
"Kalian berdua ikut aku masuk ke dalam. Kau tunggu di sini." Deka menyuruh orang yang membawa mobil tadi untuk berjaga di luar.
"Misi kita adalah membawa Milla keluar dari sana dengan selamat. karena kita masih dalam praduga keadaan di dalam sana, usahakan jangan membunuh. Tapi kalau ada yang menghalangi, jangan kasih ampun. Unit 1 akan datang tepat saat kita masuk ke dalam." Intruksi Deka pada bawahannya.
Intruksi itu di angguki oleh ketiga bawahannya itu. Mereka berempat sudah siap menyerbu. Dua bawahan Deka yang akan ikut masuk ke dalam membawa satu buah pistol semi otomatis tambahan peredam sama seperti yang Deka bawa. Bedanya, ketiga pria itu memakai pakaian rapih serba hitam berbeda dengan Deka yang hanya menggunakan kaos saja.
Mobil yang ditumpangi Deka akhirnya tiba di depan hotel yang Milla singgahi.
"Ayo!" Ajak Deka pada dua orang bawahannya.
Keiganya keluar dari mobil berjalan cepat masuk ke dalam hotel. Mereka menyembunyikan pistol ke belakang celana agar tak terlalu mencolok. Meski sudah hampir dinetralkan oleh kode 1 dari deka, masih ada beberapa orang yang terlihat melintas di depan area hotel.
Di lobi hotel, seorang satpam yang berjaga melihat Deka dan dua orang di depannya mendekat. Satpam itu dengan sigap mendekat ke arah ketiganya dengan maksud menyuruh mereka untuk menjauh. Sebab atasannya menyuruhnya untuk membubarkan orang-orang mendekati hotel beberapa jam yang akan datang. Namun usaha satpam itu sia-sia. Dengan sangat cepat satu bawahan Deka maju ke hadapannya dan langsung menyerang titik vital si satpam membuatnya langsung terkapar di lantai.
Tak menghentikan tempo, satu lagi bawahan Deka berlari cepat ke arah meja resepsionis. Dia melompati meja resepsionis langsung melumpuhkan dua orang yang berjaga di sana. Dalam beberapa Detik lantai satu sudah clear oleh kedua bawahan Deka itu. Mungkin karena kondisi sudah malam atau musuh terlalu meremehkan Deka, tidak ada orang lain selain tiga orang tadi di lantai satu.
Deka dan kedua bawahannya melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
"lantai berapa?" Tanya Deka pada bawahannya.
"Kemungkinan lantai 7, bos. Tim 1 terakhir kali ingin memantau Milla dari gedung lain karena menurut mereka nona Milla di bawa ke lantai itu."
Deka memahami situasinya. Kejanggalan satpam dan timnya yang lost contact membuat Deka yakin kalau ada sesuatu yang terjadi pada Milla.
"Kita lewat tangga." Titah Deka memimpin anak buah berjalan ke arah tangga darurat untuk naik ke atas. Mereka lewat tangga karena jika pakai lift, musuh akan lebih mudah menembaki mereka saat pintu lift terbuka.
Baru menaiki satu lantai, ponsel Deka berdering kembali.
"Bos, dari Tuan Leo," ucap salah satu bawahan Deka yang tadi membawa ponsel Deka. Pria itu menyerahkan ponsel itu kepada Deka.
"Bos, unit kode satu sudah selesai melakukan sterilisasi area sekitar hotel. Tim satu juga sudah kami temukan. Beberapa orang unit satu sedang menolong tim 1."-Leo
"Bagus. Aku sekarang sedang berada di dalam hotel. Aku butuh posisi Milla sekarang ada di mana"-Deka
Di ujung telpon terdengar Leo sedang berbicara pada beberapa orang.
__ADS_1
"kami sudah melakukan scan keseluruhan hotel melalui suhu tubuh. Kami menemukan kebanyakan orang berada di lantai 7. Sekitar 10 orang tersebar di lantai 6 dan 3 ora- salah, mereka itu berempat. satu orang memikul orang di pundaknya mereka menggunakan lift untuk turun."-leo.
"Lantai berapa?"-Deka.
"em, ah mereka baru keluar dari lift, lantai 4. Apa aku perlu memblok"-Leo
Deka tak mendengarkan ucapan terakhir Leo dan langsung mematikan pangilan tersebut.
"Ke lantai 4." Ucap Deka pada dua bawahan yang bersamanya. mereka menaiki tangga dengan terburu-buru. Istilah waktu adalah uang sangat tepat dalam kondisi.
Saking terburu-burunya, Deka sampai lupa menanyakan kamar tempat ketiga orang itu. Dan benar saja, saat Deka sampai di lantai 4, lorong lantai itu kosong. Tidak ada siapapun.
"Huh sial*n!" Umpat Deka sembari mengambil pistol yang tadi ia sembunyikan.
"Berpencar! Cari Milla dan lumpuhkan orang yang kalian lihat." Titah Deka yang dengan cepat kedua bawahan Deka bergerak mendobrak pintu-pintu hotel itu.
Satu kamar, kosong. Dua kamar, kosong. sampai kamar ke empat, mereka tak menemukan siapapun. Deka mencoba berpikir. Waktu menjadi lawan alaminya saat ini. Baginya terlalu lama kalau menunggu anak buahnya mendobrak pintu satu-satu sedangkan dalam satu lantai terdapat 20 kamar.
__ADS_1
Deka berpikir untuk mencari kemungkinan yang ada. Dia berlali ke arah lift yang ada di tengah-tengah lantai. Membiarkan anak buahnya mencari di kamar kelima dan keenam. Deka beranjak dua kamar samping lift.
"Tuhan, kumohon bantu aku. Jika terlambat sedikit saja, aku takut tidak akan pernah melihat senyum wanita itu lagi." doa Deka sebelum mendobrak masuk ke dalam kamar itu.