Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
123. sekias tentang Masa lalu


__ADS_3

Di sebuah café mewah, ada sekelompok wanita tengah bercengkrama dan bercanda. Tak lama, seorang gadis cantik datang menghampiri mereka.


“Amel,,,” Sapa para gadis yang melihat kedatangan teman mereka.


“Hey, hello,” sapa Amel saat didekat para gadis itu.


Mereka saling menyapa dan tukar kabar.


“Mel, keliatannya kamu makin cantik aja.” Puji salah satu temannya.


“Ah, biasa aja kok. Tapi kalo kamu bilang aku makin cantik, mungkin alasannya karena aku habis perawatan di D&M klinik.”


Semua temannya langsung terkejut mendengar Amel menyebut nama klinik terbaik di benua ini.


“Wah, serius, mel? Kamu ke klinik itu? D&M?” tanya yang lain tidak percaya.


Amel tersenyum puas. Tak sia-sia dia menghabiskan uangnya hanya untuk perawatan ke tempat terkenal itu.


“Gimana ya, kemarin karena aku lagi gabut, aku coba aja perawatan ke sana.” Jawab Amel bersikap angkuh.


Teman-temannya berdecak kagum.


Bagi wanita seperti mereka, bisa masuk ke dalam klinik itu saja sudah sebuah anugrah. Apalagi kalau bisa sampai melakukan perawatan di sana. Selain terkenal dikalangan konglomerat dan para gadis, klinik itu juga terkenal dengan hasil perawatan kulit yang terbaik dari yang terbaik. Tapi tentunya untuk bisa melakukan perawatan di sana tidaklah semudah itu. Butuh setidaknya uang yang cukup banyak untuk melakukan perawatan di sana.


“gimana rasanya? Apa benar di sana fasilitasnya sangat lengkap?” Tanya teman-temannya penasaran. Selama ini mereka hanya bisa menyaksikan di video-video saja kehebatan klinik itu.


“Sempurna. Itu yang kurasakan saat di sana. Fasilitasnya lengkap dan saat masuk ke sana kamu akan di perlakukan layaknya ratu.” Jawab Amel.


“Ah, aku pengen ke sana.”


“aku juga.”


“Begitu pun aku.”


Semuanya berebutan untuk mengatakan kalau mereka juga ingin ke sana. Dan Amel tersenyum licik melihatnya.

__ADS_1


“kenapa hari ini kita tidak mencoba ke D&M saja?” Ajak Amel kepada teman-temannya.


“Hah, gak bisa mel. Kamu tahu sendirikan, butuh uang yang banyak buat perawatan di sana. Dan kalau kami ke sana, yang ada orang tua kami bakal marah.” Balas salah satu di antara mereka di balas anggukan oleh yang lain. Tidak seperti Amel yang berasal dari keluarga kaya raya, mereka hanya anak pebisnis menengah saja.


“Ayolah, untuk apa khawatir, kan ada aku di sini.” Balas Amel. Tidak seperti teman-temannya, Amel punya black card miliknya sendiri.


“Eh, maksudmu kamu mau traktir kita ke klinik D&M?”


Amel mengangguk. Jika hanya beberapa orang saja, itu bukan hal yang sulit.


“Jadi gimana? Mau nyoba ke sana?” Tanya Amel yang langsung di angguki oleh teman-temannya.


Sementara itu, dikediaman Bachsmid.


“Mari nona Milla. Saya sudah menyiapkan mobil.” Ucap Maya menuntun Milla untuk naik ke dalam mobil.


Setelah Milla naik ke dalam mobil, Maya segera masuk ke belakang kemudi dan segera membawa mobil itu ke D&M klinik seperti yang sudah dibicarakan tadi.


“Maya, sebenarnya, Muse itu apa sih?” Tanya Milla di sela-sela perjalanan mereka.


“Hhmm, apa bos tidak pernah cerita ke anda, nona?” Tanya Maya melirik sekilas ke arah Milla yang duduk di sebelahnya.


