
Di dalam dapur, Eny tengah asik bersenandung. Dia terlihat memakai celemek dan memegang spatula di tangan kanannya.
Seorang pria berjalan menghampirinya.
"Ma, aku pulang." El menyapa ibunya yang tengah memasak.
"Kemana aja kamu, seharian gak balik-balik." Balas Eny tanpa memandang ke arah anaknya.
"Main, ma." Jawab El enteng. Dia mencium aroma sedap dari masakan yang dibuat oleh mamanya. "Mama, masak apa? kok, wangi banget."
"Oh, ini, mama mau masak steak buat malam ini. Soalnya mama gak tahu kesukaannya, Deka. Jadi, mama coba masak ini buat dia."
Mendengar nama Deka langsung menurunkan mood El sejatuh-jatuhnya.
"Hais, kenapa pake dimasakin segala sih? manja amat tuh anak." Sirik El tak suka mamanya memberikan perhatian kepada Deka.
"Husht,, Gak boleh gitu kamu, kak. Deka itu kakak ipar kamu sekarang. Kamu harus hormat sama dia." Eny mulai memasukkan daging ke dalam wajan dan mulai memasaknya layaknya koki handal.
"Tahu, ah. Males," El langsung beranjak dari dapur meninggalkan mamanya.
__ADS_1
"Mau kemana kamu?" Selidik Eny takut anaknya pergi keluar lagi.
"Ke kamar. Mau mandi dulu,"
Eny hanya bisa menggelengka kepala. Dia tahu tidak semudah itu move on dari orang yang kita sukai. Jadi, dia akan membiarkan dulu anaknya sementara waktu. Mungkin El hanya butuh waktunya sendiri agar bisa mencari yang lain daripada Milla.
Bagi Eny, Milla sudah seperti anaknya sendiri. Jadi, dia akan menghargai keinginan Milla. Jika dia memilih untuk menikah dengan Deka, maka Eny hanya bisa mendukungnya. Dia tak mau memaksakan Milla untuk menikah dengan anaknya. Dia takut itu malah akan menyakiti Milla.
"Sayang, sayang, Kamu di mana?" Teriak seseorang yang terdengar sampai ke telinga Eny.
"Di dapur!" Balas Eny sedikit berteriak.
"Hhhmm, wangi sekali masakannya." Pria itu mencium jenjang leher Eny.
"Aku masak steak buat Deka." Balas Eny menghiraukan kelakuan genit pria itu.
"Oh, dia suka steak?"
Eny menggeleng.
__ADS_1
"Aku gak tahu dia suka atau tidak. Ini sengaja ku buatkan agar dia punya banyak pilihan lauk. Soalnya aku gak tahu kesukaannya."
Pria itu mengangguk. Dia masih memeluk Eny dari belakang sembari menyaksikan proses masak yang dilakukan oleh istrinya itu.
"Oh, iya, barusan aku berpapasan sama El. Kenapa dia keliatannya kok kayak kesal gitu?"
"Oh itu, biasa. Dia cemburu sama Deka. Aku heran deh, mau sampai kapan sih anak itu berharap sama Milla. Udah dibilangin berapa kali, masih aja ngotot. Sampe pusing aku mikirnya." Eny geleng-geleng kepala mengingatnya.
Cup, Bachsmid mengecup pipi istrinya.
"Biarin aja, nanti juga hilang sendiri. Lagipula dia itu suka sama Milla udah puluhan tahun, jadi wajar kalo dia masih susah move on." Balas Bachsmid dari sudut pandangnya.
"Semoga aja bisa cepet bisa move on. Em, atau kita kenalin aja sama cewek-cewek temen mama? Kalau gak salah, ada beberapa yang punya anak cewek cukup umur."
"Aku yakin El gak bakalan suka. Dia pasti nolak."
"Jangan pesimis gitu. Aku gak mau tahu, kebetulan besok ada kumpul-kumpul sama ibu-ibu yang lain. Jadi, aku bisa carikan satu atau dua buat El." Eny terlihat antusias dengan rencananya sendiri.
"Yah, terserah kamu aja deh. Aku gak ikut-ikutan kalo El marah." Bachsmid melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah luar dapur.
__ADS_1
"Ini demi kebaikan dia juga, sayang." Balas Eny sedikit kencang agar suaminya bisa mendengar suaranya. Dia percaya kalau harus melakukan hal ini. El sudah dewasa dan cukup umur. Soal pekerjaan juga tidak perlu khawatir, dengan 2 gelar dimilikinya, wanita mana yang gak mau sama putranya itu.