Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
41. Bakso Intel


__ADS_3

"dasar pria tak tahu diri! Ngomongnya aku kayak robot, tapi kelakuannya sendiri lebih parah. Lihat, empat mangkok bakso dihabiskan sendiri!" Batin Valeene yang geram terhadap Deka.


Valeene sudah selesai makan lebih cepat daripada Deka. Bagaimana tidak cepat, jika Deka nambah terus saat akan habis makan. Ini adalah porsi kelimanya Deka.


"Hei," Deka mencoba memanggil Valeene yang sibuk dengan ponselnya.


"Hei," Kali kedua Deka mencoba. Padahal jarak mereka tidak begitu jauh, tidak sampai satu meter.


"Halo Valeene, asisten ku hari ini?" Panggil Deka untuk ketiga kalinya. Akhirnya Valeene menoleh meski dengan tatapan super sinis.


"Hah, tak usah sinis begitu padaku. Lebih baik kau pergi carikan aku rokok." timpal Deka seraya menyeruput kuah baksonya.


"Aku tak mau mau." tolak Valeene mentah-mentah.


Deka tertawa mendengar penolakan dari Valeene.


"Kau lupa dengan tugas mu?"


Deka membuat Valeene menghembuskan nafas kesal. Wanita itu pasti sudah mengumpati deka dalam hatinya.


"Rokok apa dan berapa banyak?"


Valeene akhirnya mengalah. Dirinya tak bisa menang melawan Deka sebab tuntutan pekerjaan. Sejujurnya hal yang paling membuat dirinya geram adalah ketika Deka meledeknya seperti robot. Itu saja.


"Hehehe, satu bungkus saja, yang paling bagus dan mahal." Request Deka dengan senyum kemenangan.


"Cih, dasar." Umpat Milla dalam hati.

__ADS_1


"Oke, selama aku pergi, jangan pergi ke mana pun. Dan jangan coba-coba untuk kabur." Tegas Valeene meninggalkan gerobak tukang bakso itu berjalan menjauh.


Deka membalas dengan isyarat tangan hormat layaknya pasukan upacara anak sekolah dasar lalu melanjutkan makannya. Dirinya meliat ke sekeliling area tempat itu.


"pak, emangnya di sini biasanya sepi ya?" tanya Deka kepada tukang bakso yang sedang santai.


"Oh, tergolong ramai sih mas. Soalnya jalan komplek sini biasanya di pake buat jalur alternatif sama orang--orang. Tapi kalo yang tinggal di sini itu rata-rata orang kaya semua."


"Oh, gitu."


"iya, mas. Masnya sendiri dari mana? dari wajahnya asing gitu."


"saya memang bukan orang sini, cuman sekedar mau hadir di acara di mansion ujung aja."


"Owalah, rumah yang paling gede di sini itu? Gila keren-keren, mas. Tapi tumben rumah yang itu di pake."


"Yah, soalnya saya denger tuh, yang punya tuh rumah gede itu orangnya kaya banget. Jadi udah berapa lama gak di pake itu rumah. Banyak cerita horornya juga tuh rumah."


"Hhmm,"


Tak sempat berkomentar, beberapa pembeli datang menghentikan percakapan Deka dan tukang bakso itu.


Jika menyesuaikan dengan penuturan tukang bakso barusan, Deka paham maksud jawabannya. Memang benar daerah ini ramai. Namun hanya sebatas perempatan depan Deka saja. Banyak kendaraan berlalu lalang, seperti para pembeli tukang bakso ini yang kesannya cuman numpang lewat tapi lihat ada tukang bakso menggiurkan. Tapi jika lebih masuk ke dalam komplek perumahan ini, intensitas kendaraan cenderung sedikit, terutama di bagian mansion tadi karena letaknya paling ujung.


Para pembeli tadi perlahan-lahan menipis. Kebanyakan dari mereka membungkus bakso daripada makan di tempat. Setelahnya tukang bakso itu duduk bersantai kembali setelah para pembeli pergi semua. Tukang bakso itu duduk di depan Deka.


"Gimana? enak toh baksonya?" Tanya si tukang bakso sembari memasang muka bangga.

__ADS_1


"Mantap," Jawab Deka memberikan dua jempolnya ke hadapan tukang bakso.


Bertepatan dengan hal itu, Deka sudah menyelesaikan porsi kelimanya. dilanjutkan dengan meminum es tehnya yang tersisa.


"Biar cuman kaki lima, bakso saya ini udah lumayan terkenal, mas."


"Wah, masuk TV juga pak?"


"Ya, gak masuk TV juga sih mas. Cuman rata-rata orang daerah sini udah paham kalo saya mangkal di sini."


Deka mengangguk.


"Orang yang di komplek ini juga banyak yang beli pak?"


"Hhhmm, kadang-kadang sih. Soalnya rumah mewah yang ada di sini itu gak di tempetin secara menetap. Ah, kayak rumah mewah yang mas bilang tadi."


"Yang punya nya pak Agatha?"


"Iya, mas. Terus juga ada rumor kalo sebagian dari komplek perumahan ini punya pak Agatha."


Sontak Deka sedikit terkejut dengan fakta barusan.


"Sebagian?" Tanya Deka memastikan.


"Gosipnya sih gitu. Toh, pak Agatha juga orang pemerintahan."


Deka mematung memdengar jawaban tukang bakso itu. Meski hanya sekedar gosip, kemungkinan kebenarannya bisa enam puluh persen. Tapi ada sesuatu yang mengganjal di pikiran Deka.

__ADS_1


"Hhhmm, kalau memang benar si Agatha ini sangat kaya dan punya kuasa, kenapa Milla tak meminta bantuannya dari awal? Bahkan tadi saat di telpon sebentar orangnya langsung datang menolong. Bukannya hal itu lebih mudah untuk dilakukan?" Tanya Deka dalam pikirannya.


__ADS_2