
Deka menjauh dari Milla dan langsung menyalakan keran untuk memenuhi bathtup dengan air. Deka menggabungkan air panas dan air dingin ke dalam bathtub agar air di dalam sana menajdi hangat. Tak lupa pula dia menuangkan beberapa benda ke dalam bathtub seperti garam mandi, minyak mandi, bath bom dan beberapa benda lainnya yang ada di kamar mandi itu.
Sementara Deka melakukan itu, Milla masih mematung. Satu kecupan Deka berhasil membuat jiwa Milla terbang tinggi.
"Kenapa dia sungguh manis sekali hari ini!" Batin Milla menepuk-nepuk pipinya agar tersadar.
Deka yang melihat itu terkekeh. Setelah selesai menyiapkan semuanya, Deka langsung melepaskan bajunya. Milla yang mendengar suara baju basah jatuh ke lantai langsung panik.
"Tung, tunggu dulu, kamu seriusan dengan ucapan kamu tadi?" Tanya Milla yang tak menyangka kalau Deka benar-benar mengajaknya berendam bersama.
"Ya, tentu. Aku rasa berendam sehabis mandi hujan bukanlah hal yang buruk." Deka sudah membuka semua pakaian yang melekat ditubuhnya. Kini dia sudah telanjang bulat. Jika saja Milla bisa melihat, Deka yakin wanita itu pasti akan berteriak histeris. "jadi, kamu mau buka sendiri atau aku bukain?"
Sontak Milla menutupi dadanya dengan kedua tangan. Seolah melarang Deka untuk berbuat sesuatu padanya.
Deka tertawa melihatnya.
"Hahaha, untuk apa ditutupi? Aku sudah pernah melihat semuanya." Deka mengungkit kejadian yang terjadi beberapa hari yang lalu. Jelas Milla langsung malu mendengarnya.
Deka mengambil beberapa aroma terapi dan membakarnya. Lalu diletakkannya aroma terapi itu di samping Bathtup.
__ADS_1
"Tenanglah, aku janji gak bakal macem-macem." Ucap Deka mengeluarkan jurus terakhir. Dia tak mau Milla sakit hanya karena berdebat gak guna dengannya.
Deka mematikan shower dan membiarkan Milla berpikir.
"Janji ya," Milla mengangkat jari kelingkingnya.
Deka tersenyum melihatnya. Betapa menggemaskannya wanita di hadapannya ini. Dia membalas jari kelingking Milla dengan jari kelingkingnya. Mereka tengah mengadakan isyarat perjanjian.
"Iya, aku janji." Jawab Deka.
"Kalau begitu menjauhlah sebentar dan berbalik. Aku mau buka baju sebentar. Dan jangan mengintip." Tukas Milla berlagak galak.
Mau tak mau Deka mengalah dia berjalan ke arah pintu kamar mandi dan membelakangi Milla.
Setelah percaya Deka tak mengintip, barulah Milla melepaskan semua pakaian yang melekat ditubuhnya, menyusul Deka yang sudah telanjang. Baru setelah itu, Milla masuk ke dalam Bathtub untuk berendam terlebih dahulu.
"Ah, nikmatnya." Batin Milla saat air dalam bathtub membasahi tubuhnya.
"Sudah belum?" Tanya Deka memastikan.
__ADS_1
"Su-sudah." Jawab Milla malu-malu.
Deka langsung berbalik. Di depannya dia sudah melihat Milla masuk ke dalam bathtub terlebih dahulu agar dia tak bisa melihat tubuh Milla.
"Hahahaha, lucu sekali dia." Batin Deka berjalan menghampiri bathtub.
"Aku sudah boleh masuk juga?" Selidik Deka.
"Hhhmm." Milla menahan perasaan aneh yang menggebu-gebu dalam hatinya.
Mendengar persetujuan Milla, Deka langsung ikut masuk ke dalam Bathtub. Ukuran bathup itu cukup besar. Bahkan bisa di masuki sampai tiga orang sekaligus. Jadi, Deka dan Milla punya ruang yang cukup untuk berendam. Tapi bukan Deka namanya kalau hanya berjarak-jarak dalam keadaan seperti ini.
Dulu ayahnya pernah mengajarinya, untuk urusan wanita, lelaki terkadang harus menjadi orang yang lebih bernyali. Lelaki terkadang adalah orang uang harus memulai. Untuk itu, Deka mengikis jaraknha dengan Milla. Sampai akhirnya kedua kulit mereka bersentuhan.
"Bukankah ini nikmat sekali?" Tanya Deka basa-basi. Dia ingin mencoba agar dapat lebih dekat dengan Milla.
"Y-ya, kurasa begitu." Milla menenggelamkan setengah wajahnya untuk menutupi rasa malunya. Dia juga bergeser sedikit saat tangannya menyentuh tangan Deka. Ini adalah kali pertamanya berendam bersama pria. Wajar saja Milla merasa malu.
Deka yang melihat itu sedikit kecewa. Dia berpikir kalau Milla menolaknya. Tapi saat itu juga Deka teringat dengan beberapa wejangan ayahnya.
__ADS_1
",,,,Inisiatif memang bagus. Tapi namanya wanita itu sulit untuk ditebak. Kadang dia A, kadang juga B. Semuanya pasti tidak akan mudah terkendali. Tapi, saat berada dalam posisi itu, cobalah cairkan suasana. Dapatkan hatinya sebisa mulus mungkin. Sisanya akan berjalan perlahan-lahan tanpa di sadari." ~ Wejangan ayah Deka.
"Ah, ayah, wejanganmu memang terlihat berguna. Tapi, bagiku, mencairkan suasana adalah hal yang paling sulit kulakukan." Batin Deka mengumpat wejangan ayahnya. Dia lupa kalau dia bukanlah orang yang mudah mencairkan suasana.