Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
6. Nostalgia


__ADS_3

"Anak bodoh! Kamu pikir berapa uang yang aku gunakan untukn mengeluarkannya!" Bentak paman Jio pada anaknya yang tak lain adalah Altan.


"Bukan begitu ayah. Dia sendiri yang kabur sebelum sempat memasuki mobil," Elak Altan mencoba mencari perlindungan agar ayahnya tidak terus-menerus memarahinya.


"Iya, yah. Kak Altan udah berusaha, cuman si tengik itu aja yang terlalu bandel." Bela seorang wanita yang duduk di sebelah kanan Altan. Wanita itu adalah adik Altan yang bernama Dhea. Meskipun selama bersaudara mereka tidak akur, tapi dalam kondisi seperti ini mereka selalu saling membantu. Hal itu karena bila satu salah, maka semua akan dianggap salah.


"Cih, dasar tidak berguna! Apa sih yang bisa kamu lakukan selain menghabiskan uang?" Perangai Jio mulai aktif, apalagi kalau bukan mengungkit masalah-masalah yang telah lalu. "Sungguh heran aku bisa punya anak sepertimu!"


"Jio, cukup! Mau sampai kapan kamu terus menyalahkan anakmu sendiri? Tidak bisakah kamu tenang. Kuyakin Deka akan datang sebentar lagi," Kali ini tante Maria alias istri Jio mencoba menenangkan suaminya. Dia paham betul watak suaminya bila sedang kesal ataupun marah, pasti mengungkit kesalahan orang lain.


"Jika sampai Deka tak datang, jangan harap aku memberikan posisi yang bagus untukmu di perusahaan, Altan." Tegas Jio meski itu kepada anak kandungnya sendiri. Sedangkan yang orang yang dibicarakan hanya menunduk tak bisa berkata apa-apa.


'Sialan kamu, Deka. Tak tahu diuntung, pake acara ngilang segala. Mana ayah bawa-bawa perusahaan lagi. Kan tamat riwayatku kalau sampai gak dapet posisi di perusahaan.' Batin Altan masih mengumpati Deka setelahnya.


"Sudah coba dihubungi?" Tanya Maria kepada Altan dan Dhea. Lantas kedua anaknya menggelengkan kepala, tanda jawaban mereka tidak. "Kenapa?"


"Kan pri, eh, maksudku kak Deka baru keluar dari penjara. Jadi gak mungkin bawa ponsel, Ma." Jawab Dhea disambut anggukan kakaknya Altan.


"Yasudah, kita tunggu pas...." Sebelum genap perkataan Maria, satpam rumah mereka menghampiri ke empatnya.


"Nyonya, tuan, maaf mengganggu, di depan sudah ada den Deka." Jelas pak satpam tanpa basa-basi. Wajah Jio sontak berubah seketika begitu mendengar berita itu. Dia segera menyuruh pak satpam untuk membawa Deka masuk. Dan berselang beberapa menit, Deka hadir di antara mereka.


"Malam, tante." ucap Deka menghambur ke pelukan tantenya. Dia tidak peduli dengan anggota keluarganya yang lain, selain tantenya. Tanpa terasa, bening air mata mengalir di raut wajah tantenya.

__ADS_1


"Deka,,, akhirnya kamu pulang," Ujar Maria masih dalam memeluk keponakannya yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. "Tante rindu sekali sama kamu,"


"Hem, iya, tante. Deka juga sama rindunya sama tante," Balas Deka melepas pelukannya. Dia melihat wajah wanita yang kini sudah tidak muda itu dengan sendu. Baginya Maria adalah ibu kedua dalam hidupnya, jadi wajar saja dia sangat rindu pada wanita itu. "Bagaimana kabar, tante?"


"Seperti yang kamu lihat, tante sehat." Jawab Maria dengan senyum mengembang di wajahnya. Entah sudah berapa lama ia tidak tersenyum lepas seperti ini.


"Ehm," Deheman Altan membuat Maria tersadar bahwa mereka sedang tidak berdua saja di sana.


"Deka, ayo sapa paman, kakak dan juga adikmu." Maria mengarahkan Deka agar mau menyapa anggota keluarganya yang lain. Dia sangat paham bahwa Deka tidak menyukai pamannya dan kedua anaknya, sehingga dia harus memaksa Deka untuk mau menyapa.


"Hhhmmm, halo paman, kakak, dan... Hhhmmm kamu Dhea? Adikku?" Tanya Deka setelah menyalami paman dan kakaknya. Namun yang di tanya malah termenung menatap dirinya tanpa sepatah kata pun. "Halo....???"


