
Milla mengernyitkan dahinya. Dia langsung kebingungan maksud Deka.
"Jangan percaya? Kenapa? Bukannya dia sangat baik." balas Milla mendukung Agatha.
"Aku tahu dia sudah menolong kita sampai sejauh ini. Tapi, percayalah itu hanya tipu muslihatnya. Dia tidak sebaik itu."
"Deka, jangan berkata seolah-olah kamu tahu dia. Dia memang tidak begitu baik. Tapi dia mau menolongku. Tidak kah kau lihat tadi malam? Dia bahkan dengan gampangnya mengenalkan aku dengan orang penting di negara ini. Padahal aku belum tentu bisa memberikan apapun padanya sebagai balasan."
"Itu yang menjadi masalah. Kenapa orang itu menolongmu padahal dia tahu kau tidak bisa membalasnya. Menolongmu sama saja artinya mencari cara tercepat untuk mengakhiri hidup."
Kata-kata Deka itu membuat hati Milla sedikit miris mendengarnya.
"Maksud mu apa? Aku adalah bencana gitu? Dan kamu yang menolongku adalah orang yang rugi?"
__ADS_1
"eh, buk-bukan gitu maksudnya. Maaf kalau perumpamaanku jelek, aku bukan orang yang mahir merangkai kata. Aku hanya ingin mengatakan bahwa pria itu tidak dapat keuntungan menolongmu, tapi kenapa dia bersikeras menolongmu."
"Apa salahnya menolong orang lain? Ayahku dan dia sudah saling mengenal, lalu apakah salah jika kita saling menolong?"
Nampaknya Milla malah naik pitam gara-gara Deka. Pria itu lupa bagaimana sikap aslinya wanita di depannya itu. Seharusnya dia ingat pertemuan pertama mereka. Dia adalah wanita yang mudah marah.
"Wajar-wajar saja, tapi dalam kasus ini berbeda. Bukannya aku tak mau berterima kasih, anggaplah aku takut jika semuanya malah berbalik menyerangmu."
Milla menaikkan nadanya. Entah kenapa dia tidak bisa mengontrol emosinya saat itu juga. Sementara Deka hanya bisa terdiam. Dia binggung harus bagaimana caranya agar Milla dapat paham. Dia tidak pandai menyusun kata-kata yang mudah di pahami.
"Kenapa kamu diam. Bukannya aku tak bersyukur, tapi aku bahkan tidak pernah meminta pertolonganmu waktu kejadian yang lalu tapi kamu datang membantuku. Bukannya kamu akan lebih mudah menghindari hal ini jika kamu tak menolongku? Bahkan sampai sekarang pun kamu masih menolongku. bukannya itu sama saja dengan paman Agatha?"
Mendengar hal itu membuat Deka mengusap wajahnya kasar. Dia takut perdebatan ini malah akan semakin menyakiti perasaan Milla.
__ADS_1
"A,,, itu,, kau menangis?" tanya balik Deka saat sadar Milla mengeluarkan air mata.
Milla dengan sigap menghapus air matanya. Sepertinya pertolongan Agatha ini sangat berarti bagi Milla. Deka lupa memperkirakan bagaimana kondisi mental wanita itu. Dia terlalu sibuk pada hal yang tidak perlu sampai lupa kalau wanita lemah itu baru saja lolos dari maut. Seharusnya Deka lebih mau terbuka dan mendengarkan Milla, bukan malah membiarkannya.
"Ti--tidak," jawab Milla singkat.
Deka berjalan mendekati Milla. Ini murni kesalahannya, mental wanita ini lemah kenapa dia malah mencerca keputusannya. Dia seharusnya mendukungnya dan memberikan support. Bukankah dia sudah berjanji untuk membantu Milla pada dirinya sendiri.
"Maafkan aku," seru Deka sembari berlutut di hadapan wanita itu.
"Untuk apa minta maaf. Kamu tidak bersalah. Bukannya itu pendapat kamu, air mata ini tidak keluar karenamu. Aku hanya kelilipan."
"Huh, baiklah. Kita lupakan saja yang tadi. Sekarang aku akan mencoba untuk lebih percaya lagi pada orang itu, tapi jika nanti ada apa-apa tolong kabari aku. Jangan ragu untuk meminta bantuanku. Aku pasti akan membantumu."
__ADS_1