
Seminggu berlalu setelah pertemuan Deka dan Bachsmid terakhir kali di kantornya. Kini tibalah saat yang dijanjikan. Pertemuan kedua mereka membahas tentang donor mata untuk Milla.
Deka menemui Bachsmid di kantornya. Dia ditemani oleh Leo.
"Ah, kau sudah sampai. Kemarilah, Charris berikan teh untuk mereka berdua." Bachsmid menyuruh orang yang disampingnya mengambilkan teh untuk Deka dan Leo.
Kedua pria yang baru datang itu langsung duduk di depan Bachsmid. Dan Charris beranjak melakukan apa yang disuruh oleh Bachsmid.
"Sebelum masuk ke pembahasan, aku mau memperkenalkan temanku paman. Namanya Leo, dia orang yang membantuku mencari pendonor mata untuk Milla." Deka memperkenalkan Leo pada Bachsmid.
"Salam kenal, tuan. Saya Leo, orang yang tuan Deka suruh untuk mencari pendonor." Leo mengulurkan tangannya hendak bersalaman dengan Bachsmid. Dengan senang hati Bachsmid menerima jabat tangan Leo.
"Salam kenal juga, Leo. Saya Bachsmid, pamannya Milla. Tapi, apa mungkinkah kita pernah bertemu sebelumnya? Wajahmu terasa tak asing bagiku." Bachsmid menilai wajah Leo yang nampak tak asing baginya.
"Ah, tuan, wajah saya pasaran. Jadi wajar saja jika anda merasa pernah melihat saya." Canda Leo.
Bachsmid melepaskan jabatan tangannya.
"Hahaha, kamu mungkin benar. Belakangan ini aku terlalu sibuk bertemu orang banyak."
Charris tiba membawa beberapa cangkir teh menjeda percakapan mereka. Setelah Charris ikut nimbrung dalam percakapan mereka.
"Karena semuanya sudah di sini, bagaimana kalau kamu mulai saja Deka? Apa kamu sudah dapat pendonor? Kalau kami, sudah sepekan ini kami mencoba mencarinya. Tapi tak menemukan satu pun pendonor yang bersedia." Ungkap Bachsmid yang mengalami kesulitan sepekan ini. Dia sudah mengupayakan berbagai cara agar menemukan pendonor tapi hasilnya nihil. Bahkan uang yang sangat banyak tidak bisa dengan mudah menemukan pendonor dalam waktu singkat.
Bahkan Charris yang punya koneksi dengan pasar gelap juga masih tak menemukan pendonor. Kenalannya di pasar gelap tidak bisa menemukan semuanya dalam waktu singkat. Mereka mengatakan butuh waktu setidaknya dua bulan untuk hal semacam ini. Dan itu adalah waktu tercepat yang bisa mereka usahakan.
"Untuk masalah itu, biar Leo yang jelaskan." Jawab Deka menyerahkan penjelasannya pada Leo.
"Izinkan saya memberikan ini pada anda, tuan." Loe memberikan satu buah tab untuk Bachsmid.
Saat Bachsmid menyalakan tab itu, sudah ada foto orang terpampang di sana.
"Seperti yang tuan lihat, di sana adalah orang-orang pendonor yang bersedia melakukan donor mata untuk nona Milla." Terang Leo menjelaskan.
Bachsmid mengikuti ucapan Leo. Dia memggeser-geser foto yang ada di dalam tab itu. Tentunya dia sangat terkejut. Tidak hanya satu, Deka berhasil mencari beberapa pendonor.
__ADS_1
"Kurang lebih ada sekitar 23 orang yang bersedia melakukan pendonoran. Dan dari 23 orang ini, semuanya sudah Lulus syarat untuk melakukan pendonoran. Hanya tinggal menentukan siapa yang akan dipilih dan waktu melakukannya kapan." Lanjut Leo menjelaskan.
"Kamu serius dengan ini?" Tanya Bachsmid tak percaya. Bahkan Charris sepemikiran dengan bosnya.
"Tentu, tuan. Kami bahkan sudah mendapatkan kontrak dari mereka. Ini salah satu kontrak yang kami bawa." Leo mengeluarkan selembaran kertas dari tasnya lalu menyerahkannya pada Bachsmid.
Bachsmid memeriksa kertas itu. Di sana tertulis bahwa orang yang bertanda tangan di sana bersedia melakukan donor mata untuk Milla. Tak hanya tanda tangan, mereka juga menyertakan sidik jari mereka. Tentunya Bachsmid tak habis pikir. Dia tak bisa berkata-kata.
"Nah, karena prosedur dariku sudah selesai, bagaimana kalau kita bahas kelanjutannya?" Tanya Deka selanjutnya.
"Ah, iya, tentu." Bachsmid gelagapan melihat kehebatan Deka ini. Mungkin saja Deka adalah orang yang sangat hebat. Namun enggan mengungkapkannya.
"Aku akan menyerahkan urusan pendonoran ini padamu." Ungkap Deka membuat Bachsmid kembali tercengang.
