Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
58. Sekali lagi


__ADS_3

"Hei, aku yang pert-"


"Iya aku ked-"


"Loh hei masak aku terak-"


"Nasi-"


"Baji-"


"Sudahlah selesai ak,,,,,,,,,,,,, kalian,,,,,,,,,"


"Le,,,,, luban-"


Samar-samar Milla mendengar suara-suara pia itu. Dia masih tersadar, tapi tangannya terlalu berat untuk bertindak lemas sekali. Padahal tadi dia merasa serangan pria yang menggendongnya sekarang seharusnya tidak membuat di sampai tidak bisa bergerak seperti ini.


"Uhuk, uhuk, lepa,,,kan a,,,ku." Pinta Milla dengan tenaga yang tersisa. Sekujur tubunya tiba-tiba terasa sangat lemas. Bahkan menggerakkan jari tangan pun susah.

__ADS_1


"Hei, di masih sadar." Ucap pria yang satu.


"Tunggu apalagi suntikkan obat itu!" Ucap pria yang satunya lagi.


"Kalian lah yang ambil sekalian buka lift itu tanganku tak bisa." Rudy mengangkat milla menggunakan tangannya yang sebelah kanan, sementara tangan kirinya beberapa kali menepuk bok*ng Milla.


"Baik biar ku ambil,"


Kedua pria itu membagi tugasnya. satu sudah berada di lift dan menunggu Rudy menghampirinya. Berat badan Milla membuat Rudy tak bisa leluasa menggendonngnya. Sementara itu, Milla hanya bisa menyaksikan semuanya tanpa bisa melawan. Bahkan untuk bicara saja ia semakin kesulitan.


Bertepatan dengan Rudy yang sampai di depan lift, seseorang yang tadi pergi juga sudah sampai ke depan lift. Pria itu membawa sebuah tas mini di tangannya. Ketiganya masuk ke dalam lift begitu lift terbuka. Salah satu dari mereka menekan angka lantai yang mereka tuju. Dan pintu lift pun terbuka.


"Tolong aku, Ayah, Mama. Tolong aku," Batin Milla berharap ada mukjizat yang datang membantunya.


Pintu lift terbuka. Pikiran Milla sudah mulai pasrah pada keadaan. Harapannya sudah sirna. Milla memilih untuk menyerah. Dia memejamkan matanya agar tak melihat semuanya. Tak lama Milla membuka matanya sebentar, ia melihat dirinya sudah berada di atas kasur. Pria-pria itu nampak tertawa bahagia dari raut wajahnya.


Apakah ini akhirnya, itu pertanyaan yang Milla sandarkan. pertanyaan-pertanyaan lain datang menghujani pikirannya.

__ADS_1


"Kenapa harus berakhir seperti ini? Ayah, maaf tak bisa menjaga bisnis ayah sampai akhir. Ma, maafin aku, aku gak bisa menwujudkan keinginan mama. Kakek, maaf gak bisa berbakti sama kakek. Apa ini karma yang diberikan padaku? Mungkin karena ini sepadan dengan perbuatan ku dulu. Maaf, Maaf." Batin Milla yang sudah tak peduli dengan keadaan sekitarnya.


Meski masih sedikit lemah, Milla akhirnya bisa menggerakkan jari-jarinya. Tapi bersamaan dengan itu dia mendengar suara tawa jahat kesenangan dari pria-pria di sekitarnya. Milla juga merasakan pakaiannya mulai di buka satu persatu.


Milla hanya bisa meringis dalam hatinya. Betapa menyedihkannya. Betapa memalukannya dia. Milla benci dunia ini. Perlakuan semua orang berubah seketika ibu tirinya datang. Memori lama dan dendam itu tiba-tiba datang. Kejadian yang sangat Milla benci tiba-tiba datang menyapanya.


"Ah, ini pasti gara-gara ibu tiri itu. Jika saja dia tak datang! aku pasti bahagia, ayah pasti tak mati. Ibu pasti masih bisa memasak untukku dan aku pasti masih bisa melihat!" ucap Milla pada pikirannya sendiri.


Saat tengah berkecamuk dalam pikiran sendiri, suara seorang pria datang ke dalam pikirannya. Sebuah siluet terlihat di depannya. dia tak mengenali itu siapa, tidak, dia kenal siapa itu. Itu adalah penyelamatnya, Deka.


"Maafkan aku, Deka. Aku seharusnya percaya kamu. Kamu satu-satunya penyelamatku, tidak hanua sekali, tapi berkali-kali. Ucapanmu seharusnya aku dengar bukan aku bantah. Kamu menolongku atas dasar kemanusiaan malah aku buat terlantar. Maaf Deka, setidaknya jika ada satu kesempatan dalam hidupku, aku ingin bertemu denganmu."


Setelah berkata seperti itu, Milla mendengar teriakan yang tak asing baginya. Suara itu terdengar samar di awal, namun semakin lama semakin mendekat.


"Milla!!!!"


"MMILLLLAAAA!"

__ADS_1


"Bangun Milla! Ini aku Deka! Aku datang memyelamtkanmu!"


__ADS_2