Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
81. Percakapan Tidak enak


__ADS_3

Makan malam selesai dengan beberapa dialog kekeluargaan yang hangat. Meski El selalu bersikap murung, dia tetap bersikap tidak ada apa-apa saat ditanya. Bahkan sesekali El meloktarkan beberapa lelucon sebagai gunyonan untuk Milla dan semua yang ada di meja makan.


Saat makanan di setiap semua piring sudah habis, Eny dan Bachsmid langsung pamit masuk ke dalam kamar. Besok adalah hari kerja, Bachsmid harus bangun lebih awal. Dia berencana membantu Milla dikantornya besok pagi. Sementara itu para pembantu mulai membersihkan meja makan. Dan di meja makan itu masih ada Milla dan El yang masih asik bercengkrama serta Deka yang hanya menyimak percakapan.


"Hahahaha, kakak masih ingat aja kejadian itu." Milla dan El sedang bernostalgia tentang aib masa kecil keduanya.


"Jelas, dong. Itu kan, momen epik seumur hidup, hahaha," Meski dapat tertawa, hati El menyembunyikan rasa sakit untuk dirinya sendiri.


Sementara itu, Deka hanya menyimak percakapan keduanya tanpa menyela. Meski hanya menjadi patung di sana, Deka tidak mempermasalahkan hal itu. Baginya senyum yang Milla keluarkan saat ini begitu tulus. Dia tak menyangka Milla dapat mengeluarkan senyum semanis itu. Oleh karena itu, dia tidak marah atau cemburu dengan El seperti saat pertama kali mereka bertemu. Deka bahkan ikut tersenyum mendengar beberapa hal konyol yang Milla dan El ceritakan.


Namun tentunya berbeda dari sudut pandang El. Baginya Deka malah seperti tembok penganggu antara dirinya dan Milla.


"Oh, iya, kalau tidak salah namamu Deka, kan?" El bertanya ke arah Deka kali ini.

__ADS_1


"Ya, benar." Jawab Deka tanpa memandang ke arah El. Sedari tadi pandangannya hanya ke arah Milla, tanpa pernah menoleh ke arah lain.


"Cih,," El berdecih kesal. Dia malah semakin kesal melihat Deka.


"Apa pekerjaanmu?" Tanya El dengan nada kurang bersahabat.


"Hhmm, untuk apa kau tahu?" Tanya Balik Deka yang merasa tak perlu menjawab pertanyaan El.


"Hei, hei, tentu aku perlu tahu. Oh, apa jangan-jangan kau hanya pengangguran yang suka minum dan berjudi? Kudengar bahkan kau pernah dipenjara." El sudah mulai tersentil emosinya. Dia tak suka Deka dekat-dekat dengan Milla.


"Terus? Jika itu benar, apa ada masalah?"


Mendengar jawaban Deka malah membuat El semakin naik pitam. Jika saja tidak ada Milla di sana, dia sudah pasti langsung melompat kehadapan Deka dan menghajar pria itu.

__ADS_1


"Cih, jika itu benar, berarti kau benar-benar seperti rumornya. Dasar sampah masyarakat."


"Kak!" Kini Milla langsung angkat suara untuk membela Deka. Pria yang dari tadi disebelahnya langsung cekikikan melihat Milla membelanya. "Apaan sih maksud kakak barusan."


"Loh, Tha, aku cuman ngomongin fakta aja." El masih tidak terima dengan hadirnya Deka di sisi Milla. Terlebih dia terprovokasi melihat tawa Deka saat Milla membelanya. "Dia itu gak pantes buat kamu, tha. Orang sepertinya itu cuman penganggu aja!"


"Kak!" Kali ini Milla berteriak cukup kencang bahkan membuat kedua pria yang di dekatnya langsung terperanjat saking kagetnya. Milla berdiri setelah berteriak seperti itu. "Lebih baik kakak sesali ucapan kakak barusan. Aku mau balik ke kamar. Moodku langsung hilang,"


Milla berbalik dan berjalan menjauh dari meja makan.


"Biar aku antar," Ucap Deka mengikuti Milla. Sebelum beranjak menjauh dari meja makan, Deka berbalik ke arah El dan mengedipkan salah satu matanya kepada El.


Sontak hal itu membuat El semakin geram. Tangannya mengepal kecang. Emosinya seperti sudah ada di penghujung. Dia tak menyangka kalau Milla bakal membela pria itu. Jika itu dulu, pasti Milla akan lebih percaya ucapannya dari pada orang lain.

__ADS_1


"Sial! Sialan, awas aja kamu, Deka! Milla gak akan kemana-mana! Dia itu punyaku! Baik itu dulu maupun nanti!" Geram El yang sudah digelapkan oleh emosi.


__ADS_2