Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
14. Tawaran Pekerjaan


__ADS_3

"Jadi, gimana kabar lw?!" Tanya seorang pria dengan nada yang cukup tinggi. Lantunan musik yang kencang membuat pria itu harus meninggikan volume agar terdengar oleh yang lain.


"Baik," Jawab Deka.


Pria yang ada dihadapanya adalah temannya Deka sewaktu tinggal di negara ini. Biasanya ia dipanngil Devan. Sementara pria satunya lagi yang duduk disebelahnya adalah Bjon. Mereka berdualah pria yang menyambut serta mengantar Deka ke sini.


"Bro, gw mau langsung main." Ucap Bjon yang dari tadi sudah melirik seluruh tempat.


"Si anj*ng udah sang* aja lw!" Balas Devan sambil meneguk minuman dari gelas kecil ditangannya.


Bjon menghiraukan ucapan temannya itu dan langsung beranjak dari sana. Deka hanya melihat tingkah teman lamanya itu.


"Gak berubah tuh anak." Ungkap Deka begitu melihat Bjon dengan mudahnya berkenalan dengan wanita.


"Hahaha, dia mah udah penyakit yang mendarah daging itu." Balas Devan.


"Tapi kayaknya yang banyak berubah itu lw," sambung Devan menatap Deka.


"Perasaan lw aja itu. Gua gak berubah banyak,"


"Halah, ta*. Buktinya fisik lw beda banget ama yang dulu. Lw minum obat kuat ya?"


Deka menimpuk Devan dengan kacang.


"Bangs*t. Sama sangenya lw kayak adik lw, si Bjon."

__ADS_1


"Hahaha, manusiawi itu namanya. Btw, lw sibuk apa sekarang?"


"Hhmm, lagi nganggur sih."


Deka memang sedang tidak mengerjakan apapun saat ini. Karena selepas dari BUI, dia masih belum ada niatan untuk kembali ke pekerjaan lamanya. Setidaknya sampai urusan antara dia dan Milla selesai.


Devan mebakar rokok ditangannya. Menghisap lalu dihembuskan secara perlahan.


"Lw mau ikut gua? Ada pekerjaan mudah buat lw. Gajinya lumayan besar." Ungkap Devan.


Deka mengambil sebatang rokok dan ikut membakar rokok itu.


"Pekerjaan apa itu?" Balas deka setelah menghembuskan asap rokoknya.


"Gigol*." Jawab Devan dengan wajah polos.


"Bangs*t. Gua udah serius padahal."


Devan pun langsung tertawa kencang karena berhasil menjahili temannya ini.


"Hahaha, Bercanda doang gua. Tapi gua gak yakin lw masih nganggur sekarang."


"K*nyuk emang lw. Gua males sama pekerjaan lama gua."


"Keja apaan emang? Yah, namanya pekerjaan, Deka. Mana ada yang mudah banget,"

__ADS_1


"Ada kerjaan biasa."


Deka memang tidak pernah cerita tentang pekerjaannya kepada orang lain, termasuk para teman-temannya. Baginya tidak penting juga orang lain tahu pekerjaannya.


"Lw mau jadi bartender?" Kali ini Devan tidak bercanda dengan omongannya.


"Lw punya Bar?" Deka malah balik bertanya pada Devan.


"Bukan punya gua, kebetulan gua kenal sama yang punya. Kalo lw tertarik bisa gua sambungin ke dia. Soalnya seinget gua, lw dulu Jago masalah beginian."


"Masih inget aja lw sama masa lalu."


"Hehehe, begini-begini ingatan gua kuat. Yah, walaupun umur udah angka tua."


Keduanya pun tertawa bersama. Devan memang bukan seumuran dengan Deka. Dia lebih tua 15 tahun daripada Deka. Sama halnya dengan Bjon. Dalam istilah mereka, Deka adalah adek-adek-an Devan dan Bjon.


"Hhmm, kayaknya boleh deh." Balas Deka.


Menurutnya lebih baik ia ambil saja daripada harus berdiam diri saja di kediaman Milla.


"Udah ambil aja. Pasti ke terima. Gajinya lebih dari UMR. Cuman lw harus ganti jam tidur jadi siang."


Deka hanya mengangguk sebagai balasan. Nampaknya ia sudah sepakat untuk ikut pekerjaan yang ditawarkan Devan. Deka juga tidak perduli dengan gaji. Toh, pekerjaan aslinya bisa menghasilkan uang ribuan kali lebih banyak daripada itu.


"Siapa tahu pas kerja ketemu sama jodoh." Canda Devan sembari tertawa diikuti oleh Deka.

__ADS_1


__ADS_2