Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
34. Sebuah Alasan


__ADS_3

Milla menyendok yang ada di piringnya. Karena tak bisa melihat, ia tak tahu apa yang ada dalam sendoknya. Tapi Milla dengan percaya diri melahap itu.


"Bagimana?" Tanya Deka yang terus mengamati Milla.


Wanita itu terdiam. Dia mengunyah pelan makanannya. Memejamkan mata dan mengendus piringnya.


"Enak! Ini enak!" Semeringah Milla tentang lauk yang ia rasakan. Menurut lidahnya ia memakan nasi dan beberapa sayur. Tapi ada sebuah daging lezat yang belum pernah ia makan sebelumnya.


"Hhhhm, aku binggung. Rasanya ada sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya dalam suapan barusan." Sambung Milla penasaran.


"Memangnya seperti apa rasanya?"


"Hhhhm, itu seperti daging. Tidak. Sesuatu yang seperti itu tapi memiliki rasa yang lain."


"Apakah itu enak yang kau maksud?"


"Iya, dengan tambahan bumbu dan sayur, daging itu terasa enak sekali. Kalau boleh tahu apa yang barusan aku makan?"


"Itu ati."


Milla mengerutkan dahinya. Baru pertama kali ia mendengar nama itu.


"Ati? apa itu?"


"hhmm, kalau aku tidak salah, itu adalah hati kambing. Atau mungkin jeroannya. Entahlah, aku tak tahu pasti."

__ADS_1


Milla terbelalak.


"Uhuk, uhuk." Milla sampai tersedak mendengar jawaban Deka.


"Kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Deka santai sambil ikut menyantap makanan dipiringnya yang sejenis dengan piring Milla.


Milla dengan cepat meraba meja.


"Mana air?" Tanya Milla. Deka mengambil gelas berisi air putih itu dan memberikannya kepada Milla.


"Glek, glek," Milla menghabiskan air dalam gelas itu dalam sekali teguk.


"Kurasa tidak ada salah dengan masakan ini. Bukannya tadi dia juga bilang ini enak? Apa jangan,," Batin Deka setelah menyuap satu sendok.


"Hei, jangan bilang ini pertama kalinya bagimu?" Tanya Deka memastikan.


"Hah, dasar anak orang kaya. Bukannya barusan kau bilang rasanya enak?" Tanya Deka tak habis pikir hanya karena hati kambing Milla tak mau makan.


"Apa kamu tidak membayangkan itu hati. Man,,"


"Sudahlah, kau tak perlu terlalu membayangkan sesuatu yang tidak perlu. Jika itu bisa dimakan, bukannya seharusnya sudah cukup? Lagipula ingatlah keadaan kita berdua saat ini."


"Ya, kau benar. Kita harus cepat menghubungi paman George. Dia pasti akan langsung datang."


Deka menghela nafasnya mendengar penuturan Milla barusan. Dia meletakkan sendoknya dan menatap Milla serius.

__ADS_1


"Kau serius berkata seperti itu?"


"Tentu saja. Dengan bantuan paman, masalah seperti ini pasti langsung selesai."


Deka tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


"Aku tak tahu kenapa kamu bisa menyimpulkan bertemu pamanku akan membuat masalah ini selesai. Tapi izinkan aku bertanya satu hal terlebih dahulu, apakah kamu pernah bertemu mendatangi pamanku secara langsung?"


"Em, itu, aku belum pernah. Biasanya paman George lah yang akan datang menjengukku."


Seketika Deka paham kenapa Milla bisa yakin untuk menemui pamannya.


"Ternyata begitu. Jika seperti itu, biar kujelaskan padamu kenapa kita tak boleh langsung menemui pamanku."


"Kenapa?"


"Karena jika kita melakukan itu, hanya kematian yang akan menanti kita."


Milla terbelalak. Bayangan kejadian semalam menghampirinya. Raut wajahnya nampak tak bisa memendam rasa takut. Deka dapat melihat hal itu dengan jelas.


"Ah, maaf jika karena ku kamu jadi ingat kejadian semalam. Tapi, apa yang aku ucapkan ini berasalan. Seharusnya kamu sudah tahu bukan alasan kenapa kita berdua menikah?"


Milla mengangguk.


"Alasannya jelas, agar pamanku bisa memberikan perlindungan padamu yang memiliki musuh. Tapi, kenapa tidak dia sendiri yang melindungi mu? Bukankah itu lebih mudah?" Deka menjeda ucapan sembari menyeruput kopi.

__ADS_1


"Jawabannya adalah karena ia takut. Dia takut memiliki sisi lemah yang lain. Dibanding dengan kamu yang memiliki musuh yang sudah cukup jelas, pamanku memiliki musuh dalam kegelapan. Mengetahui musuhnya sangat banyak dan yak terlihat membuat pamanku terus bergerak. Mustahil bagi kita bisa menemui pamanku tanpa menghubungi orang kepercayaannya. Dan mendatangi tanpa tahu di mana ia berada sekarang hanya akan memancing musuh baru yang lebih kuat." Sambung Deka melalui pengamatannya.


"Lagipula mereka sekeluarga sedang tidak ada di negeri ini." imbuh Deka membaritahu Milla keadaan keluarga pamannya itu.


__ADS_2