'Sial, apa ini benar kakak sepupuku? Astaga, kenapa dia tampan sekali? Lihatlah postur tubuhnya, aku yakin itu sangat ideal. Oh my god, kemana saja kamu pangeran tampan.' Ternyata sejak hadirnya Deka di hadapannya, membuat dirinya terpesona. Memang sewaktu kecil dia pernah bertemu dengan Deka, namun bukan Deka sekarang yang bisa dia katakan seperti pangeran dengan penuh kesempurnaan.


"Aw, apaan sih, kak! Berisik tahu!" protes Dhea setelah kembali ke dunia nyata.


"Lah, ini bocah napa dah? Lu tuh lagi di ajak salaman ama kakak sepupu lu malah bengong," Heran Altan menepuk jidatnya melihat tingkah aneh adiknya.


"Eh, maaf, anu, aduh, maaf." ucap Dhea ceplas-ceplos tak karuan. Dia merasa salah tingkah begitu tahu Deka sedang mentapanya juga.


"Ye, malah minta maaf gak jelas." Kesal Altan. Lalu dia mengambil tangan Dhea dan membuat Deka dan Dhea bersalaman.


"Ah, kakak!!" kaget Dhea. Sebenarnya dia sendiri tidak tahu kenapa sikapnya menjadi aneh seperti itu. Namun dia lebih memilih untuk menunduk dan tak berani menatap Deka.

__ADS_1


"Sudah, sudah. Langsung saja ke pokok pembahasan." Potong Jio menengahi kedua anaknya.


"Loh, yah. Kasian Deka kalau langsung bahas masalah itu sekarang. Dia capek baru sampai, biarkan di istirahat dulu. Baru besok kita bahas lagi," Tolak Maria mentah-mentah.


Suasana menjadi hening sejenak setelah Maria menolak pembicaraan mereka untuk dilanjutkan. Semuanya lebih memilih untuk larut dalam pikiran masing-masing. Deka yang paham kegelisahan pamannya memilih mengalah.


"Tak apa tante, lebih baik dibicarakan sekarang." Pinta Deka memecah keheningan di antara mereka. Pamannya pun melirik ke arah istrinya seakan meminta persetujuan. Dan yang dilirik hanya bisa pasrah jika Deka berkata demikian.


"Baiklah, karena Deka sudah bersedia mari kita bahas masalahnya. Semuanya pasti sudah tahu akar masalahnya, jadi tidak perlu kujelaskan. Di sini kita hanya akan membahas kelanjutan dari rencana. Deka, aku mau kamu menggantikan Altan sebagai mempelai pria dalam pernikahan ini. Apakah kamu bersedia?" Jelas paman Jio menanyakan kesanggupan Deka.


"Hahahaha, paman pikir bila aku berkata tidak sekarang aku bisa lolos?" Jawab Deka dengan senyuman tipis yang membuat Dhea mengaduh pelan.


"Kenapa Dhea?" Tanya Maria ikut heran dengan perubahan sikap putrinya itu. Dhea yang cenderung tomboi jarang sekali mengaduh atau kaku seperti ini. Jadi wajar bila kakak dan ibunya menatap heran pada dirinya.


"Gak papa kok, Ma." Jawab Dhea malu-malu terlebih saat mengetahui Deka melihat ke arahnya. Dia hanya bisa menunduk dan membatin. 'Kakak sepupu, jangan melihatku. Bikin jantung mau copot saja. Lagipula kenapa senyumnya bisa begitu manis.'


"Serius, Deka." Kata pamannya menghiraukan kebisingan sesaat barusan. Sedangkan Deka hanya menggeleng keheranan.


"Dalam rumah ini, siapa lagi yang paling bisa serius di antara kita semua? Siapa? Hanya aku, paman. Karena, akulah yang akan menjalani pernikahan ini, jadi bagaimana bisa aku bercanda sedaritadi?" Deka membuat nadanya cukup tinggi sehingga semuanya sedikit terhenyak dibuatnya.


"Deka,," Baru saja tantenya ingin menenangkan dirinya, ia segera memotong ucapan tantenya dengan isyarat tangan.


"Maaf, tante. Biarkan aku selesaikan ini. Jadi, atas penebusan hutang keluargaku, aku beserdia dengan lapang dada atas pernikahan ini." Ucap Deka dengan lantang.

__ADS_1


__ADS_2