Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
15. Berangkat ke Kantor


__ADS_3

"Pagi, pak Kadir." Sapa Deka sebelum masuk ke dalam mansion.


Pria berumur itu hanya mengamati Deka. Dia nampak binggung dengan kahadiran Deka.


"Ini, saya pak, Deka. Suaminya Milla." Lanjut Deka yang sadar kalau satpam itu lupa dengannya.


"Oh, iya, Mas Deka ya? Maaf-maaf, umur saya udah tua jadi gampang lupa." Pak Kadir menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hehehe, iya pak gak masalah."


Deka menghiraukan hal sepele seperti ini sebab ia merasa wajar saja dengan penampilan pak Kadir yang sudah berumur.


"Silahkan masuk, mas." Pak Kadir mempersilahkan Deka untuk masuk.


Deka pun pamit untuk masuk kepada pak Kadir. Di depan mansion utama, Deka sudah melihat mobil mewah terparkir di sana. Nampaknya ada seseorang penting yang datang kemari.

__ADS_1


Entahlah, Deka tak tahu siapa itu dan tak mau tahu juga. Dirinya cukup menebak saja. Tak peduli dengan hal yang berkaitan dengan Milla sesuai perjanjian mereka.


Deka menghiraukan mobil itu dan langsung menuju kamarnya. Letak kamar Deka ada di mansion kedua menurut penjelasan Albert kemarin. Singkatnya, Mansion milik Milla ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu mansion utama dan mansion kedua. Letak keduanya bersebelahan hanya berbatas beberapa meter saja. Sisa dari luas mansion ini terletak pada halamannya. Mungkin sebutannya sudah bukan lagi halaman, melainkan sebuah kebun.


Tepat dibelakang Mansion utama terdapat tanah hijau yang ditumbuhi oleh bunga yang indah serta sebuah kebun kecil berisi berbagai macam sayuran. Deka tidak tahu pasti bagaimana suasana kebun tersebut karena ia tidak bisa ke sana. jalan masuk ke kebun tersebut harus melalui mansion utama. Jadi, tidak mungkin Deka bisa melihat kebun itu. Yah, bagi Deka itu bukan kerugian juga. Jadi, tak perlu ambil pusing.


Berbeda dengan Deka yang hendak ke kamar untuk menyambung tidur, Milla malah harus bergegas untuk berangkat ke kantor.


Setelah selesai mandi dan berdandan dibantu oleh Nana, Milla segera turun ke ruang tamu untuk segera berangkat ke kantor.


"Selamat pagi, Nona. Apa kita bisa langsung berangkat?" Sapa Albert dengan senyuman menghiasi wajahnya. Namun, jika ada orang lain di sana, pasti mereka akan merasa senyuman Albert begitu aneh. Seperti bukan sebuah senyuman sapaan dipagi hari untuk tuannya.


"Pagi juga, Albert. Ya, langsung berangkat saja. Aku sarapan di kantor." Balas Milla sambil mengikuti arahan dari Nana untuk menuruni tangga.


Albert berjalan lebih dulu dan langsung membukakan pintu mobil untuk Milla.

__ADS_1


Begitu Milla masuk, Albert langsung menutup kembali pintu mobil. Namun, ia tak langsung masuk ke belakang kemudi. Dirinya nampak berbincang sebentar dengan Nana.


Lima menit berlalu, Albert baru masuk ke dalam mobil.


"Ada apa?" Tanya Milla penasaran.


"oh, itu, nona. Saya meminta pak Kadir untuk membuka pagar." Jawab Albert dengan santai.


"Langsung berangkat ke kantor, nona?" Tambah Albert mengalihkan topik pembicaraan.


"Ya," Jawab Milla singkat.


Semenjak musibah menimpa dirinya, Milla berubah menjadi sosok yang lebih pendiam. Dia tak banyak bicara dan terkesan cuek bahkan galak. Padahal sebelum matanya tak mampu melihat, ia adalah sosok wanita yang ceria dan cenderung bawel. Jarang sekali melihat ia lebih banyak terdiam saat ini. Dan semua itu berubah dalam sekejap.


Inilah sosok Milla yang sekarang. Dia berubah dan sendirian. Sendirian dalam menghadapi banyaknya musuh yang iri padanya.

__ADS_1


__ADS_2