
"Oh, El, akhirnya kamu turun. Ayo kita makan malam. Sudah lama bukan kita tidak makan bareng. Apalagi ada Milla dan Deka di sini." Bachsmid yang baru sadar anaknya itu datang langsung menyuruhnya untuk ikut bergabung. Sang ibu dengan sigap menuangkan nasi ke atas piring milik anaknya itu.
"Apa segini kurang?" tanya Eny pada anak laki-lakinya itu. Posisi meja yang berbentuk persegi panjang membuat El duduk tepat di depan Milla. Sementara deka duduk disebelahnya sembari menyuapi Milla.
"cukup, ma." Jawab El sekenanya. Duduk di sana membuat mood makannya menghilang. Tapi dia putuskan untuk tetap duduk di sana. Setidaknya cukup makan beberapa suap sebagai formalitas saja.
El menuangkan beberapa lauk yang terlihat familiar ke atas piringya. Jika saja saat ini sedang dalam kondisi yang bagus, El pasti sudah menghabiskan semua lauk itu untuk dirinya sendiri.
"Coba kakap asam manis itu juga. Mama masak itu khusus buat kamu sama Milla. Kalian berdua sama-sama suka itu, kan?" Eny menyuruh El untuk mencicipi kakap asam manis yang ada di atas meja. Hal itu membuat raut wajah El semakin memburuk.
"Hehehe, bener, tante. Cukup masak seafood aja, aku sama kak El pasti suka. Terutama kakap itu." Balas Mlla antusias. Dalam benak Milla, pria bernama El itu pasti senang melihat meja makan saat ini. Semua hidangan penuh dengan kesukaan mereka berdua.
Tapi kenyataannya El malah hanya termenung mengaduk-ngaduk nasi dan lauk yang ada di atas piringnya sembari memerhatikan Milla.
__ADS_1
"Ah, seandainya saja aku lebih cepat. Mungkin makan malam ini akan menjadi makan malam terindah setelah beberapa lama kita tidak bertemu. Dan posisi yang menyuapimu itu seharusnya aku. Bukan pria asing itu." batin El tak kuasa melihat Milla yang disuapi oleh Deka. Hal kecil namun sangat berarti bagi El.
"Kak El? Halo?"
"El? Nak?"
Eny menepuk pelan lengan El. Sontak El terkejut dan menoleh ke arah mamanya. Terlihat anak laki-lakinya itu sedang menunduk dan mengaduk-ngaduk nasi di piringnya.
"Kamu itu, lagi makan kok malah ngelamun. Itu Milla nanya sama kamu, kamunya malah bengong." Eny hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anaknya. Tidak biasanya anaknya seperti ini.
"Ah, begitu. Kamu nanya apa barusan?" El mengalihkan ke arah Milla. Deka terlihat masih menyuapi Milla dengan telaten. Melihanya tentu membuat hati El tersayat. Perasaan yang tak seharusnya ia miliki terbesit sangat jelas dalam raut wajah pria itu. Dan bertepatan dengan El yang menatap Milla, Deka juga mengalihkan pandangannya pada El.
Dia membaca raut wajah El yang terlihat seperti orang galau. Matanya seperti berharap pada orang yang ada di depannya.
__ADS_1
"Kak El, kapan nyampe sini?" Tanya Milla setelah melahap makanan dimulutnya. Karena Milla tak bisa melihat ekspresi El, jadi dia bisa santai berbincang pada pria yang ia panggil kakak itu. Sebab dari suara seseorang Milla belum sepenuhnya mampu menebak suasana hati orang yang dia ajak bicara.
"Baru kok, Tha. Lusa kemarin papa jemput aku di bandara." Terang El tanpa sedikit mengalihkan pandangannya dari Milla.
Bagi El, wajah wanita itu tidak berubah banyak. Tetap menjadi sosok wanita paling cantik yang pernah ia temui seumur hidupnya setelah ibunya. Bahkan senyum yang menimbulkan lesung pipi itu tetap terpahat rapih membuat banyak pria yang melihatnya akan salah tingkah dibuatnya, termasuk El itu sendiri.
"Oh, baru banget berarti. Oh iya, Kak, aku kangen banget loh sama kakak. Ngilang keluar negeri, tanpa kabar."
"Maaf," cukup satu kata yang bisa El ucapkan. Dia sungguh menyesali keputusan yang dibuat beberapa tahun lalu itu.
"Udah, kak. Jangan minta maaf terus ke aku. Kakak gak salah, kok. Lagipula kan kakak pergi juga buat masa depan kakak sendiri. Tapi kalau kakak mau minta maaf, mending ke kak Amel aja. Pas kakak pergi dia yang paling ngerasa kehilang banget, loh." Milla mengingat kejadian masa lalu mereka beberapa tahun lalu. Sosok Amel adalah sahabat keduanya yang sudah saling mengenal sejak kecil. Namun semenjak El pergi, Amel juga memilih untuk pergi.
"Bukan, bukan Amel yang aku butuhkan Milla! Aku cuman butuh kamu! Aku cinta kamu, Milla." Batin El tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun di hadapan Milla.
__ADS_1