
"Iya, aku masih di tempat. Milla, Bolehkah aku bertanya padamu?" Ungkap Deka yang ingin memastikan sesuatu.
Milla sedikit heran mendengar pekataan Deka.
"Hhhmm, tentu" Jawab Milla mempersilahkan Deka bertanya.
"Boleh aku tahu, kapan pertama kali kamu bertemu dengan si Agatha ini?'
Mendengar hal itu Milla tak langsung menjawab pertanyaan itu. Dia nampak berpikir sebentar.
"Kalau kau bertanya kapan, aku sudah agak lupa tapi tempo hari paman memberitahuku kalau kami bertemu pertama kali sekitar 10 tahun yang lalu. Saat aku dan ayahku sedang merayakan hut perusahaan ayah."
"Hhmm, apakah dia bilang kalau ayahmu dan dirinya dekat?" timpal Deka dengan pertanyaan lagi.
"yup, betul sekali. Saat berita kematian ayahku tersebar, paman bahkan menyempatkan diri untuk datang menghadiri pemakaman ayah."
Deka mengernyitkan dahi. Seperti ada yang salah dalam cerita Milla barusan. Kemungkinan terbesar yang bisa Deka pikirkan adalah pria bernama Agatha ini punya banyak topeng.
__ADS_1
"Lalu, berarti sudah sering bertemu dengannya?" tanya Deka kembali sembari menggorek informasi sebanyak mungkin agar dia bisa membuktikan fakta yang benar dan salah.
"Tidak begitu sering. Paman adalah orang yang sibuk. Begitu juga dengan ayahku, jadi kita jarang sekali bertemu secara langsung. Tapi ayahku pernah beberapa kali membicarakannya." Milla menghentikan ucapannya dan menghela nafas pelan. Setiap kali mengingat momen tentang ayahnya membuat wanita itu ingin bersedih. Kenangan-kenangan masa itu sangat berarti baginya.
"Ekhm, kau tak perlu melanjutkannya kalau itu berat. Aku juga takkan menanyakan atau membahas tentang itu lagi." Kata Deka yang tak tega melihat Milla nampak tiba-tiba bersedih. Deka merasa wanita itu pasti sedang mengingat kenangannya tentang mendiang kedua orang tuanya.
Milla tersenyum mendengar perkataan Deka. Kedua tangan Milla mencubit pipinya sendiri.
"tak masalah. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu. Toh, aku sendiri yang melanggar kesepakatan kita dengan menyeretmu ke dalam maslah ku ini."
Kesepakatan yang dibahas Milla ini adalah kesepakatan keduanya yang sama--sama berjanji untuk tidak menganggu masalah pribadi. Namun kini justru Milla sendiri yang membawa Deka ikut dalam arus masalah hidupnya.
Deka menyimak cerita Milla dengan seksama. Cerita ini akan menjadi penting agar ia bisa menentukan apakah Agatha dapat di percaya atau tidak.
"lalu bagaimana tanggapan Agatha tentang kerja sama itu? Apa dia menerimanya?"
"tentu. Semua kerja sama yang ayah ajukan di terima semua dan semuanya berjalan mulus."
__ADS_1
Deka Menggangguk memahami cerita Milla.
"lalu, jika itu kamu, menurutmu apakah Agatha ini dapat di percaya?" tanya Deka tentang poin utama dari semuanya.
"kamu meragukan paman?"
Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Deka menghela nafas pelan.
"Jika kamu minta jawaban jujurku, iya. Aku meragukan paman mu itu. Bahkan lebih meragukan dirinya daripada paman George." Jawab Deka sekenanya.
"Kenapa? Bukannya dia selalu berbuat baik kepadamu? Apa ada kelakuannya yang tidak mengenakkan dirimu? Seharusnya dia memberlakukanmu baik-baik, kan?"
Mendengar tanggapan Milla membuat Deka berspekulasi kalau Milla sudah memberikan kepercayaan sepenuhnya pada pamannya itu. Meski itu hanya pertanyaan biasa, dari nada yang Deka tangkap, Milla nampak tak suka saat dirinya membandingkan antara George dan Agatha yang terkesan Agatha lebih buruk dari George.
"Baik. Dia baik sekali kepadaku. Tapi, bolehkah aku memberikan pendapatku?"
Milla mengganguk sebagai jawaban.
__ADS_1
"jangan terlalu percaya pada Agatha. Dia bukan orang yang seperti kamu bayangkan."