Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
36. Tertipu


__ADS_3

Di sebuah mall, tepatnya di dalam cafe, Milla dan Deka sedang duduk menikmati minuman mereka.


"Ini benar cafe Lquins, kan?" Tanya Milla.


"Iya."


"Hhm, kenapa sepi sekali?"


"Karena tidak ada pelanggan lain selain kita berdua."


jawaban polos Deka membuat Milla membuang nafas kasar. jawaban tersebut tidak menjawab pertanyaan Milla. Namun Deka bersikap acuh, ia melanjutkan menyeruput kopi pesanannya.


Tak berselang lama, beberapa orang berpakaian casual masuk ke dalam cafe tersebut. Deka memperhatikan pergerakan orang-orang yang baru datang itu. Tidak ada yang mencurigakan. Sepertinya mereka memang pelanggan biasa.


"Deka,,," panggil Milla membuyarkan pandangan Deka dari memeperhatikan orang-orang yang masuk.


"iya,"


"Hhmm, aku mau ke toilet. Bisa antar aku sebentar?"


"Oh, tentu."

__ADS_1


Deka langsung berdiri dan meraih tangan Milla untuk menuntunnya ke toilet. Tapi sayangnya Deka tidak melihat petunjuk tentang toilet di dalam cafe itu. Alhasil Deka bertanya kepada staf cafe di sana. Setelah mendapat informasi dari staf, Deka langsung menuntun Milla ke toilet.


Sementara Milla ke toilet, Deka menunggu di depan pintu toilet.


"Fi,,,Fiu,,," Deka bersiul pelan sembari menunggu Milla.


Di saat yang bersamaan, dari kejauhan Deka melihat dua pria lagi masuk ke dalam cafe. Kali ini Deka merasa ada yang berbeda dari kedua pria itu. Aura dan raut wajah mereka nampak berbeda dari pengunjung sebelumnya. Saat itu juga Deka memiliki perasaan yang kurang enak tentang kedua pria tersebut.


Deka mengetuk pintu toilet.


"Ya?" Sahut Milla dari dalam toilet.


ceklek,,, pintu toilet terbuka. Milla nampaknya sudah selesai dengan urusannya di toilet. Melihat itu, Deka refleks merangkul Milla di samping seperti seorang sahabat karib.


"Aaa,,, apa-apaan kau ini!" Ucap Milla terkejut.


"Hushttt,,,,, jangan berisik, aku melihat ada dua orang mencurigakan masuk ke dalam cafe ini." Jawab Deka sembari mengiring Milla dalam posisi yang sama.


"Eh? siapa?"


"Entahlah. Yang jelas raut wajah mereka sangat tidak bersahabat."

__ADS_1


Deka mempercepat langkahnya diikuti oleh Milla di sampingnya. Mereka harus cepat keluar dari sini mumpung kedua orang itu masih sibuk dengan waiters.


Keberuntungan menghampiri Deka dan Milla. segerombolan remaja masuk ke dalam cafe berpapasan dengan Deka dan Milla yang hendak keluar. Dengan keramaian ini kedua pria itu kemungkinan besar tidak akan me-notice mereka berdua.


Dan benar saja, mereka berdua berhasil keluar dari cafe tanpa ketahuan dengan memanfaatkan keramaian barusan. Meski berhasil keluar, Deka tetap memilih untuk berjalan menjauh. Setelah berjalan cukup jauh dari cafe, barulah Deka berhenti.


Milla terlihat sangat kelelahan. Terlihat dari keringat yang mengalir di pelipisnya. Suara nafas Milla juga terdengar setengah--setengah. Melihat hal itu, Deka menuntun Milla untuk duduk di salah satu bangku yang tak jauh dari sana.


"Huh, apa kau yakin tadi orang jahat yang mencariku? siapa tahu tadi itu orang suruhan pamanku."


Deka binggung harus menjawab apa. Sebab semua yang ia rasakan tidak semudah itu untuk diungkapkan. Dia sudah berpengalaman berurusan dengan hal ini. Dan saat instingnya mengatakan demikian, berarti hal itu benar. Meski hal itu terkesan hanyalah hipotesisi belaka.


"Jika mereka orang suruhan pamanmu, seharusnya ia tak perlu bertanya pada wairters di sana. Dia seharusnya langsung menghubungi nomer yang tadi menghubunginya." jawab Deka mengungkapkan fakta kejanggalan yang terlihat.


Baru saja Deka berasumsi demikian, ponsel yang ia bawa kemudian berbunyi. Deka menyerahkan ponsel itu pada Milla.


Milla mengambil ponsel itu dan berbicara pada orang yang ada di telpon. Hanya sepatah dua patah kata saja yang terdengar. Setelahnya langsung dimatikan begitu saja.


Milla menghebuskan nafas panjang setelah panggilan itu diakhiri.


"Kau benar, orang-orang tadi bukan suruhan pamanku. Dia ternyata tidak bisa datang tadi karena ada urusan mendadak." Ucap Milla yang hilang harapan.

__ADS_1


__ADS_2