Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
105. Mandi Hujan


__ADS_3

Deka tak menolak ajakan Milla untuk mandi hujan. Bagaimana bisa dia menolak ajakan gadis secantik itu.


"Hah!! Segarnya!!!!!" Teriak Milla saat terguyur air hujan. "Sudah lama banget aku gak mandi hujan."


Deka hanya bisa terkekeh. Dia berjalan di sebelah Milla.


"Kau suka mandi hujan?" Tanya Deka mengenggam tangan Milla, mengarahkannya ke arah tempat mobil dan anak buahnya menunggu.


Milla tersenyum lebar. Deka yang melihat senyuman itu seperti tersihir.


"Dulu aku suka banget. Tapi ayahku selalu memarahiku setelahnya. Bahkan omelanmya masih aku ingat."


"Oh, ya? kayak gimana omelanmya?


Milla menghentikan langkahnya. Dia mengongak ke langit membiarkan air hujan menerpa wajahnya. Lalu, dia tersenyum.

__ADS_1


"Milla! kamu ini udah ayah bilangin berkali-kali masih aja bandel. Jangan mandi hujan, nanti kamu sakit. Terus besoknya malah bolos. Kamu itu cewek jangan kayak gitu. Blablalba." Jawab Milla sembari mengikuti logat ayahnya.


Milla tertawa lepas setelahnya. Dingin yang menerpa tubuhnya seakan-akan menghilang. Dia menikmati guyuran air hujan. Kenangan bahagia masa kecilnya memang takkan pernah terganti.


"Hahaha, kamu memang nakal sejak kecil ya." Balas Deka sedikit berteriak agar suaranya tak kalah dengan air hujan.


"Hehehe, itu bukan nakal. Aku hanya menyukainya."


Keduanya tertawa bersama. Sama seperti Milla, Deka juga cukup menyukai air hujan. Sesaat sesudahnya, Deka menarik Milla mendekat ke arahnya. Tarikan Deka membuat Milla membentur dada Deka.


"Aw, Deka, apa mak- Hmphft"


Deka langsung mendekatkan bibirnya ke bibir ranum milik Milla. Dengan berani Deka mencium Milla. Tentunya Milla yang mendapatkan ciuman secara tiba-tiba terkejut, tapi dia tidak memberontak sama sekali. Dia membiarkan Deka membawa ciuman itu menjadi ciuman panas.


Milla yang tidak mahir dalam hal itu menyerahkan permainannya pada Deka. Dia membuka mulutnya dan membiarkan Deka bermain-main di sana. Hingga akhirnya ciuman itu berubah menjadi semakin memanas Deka melepaskan pangutannya. Deka menempelkan dahinya di dahi Milla. Keduanya nampak ngos-ngosan berusaha mencari oksigen untuk dihirup.

__ADS_1


Deka tersenyum puas. Dia kira Milla akan marah. Tapi Milla malah memberikannya kesempatan. Namun kesadaran Deka berpikir ini harus di akhiri. Jika dilanjutkan Deka takut akan ada sesuatu yang perlu dipadamkan.


"Huh, mari kita pulang." Ajak Deka masih setia menatap wajah Milla.


Milla mengangguk. Deka mengenggam tangan Milla dan berjalan masuk ke arah tempat anak buahnya sudah menunggu.


"antarkan aku ke kediaman Bachsmid." Ucapnya pada Clio yang tengah membukakan pintu untuknya.


"Baik, bos." Jawab Clio.


Milla yang masuk duluan ke dalam mobil langsung tersadar.


"Aih, Milla! apa yang tadi kamu lakukan? Kamu membiarkan pria ini menciummu. Tidak, bukan itu masalahnya. Masalah sebenarnya adalah kita berciuman di depan anak buahnya? Aih, bisa gila aku." Batin Milla.


Wajah Milla langsung memerah layaknya tomat. Dia yakin anak buah Deka pasti melihat mereka berciuman. Buktinya setelah mereka berciuman, hanya berjalan dua langkah saja mereka sudah bisa langsung sampai di depan mobil. Artinya, tempat tadi Milla terdiam itu tak jauh dari parkiran tempat anak buah Deka menunggu.

__ADS_1


Sementara itu, Deka yang memang dari awal sudah tahu bersikap biasa aja. Kalau pun anak buahnya melihat, tidak akan ada satupun di antara mereka yang berani macam-macam. Yang ada malahan hati Deka sangat berbunga-bunga saat ini. Ini adalah perasaan yang baru pertama Kali Deka rasakan. Dan jujur dia suka apa yang di rasakannya.


__ADS_2