"Kenapa? Kenapa kamu malah menyerahkannya padaku? Bukannya kamu bisa langsung saja memberikannya pada, Milla?" Bachsmid terus terang.
"Aku merasa pamanlah yang bisa melakukan. Dalam kontrak itu, paman akan membayarkan uang untuk mereka, paman sanggup kan?"
Bachsmid memeriksa nominal yang tertera. Angkanya memang cukup besar tapi masih mampu Bachsmid tanggung.
"Berhenti! Apa-apaan maksudmu ini?" Bachsmid menghentikan perkataan Deka.
"Kenapa, paman? ada yang kurang di pahami? Leo to-".
"Bukan, bukannya ada yang tidak kupahami. Aku paham semuanya. Tapi kenapa? kenapa bukan kamu yang memberikan semuanya pada, Milla? Tidakkah kamu berpikir dampak ke depannya?"
"aku justru melakukan ini karena sudah memikirkan ke depannya, paman. Ini adalah jalan yang terbaik."
"Tidak, ini bukan yang terbaik. Jika aku melakukannya sesuai rencanamu, maka yang akan menerima dampak baik adalah aku. Milla hanya akan tahu kalau akulah orang yang berjasa. Bukan kamu!"
Deka menghela nafas berat. Memang pilihan ini berat untuknya. Dia dituntut untuk professional dalam hal ini. Perasaan adalah nomer dua yang tak penting.
"Itulah yang ku inginkan, paman."
Bachsmid langsung geleng-geleng kepala mendengarnya.
__ADS_1
"Seperti yang paman tahu, pernikahanku dan Milla hanya sebatas pernikahan formalitas agar mendapatkan bantuan dari keluarga George. Dan inilah bantuan yang bisa kami berikan."
Entah kenapa saat mendengar hal itu, hati Bachsmid mendadak sakit. Dulu dia pernah mengajak Milla menikah, sebenarnya maksud dia menikahi Milla adalah menjodohkan Milla dengan El, putranya. Tapi karena Milla menolak, maka pria di hadapannya lah orang yang menikah dengan Milla. Pria yang hebat tapi juga sulit untuk dimengerti.
Bachsmid tahu kalau Goerge tidak mungkin bisa memberikan bantuan seperti ini. Pria itu hanya punya nama yang baik di mata publik, kekuasaanya kurang lebih setara seperti dirinya. Tak mungkin mampu sehebat Deka. Jadi, Bachsmid yakin kalau ini semua adalah usaha Deka. Pria itu hanya menggunakan embel-embel keluarga Goerge agar dia segera menerima rencana yang Deka buat.
"Ku rasa aku tak punya pilihan lain selain mengikuti kemauanmu. Tapi apa kau yakin? Kau tidak akan menyesali ini kan?" Tanya Bachsmid berharap Deka membatalkan keputusannya.
"Tidak perlu risau, paman. Keputusanku sudah bulat. Paman bisa ambil semuanya. Terserah paman mau memilih yang mana dari para pendonor itu. Data dan semua tentang mereka akan aku kirimkan melalui Leo." Jawab Deka tanpa keraguan.
"Untuk tempatnya juga sudah aku persiapkan. Kita akan melakukannya di negara lain agar fasilitas dapat lebih memadai dan menunjang keberhasilan yang lebih tinggi. Ah, begitu pun dengan para dokter yang berpartisipasi. Aku sudah menyiapkan beberapa dokter hebat untuk itu. Tinggal menentukan tanggal saja."
Rasanya Bachsmid seperti lupa bagaimana cara agar tidak terkejut dengan tindakan Deka.
"Berarti tugasku hanya memberikan kompensasi kepada pendonor dan meyakinkan Milla, itu saja?" Tanya Bachsmid memastikan.
"Benar. Itu saja."
Bachsmid melirik ke arah Charris yang daritadi menyimak. Pria itu hanya mengangguk. Tentu saja menerima semua hal itu adalah keuntungan besar. Tidak ada kerugian.
"Huh, baiklah kita sepakat."
"Baik, kita ke pembahasan selanjutnya." Sambung Deka membuka kembali topik Pembicaraan.
"Eh, ada lagi?" tanya Bachsmid tak percaya.
"Ini masalah orang-orang di balik penyerangan mansion Milla dan juga Agatha."
Bachsmid menatap Deka penuh selidik.
"Jangan bilang kamu sudah menemukan misteri siapa dalang dan bagaimana semua itu terjadi?"
Deka mengangguk.
"Kurang lebih seperti itu." Jawab Deka.
__ADS_1
"Gila! Bocah ini benar-benar gila! Tidak hanya menemukan pendonor, dia juga bisa mengorek informasi sesulit ini dalam waktu singkat. Bahkan orang-orang ku saja sudah sangat kesulitan. Tapi bocah yang bahkan umurnya masih dua puluhan ini bisa mendapatkan sebanyak ini. Siapa sebenarnya dirinya?" Batin Bachsmid.