
"Ma, kata Rendi dia mau ketemu sama mama. Dia bilang rindu banget loh." Ucap seorang gadis cantik dengan perasaan bahagia. Mereka berdua sedang berada di dalam mobil hendak pergi ke bandara.
"Oh, iya? Bagus dong itu. Mama juga udah kangen sama calon menantu mama itu." Balas wanita yang di panggil mama oleh gadis itu.
Gadis itu terkekeh mendengar jawaban mamanya. Perasaannya sungguh berbunga-bunga kala itu. Dia membayangkan wajah pria yang belakangan ini selalu muncul di benaknya.
"Hayo, ngelamunin apa?" Tanya sang mama sembari mencolek hidung anak perempuannya itu.
"Hah? Gak kok, aku gak ngelamun." Kelak gadis itu membuang muka ke arah jendela mobil. Sang mama hanya bisa tertawa melihat tingkah anaknya yang baru jatuh cinta itu. Dia memakluminya sebab dia tahu masa muda memang seperti itu.
"Ngeliat kamu kayak gitu, bikin mama keinget waktu pertama kali ketemu sama ayah kamu."
Gadis itu langsung menoleh ke arah sang mama. Dia nampak antusias kalau sudah cerita tentang masa lalu mamanya.
"Gimana tuh, ma?" Tanya gadis itu penasaran.
"Hhmm, jadi, gak jadi deh ceritanya. nanti ngebosenin."
Raut wajah gadis itu yang tadinya antusias langsung berubah cemberut.
"Ih, mama tuh. Bikin kesel aja, deh."
__ADS_1
"Hahaha, cerita mama sama ayah itu gak terlalu romantis, sayang. Jadi kalau diceritain malah yang ada kamu tidur."
"Gak, ma. Janji. Aku janji gak bakalan tidur."
Gadis itu mengangkat tangannya dan menyodorkan jari kelingkingnya.
"Yang penting itu bukan ceritanya, tapi pesan yang bisa diambil hikmahnya apa." Mama gadis itu malah menepuk tangannya.
"Ma,,,," Gadis itu mulai merajuk kembali.
"Kamu inget pesan mama, gak peduli seberapa kaya pasangan kamu, seberapa tampan pasangan kamu, seberapa berkuasanya pasangan kamu, kalau dia hanya mencintaimu sebatas apa yang ada, mama gak bisa jamin hubungan kamu bertahan lama."
Si gadis hanya termenung mendengarkan nasehat ibunya.
...****************...
"Tolong! TOLONG! TOLONG AKU! Jangan tinggalin AKU, mama!" ucap Milla yang masih terpeejam sembari mengangkat kedua tangannya seperti ingin menggapai sesuatu.
"Tidak!!!!" Teriak Milla sembari bangkit dari tidurnya.
Deka berlari ke arah Milla yang masih duduk di atas kasur. Sesaat kemudian ia terbangun dan sadari kalau barusan hanyalah mimpi semata. Milla menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Tak terasa air matanya jatuh begitu saja.
__ADS_1
"Milla, Milla, kau baik-baik saja?" Tanya Deka duduk di sisi kasur melihat Milla yang tengah menangis.
"Hiks,,,,hiks,,,, a,,,,ku,,,,,hiks." Suara Milla terdengar begitu bergetar. Sisi rapuh dalam diri Milla akhirnya Deka saksi kan secara langsung.
Pria itu mendekati Milla dan memeluknya.
"Hush,,, jangan menangis, itu hanyalah mimpi buruk." Ucap Deka membawa Milla dalam dekapannya. Deka berusaha menenangkan wanita itu agar tidak terlalu berlarut dalam kesedihan. Rasa begitu menyakitkan melihat wanita itu terus menerus bersedih.
"A,,,,,aku, aku takut." ungkap Milla tak kuasa menahan tangisnya.
Deka mengecup ujung kepala Milla.
"Ada aku di sini. Kamu tak perlu takut. Aku akan menemanimu,"
Bukannya berhenti, tangis wanita itu malah semakin menjadi-jadi. Milla menerima pelukan Deka dan menangis sejadi-jadinya dalam pelukan itu. Milla merasa tak malu untuk melakukan itu semua. Entah mengapa bagi Milla pelukan Deka terasa sangat nyaman.
Deka membiarkan Milla mengeluarkan semua perasaannya. Dia tahu wanita itu butuh tempat untuk bersandar. Dua kali wanita itu hampir meregang nyawa tentu menjadi sebuah trauma besar dalam diri wanita itu.
"Kau tahu, kamu adalah salah satu wanita terhebat yang pernah aku temui." Terang Deka mencoba membuat perasaan Milla lebih baik.
"Usiamu masih muda, tapi setelah kejadian sebelumnya kamu berani mengambil langkah tanpa ragu-ragu. Jika itu orang biasa, mereka pasti akan menyerah di tengah jalan dan mungkin mereka akan cenderung memilih jalan pintas." Deka mengusap rambut panjang Milla perlahan. Suara tangis Milla sudah tak begitu terdengar, tapi Deka tahu kalau wanita itu masih menangis tanpa suara.
__ADS_1
"Hei, aku punya sesuatu untukmu." Ucap Deka melepaskan pelukannya.