
"Apa kamu yakin akan menggunakan senjata itu?" Tanya Milla. Dia nampaknya ragu dengan rencana Deka untuk membawa senjata.
"Tentu." Jawab Deka menuntun Milla berjalan ke arah tangga. Deka berjalan di samping Milla membantunya menuruni tangga.
"Maaf, karenaku kau terlibat hal seperti ini." Batin Milla menuruni tangga. Dia tahu kalau Deka berjalan disampingnya dengan sabar. Memang susah bagi Milla untuk menuruni tangga. Untuk itu ia pindah dari kamarnya di lantai 3 ke lantai 2. Sebenarnya Milla ingin dilantai 1 saja agar mudah, namun sayang dilantai 1 tidak ada ruang kamar.
Nampaknya butuh waktu untuk dapat pergi dari sini. Dan deka sadar akan hal itu.
"Maaf," Ucap Deka.
"Kenap,, aaa."
Deka menggendong Milla ala bridal style untuk menuruni tangga. Ternyata Deka meminta maaf sebagai ungkapan untuk meminta izin menggendong Milla. Mau tak mau Milla harus menerimanya meski hal itu membuatnya begitu malu.
"Apa tidak ada jalan lain selain gerbang depan untuk keluar dari sini?" Tanya Deka memikirkan opsi lain untuk mereka kabur.
"Sebenarnya ada satu lagi."
"Dimana?"
"Dibelakang gudang."
"Gudang? Dimana itu?"
"itu tepat dibelakang mansion ini."
"Oh, oke."
Deka memilih untuk lewat jalan lain daripada harus berhadapan dengan sisa penjahat itu secara langsung. Menghadapi mereka memang mudah, tapi membawa Milla pergi adalah prioritas pertama.
__ADS_1
"Hhm, apa kau akan terus menggendong ku?" Milla merasa tak enak Karena daritadi masih digendong oleh Deka.
"Aku minta maaf akan hal itu. Tapi aku harus tetap menggendong mu sebab waktu kita terbatas. Lagipula kau tidak seberat itu. Jadi tak perlu khawatir."
Di depan Deka melihat sebuah bangunan lama. Nampaknya itu yang Milla sebut dengan gudang.
"Dimana pintu keluarnya?" Tanya Deka setelah sampai tepat di depan gudang.
"Dibelakang gudang ini ada pintu kecil. Kita bisa keluar lewat sana."
"Apa kita harus masuk ke dalam?"
"Iya."
Deka menurunkan Milla.
"Tidak, Nana yang selalu memengang kuncinya."
"Nana? siapa itu?"
"Dia adalah pelayan pribadiku. Di,,"
"Siapa lagi yang tahu kalau disana ada pintu keluar?"
"Hhhhm, kurasa tidak ada. Hanya dia, eh kurasa Albert juga tahu."
Sementara Milla menjelaskan, tangan Deka sudah mengotak-atik kunci pintu gudang.
"Ayo masuk," Ajak Deka menarik Milla masuk bersamanya.
__ADS_1
"Bukannya seharusnya terkunci?" Batin Milla heran.
Gudang itu sangat gelap karena benar-benar tertutup. Untungnya Deka membawa sebuah senter dari salah satu pria tadi. Di dalam sana banyak barang-barang yang nmapak masih bagus meski semuanya sudah berdebu.
Mereka akhirnya sampai di pintu belakang gudang. Seperti yang dikatakan Milla tadi, benar-benar ada pintu untuk keluar di sana. Deka melepaskan genggaman tangannya dan mencoba membobol pintu itu.
Saat Deka berhasil membuka pintu itu, dia berbalik menghadap ke arah Milla. Lalu berkeliling gudang mencari sesuatu. Tak lama ia menemukan yang ia cari.
"Pakai ini. Biar kubantu kau menggunakannya." Deka berjongkok di depan Milla.
"Eh, apa ini?"
"Lebih baik kau menggunakan sepatu dari pada hanya sendal. Setidaknya dengan begitu kau bisa berlari kencang."
Sikap Deka seperti ini membuat Milla sedikit canggung. Dirinya seperti anak kecil yang hendak ke sekolah. Mungkin terkesan memalukan tapi entah kenapa ia suka.
"Sudah." Deka kembali berdiri berhadapan dengan Milla.
Deka kemudian mematikan senter miliknya.
"Kau siap?"
"iya."
"Dari sini kita akan berlari. Kenali suaraku dan ingatlah suaraku. Jika kau lelah panggil aku. Dan jangan lepaskan tangan ku, paham?" Pesan Deka dalam kegelapan.
"Iya, akan kuingat itu."
"Baiklah, ayo pergi!"
__ADS_1