
"Kau tahu, aku ternyata benar-benar merindukan sosok ayahmu itu." Ungkap George dengan penuh penghayatan.
"Padahal kau tahu, dia selalu mengatakan aku adalah orang yang tak punya hati. Tapi lihatlah kini, kepergiaannya secara tiba-tiba membuat separuh dariku hilang."
Tak terasa setitik air mata tumpah diujung mata George.
"Uncle," Meski tak mampu melihat, Milla bisa merasakan kepedihan pria itu.
"Ah, bodohnya aku. Aku lupa menawarkanmu minuman."
George bangkit dari duduknya dan berjalan ke dapur kecil yang tak jauh dari sana. Sesekali ia mengelap pelupuk matanya.
"Ayah bangga padamu," Ucap Milla membuat langkah George terhenti.
"Dia selalu menceritakan tentangmu yang licik dan tak punya hati." Sambung Milla.
"Hahaha, aku yakin dia akan mengatakan itu." Balas George yang mulai meracik sebuah teh untuk Milla.
"Tapi ayah selalu mengatakan kau adalah orang yang baik disetiap akhir ceritanya tentangmu."
George hanya bisa tersenyum mendengar penuturan cerita dari Milla. Dia tahu sahabatnya akan bercerita seperti itu pada orang lain.
George kemudian membawa teh itu dan memberikannya pada Milla.
"Kurasa ayahmu itu pembohong yang handal." Ungkap George.
__ADS_1
Keduanya pun tertawa setelahnya.
"Ah, setiap kali aku melihat mu aku selalu merasa seperti melihat bayangan ayah dan ibumu pada waktu yang bersamaan." Terang George yang mengamati Milla minum teh buatannya.
"Sewaktu kau kecil dulu, kau selalu takut berjumpa denganku. Kau tahu apa yang kau teriakkan padaku?"
Milla mengelengkan kepalanya.
"Kau lari kepada ibumu dan berkata, "Mama ada om nakal di sana!." Lalu, mama mu hanya akan tersenyum dan mencubit pipimu lalu mulai menasehatimu. Tapi ayahmu akan berbeda. Dia akan muncul dari belakang dan menepuk punggungku, "Kau apakan anakku, hah?"" Kenang George dalam ingatannya.
Milla hanya bisa tersenyum karena dia tidak mengingat kejadian itu sebab ia masih kecil.
"Semua dengan cepat berlalu. Sekarang kau sudah tak pernah takut lagi padaku. Kau sudah dewasa dan tumbuh cantik seperti ibumu,"
Milla kembali tersenyum. Cerita-cerita masa lalu dari uncle George selalu membuat ia bahagia. Serasa sedang benar-benar berada di masa itu. Namun, suara isak tangis terdengar ditelinga Milla.
Sebuah tangan menangkap tangan Milla.
"Maaf, Milla. Aku sungguh minta maaf. Ak, aku, pamanmu ini,," Isak tangis George semakin menjadi jadi.
"Paman kenapa? Paman baik-baik saja, kan? Kenapa tiba-tiba minta maaf." Milla yang tidak paham apa yang terjadi malah jadi panik.
George hanya larut dalam tangisannya sambil menggenggam erat tangan Milla. Milla tak tahu harus berbuat apa. Tanpa sadar dirinya juga ikut terbawa suasana. Air matanya mulai mengalir saat mendengar George menangis.
George pun tersadar. Dengan cepat ia menghapus air matanya.
__ADS_1
"Ma, maaf-maaf. Gara-gara paman kau jadi terbawa suasana." George berusaha tetap tegar. Dia tak mau Milla ikut bersedih bersamanya.
George menghapus air mata Milla dengan sapu tangan miliknya.
"Makasih, uncle." balas Milla.
George melonggarkan sedikit dasinya.
"Jadi, pria itu tidak berbuat macam-macam denganmu kan?" Tanya George dengan serius.
"Siapa? Deka?" Tanya Milla memastikan.
"Iya. Dia tidak berbuat sesuatu padamu kan? Kau tidak perlu takut. Jika dia berani macam-macam laporkan saja padaku. Akan kubuat dia tidak bisa tidur berminggu-minggu."
Dari tekanan suaranya, Milla sadar kalau pamannya ini sedang serius.
"Kurasa itu tidak perlu. Sesuai dengan saran uncle, dia mengikuti peraturan yang ku buat dengan baik."
"Ah, syukurlah kalau begitu. Aku yakin dia tidak akan berani."
Ucapan George nampak tertahan.
"Kenapa lagi uncle?" Tanya Milla yang sadar bahwa George nampak menahan sesuatu.
George menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Aku minta maaf karena tidak bisa menikahkan mu dengan putraku." Terang George.