Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
24. Masuk kamar Deka


__ADS_3

"Nona, nona?" Albert menyentuh pelan pundak Milla.


"Ah, iya. Ada apa?" Kaget Milla.


"Kita sudah sampai mansion. Biar saya bantu anda untuk ke kamar."


"Iya,"


Keduanya langsung masuk ke dalam mansion utama menuju kamar Milla. Hari ini Albert merasa sedikit aneh. Kemana perginya Nana. Padahal biasanya dia akan menyambut kedatangannya. Namun, untungnya yang sadar hanya Albert saja. Jadi, dia rasa Milla tidak akan bertanya tentang keberadaan Nana.


Keduanya sampai ke dalam kamar Milla.


"Terimakasih, Albert. Sampai sini saja. Aku bisa sendiri," ucap Milla mendorong pintu kamarnya.


Milla masuk ke dalam kamarnya dan Albert pergi mencari Nana. Ia berjalan pelan sambil meraba-raba sekelilingnya. Saat dirinya menyentuh kasur, Milla langsung merobohkan tubuhnya ke atas kasur.


Rasanya begitu nyaman. Hanya dalam hitungan detik, Milla sudah terlelap ke dunia mimpi. Beda halnya dengan Deka, ia malah nampak baru bangun tidur.

__ADS_1


Deka duduk di pinggiran kasur sambil mata masih mengerjap-ngerjap. Sepertinya dia masih dalam keadaan mengantuk. Beberapa kali ia kembali rebahan di kasur lalu duduk kembali. Mungkin terhitung sampai 10 kali ia melakukan hal itu.


Namun suara deringan menbangunkan Deka sepenuhnya. Deka segera mematikan dering ponselnya dan beranjak menuju kamar mandi.


Tiga puluh menit berlalu, Deka akhirnya keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk sepinggang. Dirinya berjalan ke arah lemari, mencari pakaian untuk dikenakan. Sebuah kaos oblong hitam polos menjadi pilihannya disertai dengan celana pendek seletut kakinya.


Ceklek, tiba-tiba saja pintu kamar Deka terbuka. Deka langsung menoleh ke arah pintu.


"Siapa kamu?" Tanya Deka masih memegang kaos ditangan kanan dan celana di tangan kiri.


Wanita itu nampak kaget. Namun, setelah rasa kaget ada sesuatu dalam pandangan wanita itu ketika menatap Deka di kondisi itu.


"Ah, itu. Aku Nana." Jawab Nana dengan gelagapan. Cepat-cepat Nana membuang mukanya ke arah bawah. Wajahnya juga nampak memerah.


Deka hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Nana.


"Oh, ada urusan apa?" Tanya Deka kembali seraya mengenakan kaosnya.

__ADS_1


Nana mengangkat kepalanya hendak menjawab Deka dengan menatap Deka. Namun, Nana malah kembali dibuat tersipu malu hingga ia menunduk lagi.


"Aih, dasar aneh. Kalau tidak salah, kau pelayannya Milla kan?" Respon Deka yang sudah mengenakan kaosnya.


Nana hanya mengangguk dan tetap tak berani menatap Deka.


"Ah, maaf. Saya harus pergi. " Nana menghiraukan tatapan serta pertanyaan Deka dan langsung keluar dari kamar Deka.


"Huh?! Apa-apaan itu. Masuk kamar orang hanya untuk menatapku lalu kabur keluar. Benar-benar aneh," Gumam Deka melihat kepergiaan Nana.


Deka tak mengejar atau menahannya. Jadi, Nana bisa bernafas lega setelah keluar tak jauh dari kamar Deka.


"Aih, kenapa pria itu ada di kamarnya malam ini? Bukannya biasanya ia pergi keluar?" Heran Nana yang bersembunyi dibalik tembok.


Nana menetralkan nafasnya hingga teratur. Dirinya memang sudah beberapa kali melakukan hal ini. Alasan ia berkunjung ke kamar Deka adalah untuk membersihkan kamar Deka sekaligus mencari tahu apakah Deka sedang merencanakan sesuatu. Dan baru kali ini ia melihat Deka masih dikamarnya jam segini. Tentunya tidak lupa dengan keadaan hanya handukan saja.


Saat mengingat kejadian barusan, pipi nana langsung memerah begitu saja.

__ADS_1


"Aih, cowok itu. Aku tidak menyangka kalau ia punya tubuh yang sangat ideal," Batin Nana sembari senyum-senyum sendiri.


__ADS_2