Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
12. Mansion


__ADS_3

"Di sini tempatnya." Terang Albert pada Deka.


Albert segera turun dari mobil dan membuka kan pintu mobil untuk Milla. Bagian itu harus jadi bagian Deka, tapi karena Deka sudah tahu peraturan mereka adalah orang asing, Deka tak peduli lagi akan hal itu.


Deka keluar dari mobil dan melihat suasana mansion itu.


"Untuk perusahaan yang kabarnya diambang kebangkrutan, cukup hebat masih mempertahankan mansion sebesar ini." Batin Deka.


Deka sudah tahu gambaran kasar tentang kondisi perusahaan Milla saat ini. Dan masih bisa mempertahankan mansion sebesar ini rasanya cukup hebat. Berarti perusahaan Milla masih punya harapan. Tentunya harapan itu ada pada pamannya Deka.


Mereka disambut oleh seorang pelayan wanita. Pelayan wanita itu menggantikan Albert sebagai penuntun jalan.


"Silahkan lewat sini," Ucap Albert pada Deka.

__ADS_1


Milla dan Deka berpisah di sana. Deka mengekori Albert selagi mereka berjalan menyusuri mansion yang besar itu. Albert memberikan penjelasan mengenai tata letak ruangan mansion itu. Mulai dari dapur sampai kamar-kamar yang bisa Deka tinggali.


"Nah, tuan. Di sini kamar anda." Albert membuka sebuah kamar yang akan ditinggali oleh Deka selama di sini.


Kamar itu nampak cukup besar dan mewah. Seperti sebuah kamar utama di mansion ini. Meski tata letaknya berada di ujung mansion.


"Cih, rasanya aku benar-benar tidak dibutuhkan di sini. Kamar ini terpisah dari ruangan yang lain." Geram Deka dalam batin.


"Tidak, cukup. Kau boleh pergi."


Albert mengangguk dan langsung mengundurkan diri dari kamar Deka.


Sepeninggal Albert, Deka mengamati setiap sudut kamar itu.

__ADS_1


"Yah, meski diujung, setidaknya kamar ini sangat baik." Deka langsung lompat ke arah kasur dan tak lama dirinya mulai terlelap.


Sementara itu, Milla sudah di kamarnya bersama dengan pelayan wanita yang tadi membantunya.


"Terimakasih, Nana. Aku sudah bisa sendiri," Milla berjalan pelan menuju kasur. Meski ia sadar ia tak bisa berbuat banyak saat kondisi buta seperti ini, tapi ia tetap merasa tak enak jika terus-terusan meminta pertolongan orang lain.


Dia merasa beruntung memiliki orang-orang baik di sisinya, seperti Albert dan Nana padahal keluarga besarnya saja sudah tak ada yang menerimanya lagi. Kedua orang tuanya bercerai saat ia masih bayi sehingga harus ikut dengan ayahnya. Tapi setelah ayahnya meninggal, bertepatan dengan kondisi matanya yang buta, dirinya sudah memiliki tidak keluarga lagi.


Kecelakaan mobil yang menewaskan ayahnya itu terjadi 6 bulan yang lalu. Kecelakaan itu juga yang berhasil merenggut penglihatan Milla karena saat itu dia juga berada di mobil yang sama dengan ayahnya.


Pada awalnya Milla sangat sulit menerima takdirnya ini. Berulang kali ia mempertanyakan pada tuhan kenapa ia seperti ini. Tapi, hanya rasa frustasi saja yang ia dapatkan. Selain kehilangan ayah dan penglihatan, ia juga harus siap-siap untuk kehilangan perusahaan ayahnya. Sebab setelah ayahnya tiada, musuh-musuh ayahnya mulai melancarkan serangan licik untuk menghancurkan bisnis ayahnya. Dan Milla tidak bisa berbuat banyak tentang hal itu.


Oleh karena itu, ia mulai memikirkan cara agar dapat bertahan meski ia harus mengorbankan dirinya sendiri. Dan cara yang bisa ia pikirkan hanya ini, menikahi anak dari keluarga George. Walaupun tak menikahi anaknya George secara langsung, tetap saja ia akan mendapatkan bantuan dari orang itu. Setidaknya dia masih bisa selamat untuk saat ini.

__ADS_1


__ADS_2