Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
113.Permak


__ADS_3

Milla menyetujui permintaan Maya untuk pergi ke ke salah satu bar. Sebenarnya dia ragu untuk pergi ke sana. Tapi Maya terus menerus memaksanya hingga Milla merasa tak enak jika menolak permintaan Maya. Selain karena tak pernah pergi ke tempat seperti itu, dia juga tak nyaman pergi ke tempat itu dalam kondisinya saat ini. Tapi hati kecilnya berkata ini bukan sesuatu hal yang perlu di khawatirkan. Sudah ada Maya yang akan melindunginya. Jadi, tak perlu takut.


Setelah mengatakan setuju, Maya langsung menyuruh Milla untuk mandi agar lebih segar. Sementara Maya menyiapkan pakaian yang akan dikenakan untuk Milla.


Beberapa menit berlalu, Milla sudah keluar dari kamar mandi.


“Maya, kamu di mana?” Tanya Milla memanggil Maya.


“Di sini, Milla.” Maya berjalan ke arah Milla dan mengenggam tangan Milla yang meraba sekitarnya.


“Kamu yakin, kan ini gak masalah?” Milla takut akan kena omel Eny jika ketahuan akan pergi ke tempat seperti itu.


“Ayolah, Milla. Percayalah padaku. Nanti pasti nona bakal berterimakasih kepadaku setelah ini.”

__ADS_1


“Oke, oke aku percaya. Dan panggil aku Milla saja. Aku ingin berbicara santai denganmu.” Milla tidak ingin Maya memanggilnya dengan tambahan nona. Rasanya kurang menyenangkan saat berbicara bersama orang yang sering ditemui memanggil namanya dengan tambahan nona.


“Ahahaha, iya, maaf, maaf, aku lupa. Ayo, kita ganti pakaian. Kamu harus pakai baju-baju yang kemarin sudah kita beli.” Maya langsung mengajak Milla untuk ganti baju. Saat mereka pergi ke dalam mall, mereka sempat mampir ke beberapa tempat baju, tas, sepatu yang terkenal di negara ini. Mereka menghabiskan waktu untuk berbelanja di sana. Mungkin lebih tepatnya Maya yang menghabiskan waktu di sana. Milla malah menjadi model yang disuruh Maya untuk mencoba baju-baju itu.


Kalau itu dulu saat dia masih bisa melihat, dia mungkin sangat menyukainya. Tapi dalam kondisinya sekarang semuanya berubah.


“Sepertinya anda sangat cocok menggunakan ini.” Ucap Maya memberikan satu buah dress kepada Milla untuk digunakan. “Tapi sebelum itu, mari sini biar aku make up dulu.”


Maya mendudukkan Milla di kursi untuk dirias. Tanpa basa-basi, Maya lansung mendadani Milla agar tampil lebih cantik. Maya memberikan Milla make up yang tipis agar terlihat alami dan tidak terlalu menor. Wanita itu juga sedikit memoles rambut Milla yang lurus menjadi sedikit bergelombang dibagian bawahnya.


“Hhmm,, apakah ini tidak terlalu terbuka?” Milla merasa dress yang ia kenakan sedikit terbuka. Dress itu menampakkan lekuk tubuh Milla dengan jelas. Bagian paha dan juga bahunya juga terlihat jelas.


“Ah, tidak, tidak, ini sudah yang paling bagus. Kalau kurang nyaman pakai ini saja,” Maya memberikan sebuah jas berwarna senada dengan dress yang Milla kenakan guna menutupi bagian bahunya. “Nah, kamu sudah terlihat sangat perfect.”

__ADS_1


Maya meneliti Milla dari ujung kaki hingga ujung kepala. Wanita itu sudah terlihat sangat menawan dan cantik meski belum memasang aksesoris tambahan seperti kalung dan anting.


“Tinggal pakai kalung, anting, dan cincin.” Ucap Maya berbalik arah mencari aksesoris yang sudah dibelinya tempo hari.


“Ah, aku pakai itu juga? Jangan. Jangan. Ini saja cukup.” Tolak Milla tak mau mengenakan aksesoris mewah tambahan kecuali cincin pernikahannya dengan Deka.


“Ayolah. Milla. Ini akan menjadi nilai tambah, aku yakin semua pria malam ini akan langsung melirik ke arahmu.” Maya sudah mendapatkan beberapa macam jenis kalung dan mencoba mencocokkannya dengan dress Milla.


“Aku tak butuh perhatian laki-laki lain, Maya. Kita di sana hanya untuk mendengarkan musik itu saja. Gak lebih.”


“Kamu yakin? Padahal tadinya aku mau bilang kalau bar tempat kita pergi nanti malam adalah tempat meeting bos. Mau bagaimana lagi kalo kamu gak mau, aku gak bisa melawan. Tapi kuyakin pasti bos tuh suka lihat wanita yang berkelas.” Maya mencoba memancing Milla.


“Akhkh,, oke, oke, aku bakal pake. Tapi cuman kalung aja. Dan kalungnya jangan yang terlalu terkesan berat. Cukup yang sederhana tapi menawan.” Saat mendengar nama Deka, Milla seakan tak bisa melawan dan berpaling. Dia mengikuti kata hatinya.

__ADS_1


“Hahaha, ni istri bos keknya udah jatuh cinta aja ama bos. Sebut namanya dikit aja langsung nurut. Kalo gw bilang bos suka cowok dia bakal transgender gak ya?” Batin Maya.


__ADS_2