Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
69. Bersantai Sejenak


__ADS_3

"Terakhir, carikan aku segera pendonor mata."-Deka.


"Tentu, bos. Akan aku sampaikan semuanya pada yang lain. Anda tak perlu khawatir, kita pasti akan segera menemukan pendonor."-Leo.


"Bagus. Aku serahkan semuanya padamu. Jika ada sesuatu langsung hubungi aku saja."-Deka.


"Baik, bos."-Leo.


Deka menutup panggilan telpon itu. Dia meletakkan ponselnya ke atas meja dan beralih mengambil gelas yang ada samping ponselnya. Balkon itu cukup luas sehingga di sana cukup untuk meletakkan kursi maupun meja kecil.


Menikmati kopi sembari menatap langit, sungguh tiada duanya. Deka bersyukur masih diberi kesempatan seperti ini. Dulu semasa ia kecil, gurunya selalu melakukan hal seperti ini dengannya. Mereka minum kopi dengan santai sambil bercerita tentang apapun itu. Memikirkan gurunya membuat Deka jadi rindu.


"Hah, bagaimana kabar guru ya?" Gumam Deka kembali menyeruput kopinya. Tak terasa, kopinya ternyata sudah berada di penghujung. Tersisa hanyalah ampas kopi dalam gelasnya.


Deka kemudian memilih kembali masuk ke dalam. Diletakkannya gelas kopi bekasnya dalam tempat cuci piring, lalu berjalan ke arah kasur tempat Milla tertidur. Dia memilih duduk di sisi kasur sembari mengamati wajah Milla yang masih tertidur pulas.

__ADS_1


"Siang, gadis cantik." ucap Deka mengelus pipi Milla perlahan. Tangannya yang satu membenarkan rambut Milla yang menghalangi wajahnya. Dengan berani Deka mengecup kening Milla.


"Aku tak tahu apakah ini dibenarkan atau boleh. Tapi aku mau menjadi pelindungmu. Biarlah satu dunia memusuhimu, yang jelas aku akan tetap setia di sisimu." Ucap Deka pada Milla yang masih terlelap. Deka tersenyum sendiri membayangkan kalau ternyata Milla tak tidur. Pasti dirinya sungguh malu jika tahu hal itu.


Namun biarlah jika kenyataannya seperti itu. Lagipula itu lebih bagus. Jadi Deka tak perlu menutup-nutupi sesuatu. Kejujuran lebih baik daripada harus dipendam selalu.


Sebenarnya Deka tak tahu apa perasaan yang menyelimutinya selama ini. Perasaan yang timbul akibat keinginannya untuk berada di sisi Milla, menjadi pelindung dan orang yang akan terus mendukungnya. Mungkin sejak awal menikah perasaan itu sudah ada, tapi tidak sebesar saat ini. Semakin hari rasanya perasaan itu semakin menguat. Dan Deka mulai menyakini apa yang ia rasakan kini.


ting, tong, terdengar seseorang membunyikan bel apartemen dari luar. Deka beranjak dari kasur hendak membukakan pintu.


"Oh, iya. Terimakasih." Deka mengambil tas yang berisi pakaian itu. "Bisa bawakan aku makanan juga? Aku sedang malas memasak."


"tentu saja, bos. Kalau boleh tahu, bos ingin makan apa? Biar saya bawakan."


"Hhmm, aku ikut kau saja melihat-lihat menu."

__ADS_1


Pelayan itu mengangguk.


"Silahkan, Bos. Biar saya antar anda ke dapur."


Deka mengunci pintu dan berjalan mengikuti langkah kaki si pelayan.


Setelah beberapa menit meninggalkan kamar apartemennya, Deka sudah kembali dengan membawa beberapa macam makanan dengan troli makanan.


"Kamu boleh pergi." Ucap Deka pada pelayan tadi yang sudah mengantarnya.


"Baik, tuan. kalau anda butuh bantuan, bisa langsung panggil saya saja. Saya pamit undur diri dulu," Pelayan itu membungkuk sebentar lalu keluar dari sana.


"Hhhmm, enaknya makan apa dulu ya?" Gumam Deka melihat-lihat makanan yang tadi ia bawa. Saat Deka hendak menyendok nasi ke dalam piringnya, dia dikejutkan oleh sesuatu.


"Tolong! TOLONG! TOLONG AKU! Jangan tinggalin AKU!"

__ADS_1


__ADS_2