
"E- Eleanor?" Tanya pria tua itu tak percaya.
Empat orang lainnya juga ikut terkejut mendengar nama Milla.
"Ah, betul, aku anak dari Eleanor." Jawab Milla.
Kelima orang di sana saling bertukar pandangan satu sama lain. Mereka tentu kenal siapa itu Eleanor. Siapa juga yang tudak kenal dengan pengusaha sukses itu. Namanya sering kali muncul dalam berita maupun gosip-gosip terhangat. Semua pengusaha dan pejabat di negara ini mayoritas kenal dengan nama itu. Tapi yang membuat binggung adalah bagaimana bisa musuh bebuyutan Agatha ada di sini.
Musuh bebuyutan adalah fakta nyata. Sebab Agatha pun juga pebisnis terkemuka di negera ini. Tak jarang baik Agatha maupun Eleanor terlibat masalah satu sama lain. Itu karena mereka sama-sama pengusaha yang ingin melambung tinggi, jadi soal bersaing mereka layaknya rival.
Melihat keterkejutan orang-orang di depannya membuat Agatha hampir tertawa lepas. Tapi ia menahannya sekuat tenaga.
"Ayolah teman-teman, tidak mungkin kan kalian lupa kawan baikku?" Agatha sedikit menekan intonasinya saat mengucapkan kawan baik.
Kelima orang yang mendengar langsung paham maksud Agatha mengangguk pelan. Untungnya Milla tak mampu melihat, karena kalau Milla melihat kekompakkan kelimanya itu, wanita itu pasti langsung curiga.
"Tentu tidak, bagaimana bisa kami melupakan sosok yang hebat seper-"
__ADS_1
brak,,,,
Wanita di sebelah kanan Agatha tiba-tiba berdiri memotong ucapan yang lain.
"Agatha, boleh kita bicara berdua?" tanya si wanita sinis. Tapi wanita itu tidak mementingkan jawaban Agatha. Dirinya langsung pergi begitu saja keluar dari sana.
"Pa, paman, kenapa ini?" Tanya Milla panik. Dia sempat kaget karena ucapan wanita itu yang terkesan marah.
"Ah, itu bukan apa-apa, Milla. Boleh aku tinggal sebentar?" Agatha langsung pergi menyusul wanita tadi.
Milla yang mendengar suara langkah Agatha menjauh jadi semakin panik. Apakah dia salah bicara, atau bagaimana. Kenapa kejadiannya jadi seperti ini. Milla binggung dan juga panik.
"Apakah itu benar?" Milla sedikit ragu kalau itu tentang bisnis.
"Benar, benar." Ketiga orang lainnya menjawab dengan kompak.
"Oh, iya, nona Milla. Ku dengar kau baru menikah,,,,,,"
__ADS_1
Dengan Lihainya Joe mengarahkan topik Pembicaraan agar melupakan masalah barusan. Untungnya Milla gampang di ajak ngobrol jadi mereka bisa tenang agar Milla tak merusak rencana Agatha.
Sementara itu di salah satu kamar mansion itu, Agatha dan si wanita sedang duduk di atas kasur saling berhadapan.
"Coba jelaskan maksudmu!" Pinta si wanita dengan nada menuntut. Raut wajah yang diperlihatkan sangat-sangat tidak bersahabat.
"Jelaskan apa, Sayang?" Tanya balik Agatha sembari mencoba mengenggam tangan wanita itu.
Namun sayang dengan cepat wanita itu menari tangannya agar tak di sentuh oleh Agatha.
"Apa aku perlu menjawab hal itu?" Sinis si wanita berbalik badan membelakangin Agatha.
Si Agatha hanya bisa menghela nafas berat. Dirinya tak habis pikir kalau hal seperti ini bakal terjadi. Tapi pria itu tak kehilangan cara. Pelan-pelan Agatha belutut di depan wanita itu. Matanya mencoba menarik pandangan si wanita. Sialnya, wanita itu langsung membuang muka begitu Agatha berlutut.
"Hei, sayang. Ayo coba lihat aku." Ucap Agatha pelan dan lembut. Tangan Agatha mengenggam tangan wanita itu dan mengusap-usapnya pelan.
Lama-kelamaan akhirnya wanita itu luluh. Dia mengikuti pandangan mata Agatha.
__ADS_1
"Nah, kalau begini kan aku bisa lihat wajah cantikmu malam ini." Gombal Agatha berharap wanita itu langsung luluh.
"Halah, cantikan juga jal*ng tadi!" Ternyata gombalannya tak berlaku.