antar anda ke dalam, nona.” Andreass mempersilahkan Milla untuk mengikutinya. 


Milla mengangguk. Dengan bantuan Maya, dia mengikuti Andreass masuk ke dalam klinik. Para karyawan yang ada di sana langsung menunduk seketika mereka lewat. 


“Eh, amel, bukannya itu kakakmu?” Tanya salah satu temannya saat mengenali wajah Milla. 


“Eh, kamu benar. Pantas saja wajah wanita itu tak asing. Kurasa itu memang benar kakakmu, Milla.” Timpal yang lain mengenali wajah kakaknya Amel.


“Hebat sekali kakakmu. Bahkan orang seterkenal Andreass sampai menunduk hanya untuk menyapanya.” Balas yang lainnya memuji kejadian barusan. 


Amel berjalan menghentikan rombongan Milla. 


“Hei, aku duluan yang datang kemari. Jadi, seharusnya aku yang dilayani duluan. Bukannya dia,” Bentak Amel tak peduli dengan siapa dia berhadapan. 


Andreass melirik Amel dengan tatapan muak. 


“Maaf, saya harus melayani tamu special hari ini. Jadi, tolong kembali besok.” Balas Andreass mengusir Amel secara baik-baik. 


Teman-teman Amel yang melihat itu langsung mendekati temannya. 


“Ma-maaf tuan, kami ini temannya. Maafkan teman kami,” ucap salah satu di antara mereka sementara yang lainnya menahan Amel agar tidak mengamuk lebih jauh lagi. Mereka tahu Amel punya kuasa yang kuat. Tapi melakukan keributan dengan orang seperti Andreass bukanlah hal yang bagus. 


“Bawa teman kalian pergi. Jika kalian tetap ingin melakukan perawatan, datanglah besok. Khusus untuk kalian semua, akan kami berikan pelayanan secara gratis.” Ucap Andreass agar semua gadis itu mau pergi dengan tenang. 

__ADS_1


“gak, aku maunya sekarang!” Tolak Amel mentah-mentah. Hal itu membuat semua temannya panik. Mereka tadi sangat bersyukur saat Andreass mengatakan akan memberikan mereka pelayanan gratis. Tapi berubah saat Amel menolaknya.  


Andreass menatap ke arah Amel dengan tatapan sinis. Dia tak suka gadis itu ada di sana. Dia berpikir harus memanggil security untuk hal ini.


“Ah, tuan Andreass. Maafkan teman kami, kurasa dia hanya ingin menyapa kakaknya saja.” Alasan yang lainnya agar tidak kehilangan kesempatan perawatan gratis. 


“Hah, apa kau bilang? Aku mau bertemu dengan gadis buta itu?! Mana sudi aku!” Amel tak suka saat temannya berkata dia ingin menemui Milla. 


“Mel, sudahlah. Lebih baik kau tenang dulu, besok kita kembali ke sini lagi.” Ajak teman-teman Amel agar temannya itu mau ikut mereka pulang. Tapi Amel tetap kekeh ingin di sana. 


“security!” Teriak Andreass membuat semua teman-teman Amel panik. Sepertinya tidak hanya akan kehilangan kesempatan perawatan gratis, mereka juga akan kehilangan kesempatan untuk masuk ke klinik ini lagi. 


Beberapa orang berbadan besar datang menghampiri mereka. 


“Usir mereka semua dari sini. Dan jangan pernah biarkan mereka masuk kemari.” Titah Andreass pada security. 


Para security langsung menjalankan tugasnya. Dan Amel masih terus memberontak tak mau pulang. 


“Dasar ******! Lihat saja kamu, aku akan katakan semua perbuatanmu ke mama.” Teriak Amel saat tengah diseret keluar Bersama teman-temannya oleh para security. 


“ah, nona Milla, maafkan aku atas ketidaknyamanannya. Sekarang sudah beres, mari kita langsung masuk ke dalam.” Ajak Andreass tak memusingkan urusan Amel. 


Maya kembali menuntun Milla masuk ke dalam. Tapi saat itu juga Maya merasa Milla seperti berbeda. Saat tadi mendengar ucapan terakhir Amel, tangan Milla terasa sedikit bergetar. 


“Nona, apa anda baik-baik saja.” Tanya Maya memastikan. 


“Tentu saja.” Jawab Milla cepat menyembunyikan rasa takutnya. 


“Itu Amel, kan? Aku yakin suara itu miliknya. Kalau benar, apa berarti dia akan bilang semuanya ke Karin?” batin Milla ketakutan saat menyebut nama Karin.

__ADS_1


__ADS_2