Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
38. Om genit


__ADS_3

Deka menyerahkan selembaran uang kepada sang supir taksi. Lalu, taksi tersebut langsung meninggalkan Deka dan Milla di pinggir jalan.


"Huh, sisa uang kita mulai menipis." tukas Deka menghitung sisa uang bekas jarahannya semalam.


Andai saja semalam Milla bisa berpikir cukup jernih untuk membawa dompetnya. Mungkin mereka bisa pergi ke tempat yang lebih aman dengan mudahnya.


"Duduklah di sini," Deka mengarahkan Milla untuk duduk.


"Apa uang itu cukup jika kita pergi ke tempat pamanku." Milla memberikan saran yang sedari tadi ia pikirkan.


"Bukannya sudah kubilang paman George tidak bisa membantu?"


"Tidak, ini orang yang berbeda. Setelah aku ingat-ingat, paman ku satu ini mungkin bisa membantu."


Jawaban Milla memang terkesan menyakinkan tapi bagi Deka itu berbeda. Intonasi dan power suara Milla terdengar tidak semeyakinkan itu.


"Kau yakin? Ini pamanmu yang mana lagi??"


"Hhhmm,,, Iy,iya aku yakin. Dia kenalanku."


"kenalanmu? Ap-"

__ADS_1


"Panggilkan nomer posel ini."


"Hey, aku Bel-"


"Sudahlah percaya padaku. Hanya ini satu-satunya solusi dari ku."


Deka memilih untuk mengalah dan menelpon nomer yang di sebutkan oleh Milla. Tak sampai tiga deringan, panggilan itu langsug di angkat. Deka langsung menyerahkan ponsel itu pada Milla.


"halo?" sapa Milla saat menerima ponsel dari Deka.


Milla kemudian memperkenalkan diri dan berbincang-bincang dengan orang yang ia telpon. Dari suara yang Deka dengar, suaranya seperti wania. Bukan laki-laki seperti yang Milla sebut barusan tentang ia akan menemui pamannya. Nyatanya yang menerima panggilan adalah wanita. Naun Deka tidak ambil pusing dengan hal itu. Mari lihat dulu keadaan,, kalau sekiranya membahayakan barulah Deka perlu memanggil Leo.


Beberapa menit berlalu, Milla akhirnya menyelesaikan panggilannya.


Milla dengan wajah sumringah mengembalikan ponselnya kepada Deka.


"Aman. Pamanku bilang ia sendiri yang akan datang kemari."


"siapa namanya?"


"Paman Sean."

__ADS_1


"Oh, oke. Dia bisa dipercaya bukan?"


"ten, tentu." Jawab Milla dengan sedikit ragu--ragu.


"Kau seperti rag-"


"tenanglah. Masalah ini akan segera teratasi."


"bukan begitu. Jika kamu mau, aku bisa menawarkan bantuan."


"Seperti apa? Bukan maksudnya meremehkanmu, tapi kali ini yang terjebak masalah adalah kita berdua. Aku tentunya berterimakasih padamu atas bantuanmu selama ini. Tapi aku tak yakin kamu bisa melawan orang--orang itu. Mereka tidak hanya pandai bertarung, tapi juga punya kuasa."


"Hhmm, baiklah kalau kamu berkata seperti itu."


Lagi-lagi Deka memilih untuk mengalah. Mungkin ini karena Milla tak tahu siapa Deka sebenarnya. Makanya Milla beranggapan Deka hanya bisa membantunya sebatas pengawalan saja. Padahal kalau Milla tahu kebenarannya, semua masalah yang sedang mereka hadapi akan selesai dalam hitungan detik.


begitupun dengan Deka, ia beranggapan tak perlu sampai menyuruh anak buahnya ikut campur. Sebab semuanya akan terlalu sadis jika anak buahnya ikut campur. Setidaknya untuk saat ini Deka cukup mengamati dulu. Siapa musuh dan siapa yang perlu ia lindungi.


Lima belas menit mereka menunggu, dua buah mobil berhentii di depan mereka.


Dari dalam mobil keluar beberapa pria yang langsung bersiaga si sekitar mobil pertama. Salah satu pria membukakan pintu mobil.

__ADS_1


Nampak seorang pria paruh baya keluar dengan tampilan glamournya berjalan mendekati Milla dan Deka. Pria itu disusul oleh seorang wanita tepat dibelakangnya. Perawakan pria itu seperti om--om genit dengan uang yang sangat banyak.


"Oh, Nona Milla! Itu benar kau! Kau tetap saja terlihat cantik." Ungkap pria itu dengan nada penuh semangat.


__ADS_2