Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
126. Penerobos


__ADS_3

Cling, cling, dua buah notifikasi muncul di ponsel Deka. Segera pria itu membuka ponselnya dan membaca isi pesan itu.


(Foto Milla sedang tertawa saat di ajak bicara oleh karyawati klinik.)


-nona Milla, sudah masuk ke dalam klinik.- Maya. 


Membaca dan melihat foto itu membuat Deka cengengesan. Hatinya berbunga-bunga melihat Milla bisa tersenyum lepas seperti itu. 


“Hei, si bos itu kenapa?” Tanya Erato pada Leo yang tengah sibuk membolak-balik berkas. 


Leo pun mengikuti arah pandangan Clio. Dia melihat Deka tengah senyum-senyum sendiri melihat ponselnya. 


“Em, bos, anda kenapa?” Tanya Leo langsung kepada  Deka. Mereka jarang sekali melihat bosnya senyum-senyum sendiri saat memegang ponsel. Soalnya Deka memang sangat jarang bermain ponsel. 

__ADS_1


Deka yang mendengar pertanyaan Leo langsung mengalihkan pandangannya ke depan. Dia tidak sadar kalau di ruangan itu masih ada Leo dan Erato. 


“Hhhmm, tidak ada. Lanjutkan saja pekerjaan kalian.” Ucap Deka langsung menutup ponselnya dan menaruhnya di atas Meja. Entah kenapa Deka merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya setiap kali melihat Milla. Apalagi saat melihat wajah gadis itu tersenyum. 


Di pikirannya belakangan ini juga terus menerus memikirkan Milla. Mungkin karena pekerjaan yang dilakukan untuk Milla jadi dia selalu memikirkan gadis itu. Tapi Deka tak bisa memungkiri kalau terkadang dirinya merasa rindu akan wanita itu. Terutama satu pekan belakangan ini. Rasa rindu itu kadang muncul saat ia tengah bekerja. Tentunya Deka memendam rasa itu dalam-dalam sampai tidak ada yang tahu apa yang dirasakannya. 


Setelah seminggu menekuni perusahaan Milla, Deka akhirnya mulai bisa perlahan-lahan membangkitkan perusahaan yang hampir bangkrut itu. Dengan sokongan dana dari Erato dan Clio, perusahaan Milla bisa dengan cepat stabil. Tapi tujuan Deka tak hanya ingin menstabilkan perusahaan ini. Dia ingin mengembangkan perusahaan ini agar saat Milla sudah membaik, wanita itu tinggal melanjutkannya saja. 


Saat bantuan dana itu dialirkan, perusahaan lain ternyata bereaksi dengan hal itu. Nama Clio dan Erato yang begitu besar membuat perusahaan lain dengan cepat ingin bekerja sama dengan Big corp. Tentunya dengan dalih agar perusahaan mereka juga bisa dilirik oleh perusahaan di bawah naungan Erato dan Clio. Tak hanya itu, beberapa pemilik saham yang awalnya mencabut sahamnya di Big corp. tiba-tiba tidak jadi menarik saham mereka. Dengan banyaknya bantuan dari dalam dan luar, Big Corp. langsung berkembang pesat hanya dalam jangka waktu satu minggu. Dan Dekalah yang berhasil membawa Big Corp. yang awalnya terpuruk menjadi terbaik saat ini. 


“,,pakkk,,,,, anda tak boleh ke sana.” Teriak security mengejar seorang pria yang berhasil menerobos masuk ke kantor Deka. 


Di dalam ruangan, pria itu langsung disambut tatapan sinis oleh Leo, Erato, dan Deka. 

__ADS_1


“Deka! Keluar kamu dari ruangan ini. Jangan sentuh sesuatu yang seharusnya bukan jadi milikmu! Aku tahu ternyata ini tujuanmu sejak awal ya!” Teriak pria itu tidak peduli dengan yang lainnya selain Deka. 


Mendengar perkataan lancing pria itu, Erato dan Leo langsung berdiri mengambil kuda-kuda. Mereka hendak mengambil senjata api yang mereka sembunyikan lalu menembak mati pria itu tak peduli siapa dia. 


“Tahan! Aku kenal dia.” Titah Deka menghentikan pergerakan Leo dan Erato. Deka tak mau kantor Milla harus bersimbah darah. 


Sesaat setelahnya seorang security menyusul masuk ke dalam. Dia melihat situasi yang tidak mengenakkannya itu. 


“A, anu, bos, maafkan saya, pria ini menerobos masuk begitu saja. Sudah saya teriaki tapi dia tetap berlari kemari.” Ucap Security itu takut kena amarah Deka dan yang lain. 


“Kalian semua keluarlah sebentar. Biarkan aku bicara dengannya.” Perintah Deka untuk Erato, Leo dan Security. 


Erato dan Leo mengangguk. Mereka berjalan keluar di ikuti oleh security itu yang sudah ketakukan dari tadi. Security itu takut dipecat, tapi dia juga takut melawan perintah Deka. Sudah beberapa tahun dia bekerja di sini. Dan dia mengakui kalau Deka bukan bos yang sembarangan. Seminggu semenjak Deka mengambil alih perusahaan, sudah banyak sekali rekan-rekannya yang dipecat karena berbagai macam hal. Dan dia takut akan menjadi salah satunya nanti. Tapi biarlah jika itu keputusannya, dia tak bisa berbuat banyak. 

__ADS_1


Sementara itu, di dalam ruangan kini hanya tinggal Deka dan pria itu. 


“Jadi, bisa katakan sekali lagi padaku, apa yang kau katakan tadi, El?” Tanya Deka berdiri menghampiri EL.


__ADS_2