
matahari mulai naik perlahan menandakan bahwa pagi telah berakhir. Deka dan Milla sudah berangkat ke kantor beberapa menit yang lalu. Sementara El, nampak baru bangun tidur dan baru ikut sarapan pagi.
"Mana thata, Ma?" Tanya El dengan wajah masih baru bangun tidur.
"Baru aja berangkat sama Deka.". Eny menuangkan nasi ke dalam piring anaknya itu.
"Hah?! berangkat kemana, ma?" Seketika itu juga El terkejut. Dia yang awalnya masih ngatuk-ngantuk Langsung sadar seratus persen.
"Ke perusahaannya Milla. Katanya ada urusan di sana. Kamu mau lauk apa?" Tanya Eny hendak mengambilkan lauk untuk anaknya.
"Aih,,," El malah mendecih kesal. Hari ini dia sudah berencana mengajak Milla jalan-jalan lagi. Bahkan dia sudah memesan tempat nyaman untuk mereka berdua dipuncak.
Eny yang melihat tingkah anaknya keheranan.
"memangnya kenapa, kak?"
"Itu, ma. Aku udah terlanjur booking tempat di puncak buat main bareng Milla. Mama tahu sendirikan kalau Milla itu suka banget sama gunung." El merasa frustasi. Salahnya kemarin tidak langsung mengajak Milla dan hanya memberikan kode saja.
"Kamu udah ngajak belom kemarin?" Tanya Eny penuh selidik.
"Belum sih, ma. Aku niatnya mau bikin suprise gitu buat Milla."
__ADS_1
Eny langsung geleng-geleng mendengarnya.
"Salah kamu kalo begitu. Tapi kalo udah terlanjur booking, pergi aja sama temen kamu. Buat Milla bisa lain kali sekalian kita sekeluarga." Eny mencoba mencari jalan tengah untuk putranya itu.
Namun bagi El itu bukan jalan tengah. Rencananya hari adalah untuk menjalin kedekatan bersama Milla. Jika sekeluarga ikut, maka kemungkinan Deka juga ikut. El tak mau itu terjadi.
Melihat anaknya yang hanya mematung membuat Eny menyimpulkan hal lain.
"Kak, kamu harus inget ya, Milla itu udah punya suami. Mama sama papa udah berapa kali ingetin kamu. Ikhlaskan, kamu masih bisa dapet yang lebih baik." Eny memberikan nasihat pada putranya. Dia tahu kalau El menyukai Milla. Bahkan alasan anaknya itu menuntut ilmu sampai keluar negeri juga karena Milla. Putranya itu mau menikahi Milla dengan keadaan yang sepadan. Berilmu dan berkuasa.
Tapi keadaan berkata lain. Milla memilih jalannya sendiri. Baik Bachsmid maupun Eny tak bisa mencegahnya. Takdir sudah berkata seperti ini, mereka harus menerimanya.
El malah berdiri dan berjalan pergi dari meja makan.
"Udah keyang, ma. Aku mau main dulu."
Eny tak bisa berbuat banyak. Anaknya sudah besar. Dia punya ego dan pikirannya sendiri. Dia sadar semakin banyak tekanan, semakin besar keinginan anaknya itu untuk melawan. Sekarang Eny merasa hanya perlu bersabar dan coba langkah lain agar anaknya itu tidak menganggu pernikahan Milla dan Deka.
Sementara itu, di dalam mobil, Deka sedang menyetir menuju perusahaan Milla. Tadi sebelum berangkat Eny meminjamkan keduanya mobil untuk transportasi. Sebenarnya dia ingin meminjamkan supir juga, tapi langsung ditolak oleh Deka. Mereka bukan diplomat atau petinggi negara yang harus di supiri. Jadi, Deka memilih membawa sendiri mobilnya.
"Mari kita sarapan sebentar," Ucap Deka menepikan mobilnya di salah satu warung makan.
__ADS_1
"Ye,,, kalau tau gitu mending makan dirumah aja tadi. Tante Eny udah masak juga." Kesal Milla dalam hati. Sebelum mereka pergi tentunya Eny menawarkan mereka makan terlebih dahulu. Milla tentunya ingin makan, tapi karena Deka berkata tidak maka dia tak bisa berbuat banyak.
Deka menuntun Milla masuk ke dalam.
"Ini tempat apa?" Tanya Milla karena saat mau masuk, dia mendengar keramaian yang tak biasa.
Sekarang adalah jamnya orang sarapan, jadi wajar kalau warung itu cukup ramai. Bahkan Deka dan Milla harus mengantri sebentar.
"Kita di warteg." Jawab Deka sembari sabar mengantri.
Ini kali kedua Milla menginjakkan kakinya ke dalam warteg.
"Eh, kita gak bakal makan itu lagi kan?" Panik Milla mengingat kenangan pertamanya memakan ati.
"Kau mau ati lagi?"
"Gak, jangan lagi."
"Kenapa? bukannya kamu sangat menikmatinya terakhir kali?" Deka cengengesan saat mengingat bagaimana raut wajah Milla saat tahu kalau yang dimakannya adalah ati.
"Aku hanya terpaksa memakannya karena tidak ada yang lain." Milla mencari alasan yang bagus. Sebenarnya Milla menikmati makanan itu, hanya saja otaknya tidak mau bersahabat saat makanan itu masuk ke dalam perutnya. Bukankah lebih baik menghindarinya daripada terjadi bentrok batin.
__ADS_1
"Tenanglah, kamu akan aku pilihkan seafood saja. Kamu suka seafood kan?"
"Ah itu lebih baik." Bagi Milla, hidangan laut merupakan hidangan tiada tandingannya.