Maya tertawa receh. Apa yang dikatakan Milla barusan memang benar adanya. Setelah perusahaan Milla diambil alih oleh Deka, keduanya sangat jarang punya waktu untuk berdua.


“Muse itu sebutan untuk sembilan orang penting diorganisasi. Selain penting, mereka juga orang-orang yang dipilih langsung oleh bos. Ada juga yang mengatakan kalau mereka adalah sekumpulan orang yang pernah menjadi satu tim dengan bos.” Terang Maya membeberkan beberapa informasi tentang muse.


“Tim? Tim apa ini? Apa Deka pernah ikut semacam kemiliteran begitu?” Tanya Milla semakin penasaran.


Maya mengkerutkan dahinya. Dia binggung harus jawab apa. Takutnya ternyata dia tidak di izinkan untuk cerita semuanya pada Milla.


“Kenapa diam saja? Apa Deka mengatakan tidak boleh cerita hal semacam ini padaku?” Tebak Milla saat Maya hanya terdiam.


“Ah, tidak, nona. Bos tidak mengatakan hal semacam itu.”


“berarti seharusnya tak masalah, dong. Lagipula aku kan istrinya, bukannya seharusnya tak masalah aku mencoba mengenalnya lebih dekat. Setidaknya biar aku bisa tahu tindakan apa yang akan aku ambil kedepannya.”

__ADS_1


Maya terlihat meminang-minang.


“Anda sepertinya benar, nona.”


Milla langsung tersenyum penuh kemenangan.


“Kalau begitu ceritakan saja sedikit. Kurasa tidak masalah. Masalah Deka kamu tidak perlu khawatir. Aku yang bakal urus dia.”


Maya akhirnya melunak. Ucapan Milla berhasil menghasutnya.


“Baik, nona. Saya akan coba ceritakan apa yang saya tahu,”


“nah, itu baru benar. Kita mulai dari tim dulu. Coba ceritakan tim tadi yang kamu maksud.” Pinta Milla ingin menelusuri kehidupan Deka lebih jauh. Bagi Milla ini akan sangat penting. Setidaknya agar dia dapat mengenal Deka lebih jauh lagi.


“maksud ucapan saya mengenai tim ini adalah sekelompok orang yang berada di sisi bos saat beliau masih dalam masa pelatihan.”


“Jadi dia benar-benar masuk dalam militer?”


“hmm, tidak sepenuhnya salah. Bos saat muda memang mendapatkan pelatihan kemiliteran. Tapi bukan untuk menjadi anggota militer.”


“lalu untuk apa?”


“Untuk menjadi bos seperti sekarang.”


Jawaban Maya dari tadi terkesan ambigu.


“bisa gunakan Bahasa yang mudah kumengerti? Jawabanmu terlalu ambigu bagiku.”


Maya akhirnya menjelaskan tentang sebagian besar kejadian beberapa tahun lalu yang ia tahu. Maya menceritakan kalau Deka adalah anak seorang bos mafia asal Mexico. Saat deka berumur 11 tahun, ayah deka memberikan satu pelatihan khusus untuknya. Pelatihan itu memiliki tingkat kesulitan diluar nalar. Oleh karena itu, Deka memutuskan membentuk satu tim berikan 10 orang yang akan membantunya menyelesaikan pelatihan itu. Dan saat pelatihannya berhasil dilewati oleh Deka dan timnya, Deka langsung memberikan 10 orang itu jabatan untuk mereka di organisasi.


“jadi, Deka itu bos mafia seperti itu?” Tanya Milla mulai paham dengan cerita Maya.


“Benar, nona. Tuan Leo dan para muse lah anggota tim bos kala itu.” Jawab Maya.


Milla mengangguk. Pantas saja Deka terlihat sangat berkuasa. Suaminya itu ternyata menjalani kehidupan yang tidak pernah dia sangka.

__ADS_1


“Lalu apa nama organisasi kalian?” tanya Milla lagi.


“Ah, nona, kita sudah sampai.” Balas Maya mematikan mesin mobilnya.


__ADS_2