
"Motornya bagus, mas." Puji pak Kadir saat Deka sedang memanaskan mesin motornya.
"Hahaha, makasih, pak. Ini motor custom bekas,"
"Oh, pantesan bentuknya gak kayak motor-motor pada umumnya."
"Iya, pak Kadir. Soalnya kalo yang biasa udah sering liat. Jadi mending beli yang ini mumpung nemu harga yang cocok."
"Oh, beli cash?"
Deka hanya cekikikan disertai dengan cari jempol yang terangkat. Tak lupa juga Deka menawarkan pada pak Kadir untuk mencoba mengendarai motornya itu. Namun, niat baiknya ditolak mentah-mentah karena ternyata pak Kadir tidak bisa menggunakan motor kopling.
Keakraban keduanya nampak oleh beberapa orang yang ada dimansion itu. Tak terkecuali oleh Nana dan juga Albert. Tak jau dari mereka, Nana nampak sedang mengamati Deka yang sedang akrab dengan pak Kadir.
"Cih, kenapa aku khawatir setiap kali melihat wajah pria itu? Tidak mungkin dia akan menghancurkan rencana ku bukan? Tidak, tidak. Berpikirlah positif, dia tidak mungkin bisa mengacaukan rencanaku." Batin Nana yang nampak tak suka atas kehadiran Deka.
__ADS_1
Sebenarnya sebelum Milla hendak menikahi Deka, Nana sudah mencoba mencengahnya dengan tipu muslihatnya. Dirinya menyebarkan banyak rumor miring tentang Deka. Namun, hasilnya nihil, Milla tetap bersikukuh mau menikahi Deka atas dasar bantuan dari tuan George.
Hal itu pula yang membuat rencana Nana sedikit kacau sebab variabel baru datang. Meski Albert meyakinkannya bahwa Deka tidak akan mengacau, insting Nana berkata lain. Setiap kali ia menatap mata Deka dari kejauhan, ia tahu. Mata itu bukanlah mata pria normal pada umumnya. Deka bukan orang yang bisa di anggap enteng. Itulah penilaian Nana terhadap Deka. Jadi, untuk itulah ia meminta agar Albert mempercepat aksinya. Setidaknya jika Deka ikut campur, urusan mereka sudah selesai dan Deka tidak akan bisa apa-apa lagi.
Nana tersenyum licik setelah memikirkan kembaik jika rencana mereka berjalan lancar. Rasanya menyenangkan sekali.
"Lihat saja, tuan putri. Akan kuambil semua milikmu. Orang sepertimu tak pantas memiliki semua ke kayaan ini. Orang yang pantas adalah aku!"
Semburat kelicikan tak terlepas dari wajah Nana. Sepertinya rencananya benar-benar bisa membuat Milla meninggalkan kekayaannya kini.
Setengah jam berlalu, meeting itu nampak sudah selesai. Seorang wanita nampak menghampiri Milla dan Albert.
"Permisi, nona. Tuan George ingin bertemu dengan anda."
Milla mengangguk mendengar pesan dari salah satu karyawannya itu. Dengan dibantu oleh Albert, Milla pergi menghampiri tempat George menunggu.
__ADS_1
"Oh, menantuku yang cantik sudah datang." Sapa George yang langsung menghampiri Nana dan Albert.
"Biar aku saja yang membantunya mulai saat ini. Kau boleh keluar," George mengambil alih tugas Albert dan meminta Albert untuk meninggalkan mereka berdua.
"Terimakasih, tuan. Oh, apakah berarti aku harus memanggilmu, ayah?" Tanya Milla.
"Hahaha, kurasa itu memang diperlukan."
"Baikl,,"
"Hei, hei, aku hanya bercanda. Panggil saja aku uncle. Aku hanya bercanda barusan. Aku bukanlah sosok yang harus kau panggil seperti itu."
"Hhhhm, baiklah. Seperti yang uncle mau."
"Hah, seperti biasa kau sangat kaku untuk anak dari Eleanor."
__ADS_1
Seketika itu Milla nampak terkejut.