
Di luar hotel, beberapa mobil hitam mewah berjejer rapih. Satu persatu orang yang ada di dalam mobil keluar san langsung membentuk posisi siaga sampai ke arah pintu masuk hotel. Untuknya area itu sudah di clear keseluruhan, jadi tidak ada satupun warga lokal yang melintas di sekitar hotel.
Terakhir, sebuah mobil berwarna putih ikut parkir di deretan mobil-mobil itu tadi. Setelahnya, Leo keluar dari mobil itu. Dia langsung menghampiri anak buah yang tadi tidak ikut Deka masuk.
"sudah berapa lama, bos di dalam?" Tanya Leo tanpa basa-basi.
"Sekitar 15 menit." Jawab pria yang ditanya Leo.
Mendapati jawaban itu membuat Leo mengangguk.
"Bersiap semuanya, kita akan langsung masuk!" Teriak Leo memberikan aba-aba.
Semua yang sudah dalam posisinya serempak mengokang senjata berat yang mereka bawa. Seakan-akan sedang menjawab, mereka siap kapan saja.
Namun belum sempat Leo memberikan arahan lanjutan, seseorang terlihat berjalan mendekatinya.
"Itu, bos!" Ucap salah satu pasukan.
Leo yang melihat Deka menghampirinya memasang wajah panik.
"Ah, wajah dan aura itu selalu saja membuat aku merinding." Batin Leo saat tatapan Deka seperti tanpa eksperesi.
"Kemari tuan, biar saya antar anda ke tempat aman." Ucap Leo sembari membukakan pintu mobil yang tadi ia naiki.
__ADS_1
Deka meletakkan Milla ke dalam mobil dengan sangat hati-hati. Sementara dirinya tak langsung masuk ke dalam mobil.
"Biar yang lain mengantarku. Kau urus saja di sini. Jangan sampai ada yang lolos! bahkan tikus sekalipun!" Titah Deka pada Leo.
"Baik, bos." Jawab Deka sembari membungkukkan badannya.
Setelah itu Deka langsung masuk ke dalam mobil begitu pun dengan satu orang bawahannya yang bertugas menyupiri Deka. Mobil itu langsung beranjak meninggalkan tempat itu.
"Kalian sudah dengar kan tadi! Jangan sampai ada yang lolos! tahan mereka semuanya! Jika melawan, lumpuhkan! Ku perbolehkan kalian mengamuk!" Teriak Leo yang langsung membuat beberapa puluh orang itu bergerak masuk ke dalam hotel dengan teratur.
Sementara itu, di lantai ke-7 bar tempat Agatha, nampak mereka masih terlihat santai menikmati lagu. Mereka tetap minum bahkan melanjutkan kegiatan menghisap ganj* mereka. Mereka saling tertawa bahagia tanpa sadar kalau satu pasukan khusus sedang menghampiri mereka.
Tapi nampaknya Agatha sedikit merasakan feeling yang kurang enak.
"Hei, kau kenapa? apa kau rindu jal*ng tadi?" Tanya Marteen pada Agatha yang terlihat hanya menyimak dan memutar-mutar gelasnya. Namun bukannya mendapatkan balasan dari Agatha, pria itu malah dibalas tatapan sinis dari Jessica terlebih dahulu.
"Hahaha, mana mungkin, teen. Aku gak sudi mikirin jal*ng yang bahkan tak bisa memuaskan ku." Balas Agatha dengan mengejek Milla.
Marteen tersenyum. Memang pria itu berkata seperti itu, tapi tatapan matanya berkata lain. Jika Marteen pikir-pikir lagi, Milla memang gadis yang cantik. Dia juga punya auranya yang tak banyak dimiliki oleh semua gadis. Jadi, menurutnya wajar saja kalau Agatha sampai segalau ini.
"Aku hanya punya firasat buruk aja malam ini." Terang Agatha pada Marteen.
Marteen menuangkan lagi minuman ke gelasnya.
__ADS_1
"Tentang apa itu?" Tanya Marteen penasaran. Di antara mereka berlima, Marteen merupakan orang yang cukup mengenal baik si Agatha. Jadi, jarang sekali dia melihat Agatha bertingkah seperti ini.
"Aku tak bagaimana menjelaskan. Hhmm, lupakan saja, mungkin hanya karena aku kelelahan saja."
Jawaban Agatha tak dipermasalahkan oleh Marteen lagi. Menurutnya tidak penting memaksa Agatha berbicara. Toh, dia datang ke sini hanya untuk bersenang-senang.
Namun, situasi itu langsung berubah total saat tiba-tiba segerombolan pasukan bersenjata memaksa masuk ke dalam bar itu.
"WtF?!" Ucap Marteen saat melihat segerombolan orang masuk.
Orang tadi bernyanyi dan menari langsung berhenti. Agatha, Jessica dan Marteen langsung berdiri. Tapi mereka tertahan oleh beberapa orang yang mendekati mereka sambil menodongkan senjata berat.
"Hei, apa-apaan ini?" Ucap Agatha tak terima saat senjata itu mengacung tepat ke wajahnya. Dia ingin menyingkirkannya namun tenaganya tak kuat melawan satu orang itu.
Setiap satu orang yang ada di sana mendapatkan perlakuan yang sama. Bahkan para pelayan pun tak luput dari pasukan itu.
"Woi, setidaknya jawablah!" Protes Marteen karena mereka hanya menodongkan senjata tanpa bicara apapun.
"Ehm, mohon perhatian. Kalian semua yang hadir di sini akan kami tangkap. Mohon kerja samanya," Ucapa seseorang yang muncul di tengah-tengah pasukan itu.
Berkat ucapan pria barusan, para pasukan yang sudah mengawasi masing-masing orang langsung bergerak hendak memborgol setiap orang yang ada disana.
"Hei, bajingan gila! Apa mak-"
__ADS_1
Drettttttt,,,, Sebuah tembakan beruntun ke langit bar di tembakkan.
"Maaf, ini bukan senjata mainan. Lumpuhkan mereka!" Perintah Leo pada semua pasukan.