
"Aku menolak. kalau kamu tetap di sini, aku juga tetap di sini." Pinta Milla saat tahu Deka tak ikut pulang bersamanya. Entah kenapa Milla bersikap seperti. Hatinya seperti mengatakan jauh dari Deka bukan sesuatu hal yang baik.
"Kamu pulang aja. Aku cuman sebentar, kok." Deka tak tahu harus berkata apalagi. Membujuk wanita bukanlah keahliannya.
"Ehm, Deka, kamu juga pulang saja. Kita bisa bicara nanti di rumah." Bachsmid mencoba menengahi kedua pasangan itu. Namun saat Bachsmid melirik ke arah Deka, pria itu tiba-tiba merasa takut.
"Ah, ada apa ini? Kenapa aura disekitarnya terasa berbeda." Batin Bachsmid mematung memandangi Deka.
"Tuan," Charris menyadarkan Bachsmid. Tangan kanannya itu membisiki sesuatu kepada Bachsmid.
"Ehm, ya sepertinya kita bicara sebentar." setelah dibisiki Charris, tiba-tiba saja Bachsmid menerima ajakan Deka untuk berbincang. "Selain Deka, pulanglah. Tak perlu khawatir, kami hanya sebentar saja."
Bachsmid memberikan kode kedipan mata kepada istrinya.
"Tap-"
"Sudahlah, Milla. Gak usah khawatir, kan ada tante di samping kamu. Ada El juga lagi," Potong Eny agar Milla dapat dibujuk. El yang mendengar namanya disebut langsung tersenyum.
"Iya, Milla. Biarkan saja Deka di sini. Biarkan papa berbincang dengannya sebentar. Ah, bagaimana kalau kita mampir ke mal biasanya kita dulu hangout bareng? Udah lama kan, kita gak kesana?" Meski terkesan seperti ingin menolong Deka. Ucapan El malah sama sekali tidak terdengar ada unsur kebaikan dalam penilaian Deka.
"Cih, bajingan kecil ini. Apa-apaan maksudnya barusan? Dia mau cari kesempatan dalam kesempitan kah? Apa aku ikut pulang saja dengan mereka?" Jengkel Deka dalam hati.
"Yasudah, kalau gitu. Aku ikut kalian pulang." Milla akhirnya memilih mengalah. "aku tunggu di rumah ya, Deka."
__ADS_1
Entah kenapa kini Deka malah merasa menyesal. Apalagi setelah melihat raut wajah bahagia El.
Ketiganya akhirnya meninggalkan kantor Bachsmid. Kini tersisa Deka, Bachsmid dan Charris di sana.
"Mau minum teh lagi?" Tawar Bachsmid setelah mereka duduk kembali di sofa.
"Cukup, paman." Tolak Deka.
"Oke, kalau begitu langsung saja. Apa yang mau kamu bicarakan denganku?"
"Ini tentang perihal Agatha."
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu?"
Sontak Bachsmid dan Charris terkejut.
""Maksudmu?"
Deka mengambil lagi map tadi.
"Alasan kenapa aku berkata seperti itu adalah surat kesepakatan yang ada di sini."
"Yang isinya hanya satu pasal itu saja?"
__ADS_1
"Benar. Kita tentunya tidak bisa tahu isi pasal lainnya karena semuanya habis terbakar. Tapi beda lagi jika kita hubungkan dengan para pembunuh bayaran."
Deka menjeda ucapannya dan beralih ke arah foto-foto yang berserakan di atas meja.
"menurutku untuk menyewa pembunuh bayaran yang dibutuhkan hanyalah uang. Jika uangmu banyak maka kau bisa menyewa mereka, bahkan sekelas pembunuh elite eropa. Jadi, surat kesepakatan ini tidak ada hubung kaitnya dengan para pembunuh bayaran sebab mereka hanya butuh uang. Tapi, tak menutup kemungkinan kalo surat ini milik klien ke para pembunuh bayaran. Namun, coba lihat isi pasal di sana." Deka meminta untuk membaca isi pasal itu.
",,,, pihak satu akan 20% properti yang di,,,," Charris membacakan isi pasal tersebut.
Sangat pendek tapi tentunya bermakna banyak.
"Para pembunuh bayaran itu tentu tidak akan berpikir bodoh dengan membawa surat sepenting ini dalam misi. Sebab jika misi gagal dan informasi klien bocor, komplotan mereka yang akan kena imbasnya." Sambung Deka memberikan pencerahan.
"Masuk akal." Terang Bachsmid mendengar penuturan Deka.
"Maaf, tuan Deka. Tapi benarkan kalau Agatha merupakan salah satu dalangnya?"tanya Charris kepada Deka. Tadi mereka terkesan terlalu cepat menyimpulkan. Jadi, dia takut kalau ternyata mereka salah menduga.
"Menurutku benar. Seperti yang sudah diceritakan oleh Milla tadi, Agatha punya power yang sangat kuat di negara ini. Menyewa pembunuh dan membawanya masuk tanpa ketahuan tentu hal yang mudah baginya. Jadi, bisa dipastikan kalau dia salah satu pelakunya."
"Em, berarti kita hanya terkendala dalam bukti saja ya?" Kini giliran Bachsmid yang angkat suara.
Mendengar itu membuat Deka tersenyum.
"Bukti? sekarang memang tidak punya, tapi bukankah lebih baik memberi umpan terlebih dulu agar lebih mudah menangkapnya?"
__ADS_1