
Saat Deka menaiki anak tangga, ia mendengar suara gaduh dari lantai tiga. Deka yakin itu pasti rekan tiga pria yang tadi. Dengan cepat Deka menaiki tangga itu.
Sesampainya dilantai tiga, Deka tak melihat seorang pun disekitarnya nampaknya mereka berada agak jauh darinya. Deka kembali bergerak mengikuti sumber suara dengan perlahan. Melihat dari tampilan mansion ini, Deka sadar kalau mansion ini sangat luas dan memiliki banyak ruangan. Jadi, dia harus ekstra hati-hati sebab ia berada di posisi sangat tidak diuntungkan.
Selain tak tahu di mana kamar Milla, Deka juga tak diuntungkan karena tak tahu jumlah pasti musuhnya. Dia harus terus was-was, takut mereka menyergap melalui salah satu ruangan. Deka kemudian menyusuri sebuah lorong. Nampaknya suara itu berasal dari ujung lorong ini.
Dugaan Deka benar, suara itu berasal dari orang yang sama seperti ketiga pria di bawah. Deka berjalan mendekat. Dia nampak melihat dua orang sedang berjaga di depan sebuah kamar. Melihat itu, Deka membidik kepala salah satu pria. Nampaknya kedua pria itu tak menyadari kedatangan Deka karena jarak mereka masih terpaut jauh. Namun meski Jarak mereka terpaut jauh, Deka tetap yakin bisa menumbangkan keduanya dalam sekali gerak.
Setelah menghitung pergerakan, Deka berhenti. Nafas Deka terdengar berirama. Begitu tenang namun tatapannya tetap tajam ke depan, layaknya singa yang hendak menyergap buruannya.
"Headshot," Ucap Deka sembari menarik pelatuknya. sebuah peluru melesat kencang membelah angin. Dan menghantam keras kepala pria yang tadi ia incar.
"Siapa di sana!" Teriak pria disebalahnya yang kaget melihat temannya mati. Pria itu langsung menyerbu Deka dengan rentetan tembakan. Jarak yang terlalu jauh membuat pria itu tak mampu melihat Deka dengan jelas.
__ADS_1
Setelah melepaskan tembakan headshotnya, Deka ternyata langsung bersembunyi di salah satu kamar yang terbuka. Jadi tembakan pria itu hanya sia-sia semata. Saat sedang bersembunyi, Deka seperti menghitung mundur sesuatu bukannya balas menyerang. Ketika hitungannya habis, tembakan itu juga terhenti.
Saat itulah Deka bergerak. Bukannya menembak seperti tadi, Deka malah berlari menghampiri pria itu. Sadar didatangi oleh Deka, pria itu malah tersenyum.
"Dasar bodoh! Malah menghampiriku bukannya balas menembak. Kau pikir hanya karena kehabisan peluru aku kalah?" Teriak pria itu sembari melempar senjatanya ke arah Deka.
Deka menghindari lemparan itu dan ikutan membuang senjatanya. Sontak hal itu makin membuat pria itu terkejut. Saat keterkejutan itu datang, Deka sudah ada tepat di depan pria itu. Satu buah tendangan atas diberikan oleh Deka tanpa ragu-ragu.
"Cih, pria ini kuat!" Batin pria itu saat kaki Deka berhasil ditahannya.
Namun serangan Deka tak berhenti sampai di situ. Dengan kakinya yang masih terangkat, Deka melompat dengan tangan pria itu sebagai pijakan dan melesatkan sebuah tendangan dengan kaki yang satunya. Telak, tendangan Deka mengenai kepala pria itu dengan telak.
Pria itu mundur beberapa langkah. Nampaknya tendangan Deka membuat kesadarannya mulai hilang. Deka tersenyum melihat pria itu yang masih sanggup berdiri. Sepertinya Deka sudah memprediksi hal ini. Dia pun maju tepat ke depan pria itu.
__ADS_1
"Sial, dia cepat!" Gumam pria itu yang ketika sadar Deka sudah ada di depannya. Pria itu refleks menggunakan kedua tangannya sebagai tameng untuk menghindari pukulan jab dari Deka.
Namun, ternyata pria itu tertipu, Deka tidak melayangkan pukulan jab melainkan sebuah uppercut yang sangat keras padanya. Satu pukulan itu pun mengenai pria itu dengan telak. Pria itu langsung tersungkur dilantai.
Memang apa yang dilakukan Deka barusan berhasil, tapi tentu itu terlalu beresiko. Namun, bagi Deka ini begitu menantang, terlihat dari raut wajah Deka yang nampak bersemangat.
"Ah, iya. Aku lupa Milla." Batin Deka sebab lupa tujuan utamanya. Saat hendak membuka pintu kamar yang di jaga oleh kedua pria tadi, sebuah hentaman keras berbunyi dilantai bawah.
"Apa barusan itu? Tidak mungkin sebuah bom kan?" Tanya Deka saat mendengar suara yang keras itu.
"Hahaha, kau benar. Dan tujuan kami akhirnya selesai. dan kau kalah." terang pria tadi sembari menahan perih. Nampaknya pria tadi masih tersadar.
"Argh, sial aku terkecoh!" Umpat Deka.
__ADS_1