
"Nona, kita sudah sampai. Biar saya bantu untuk jalan ke kamar." Ucap Nana dipinggir mobil sebab saat mobil terbuka Milla hanya terdiam.
"Ah, iya, Nana. Maaf aku barusan hanya sedang melamun." Jawab Milla sedikit terkejut.
Semenjak kedatangan Bachsmid tadi pagi, pikiran Milla langsung penuh. Fokusnya pun terbagi terus menerus. Bahkan Albert sampai harus beberapa kali mengulang menjelaskan tentang kerjaan kantor tadi.
Nana dengan hati-hati menuntun Milla naik ke kamarnya diikuti oleh Albert dibelakang mereka.
"Apa yang dilakukan oleh pria itu?" Tanya Milla tentang Deka.
"Tuan Deka, maksud nona?" Nana mencoba memastikan bahwa pria yang dimaksud Milla adalah Deka.
"Iya."
"Hhhhm, menurut para pelayan yang bekerja dimansion kedua, mereka seperti tidak melihat adanya kehidupan di kamar, tuan Deka. Padahal tadi pagi pak Kadir bilang bahwa tuan Deka baru datang dan langsung ke kamarnya."
"Baru datang?"
Mill binggung maksud baru datang di sini.
"Oh maksudnya tuan Deka semalam keluar dan baru kembali tadi pagi."
"Semalaman tak pulang? Pergi kemana dia?" Tanya Milla dalam batinnya.
__ADS_1
Namun, Milla dengan cepat mengeleng.
"Heih, untuk apa aku penasaran tentangnya." Batin Milla mengusir rasa penasarannya.
"Ada apa, Nona?" Nana binggung dengan sikap Milla yang tiba-tiba terdiam dan geleng-geleng kepala.
"Ah, tidak apa-apa. Biarkan saja pria itu melakukan apa yang ia mau."
Mereka akhirnya sampai di kamar Milla. Di sana Milla langsung saja beristirahat. Pikirannya benar-benar lelah satu hari ini. Baik pikiran maupun tubuhnya sama-sama lelahnya.
Sementara itu, diluar kamar Milla.
"Ada apa dengan putri salju ini? Kenapa daritadi sampai rumah ia tak semangat?" Tanya seorang wanita yang tak lain adalah Nana.
"Hush, sudah kubilang jangan memangilku sayang saat jam kerja. Kau mau para pelayan tahu rencana kita?" Ancam Nana pada Albert tentang panggilannya barusan.
Albert refleks menutup mulutnya.
"Sudah jangan diulangi lagi. Untuk apa bapak mesum itu mendatangi Nona Milla?" Tanya Nana kembali.
"Entahlah, say, maksudku Nana. Aku tak tahu. Begitu kami sampai, aku langsung disuruh pergi begitu saja. Dan setelah bapak mesum itu pamit undur diri, Nona Milla sudah seperti ini. Bahkan setelah itu ia tidak fokus sama sekali. Aku seperti bekerja dua kali lipat hari ini."
"Itu bukan berarti rencana kita bocor, kan?"
__ADS_1
"Hhmm, kurasa tidak. Jika rencana kita bocor, nona Milla tidak mungkin masih mau kita layani. Nampaknya ini tentang sesuatu yang lain."
"Sesuatu seperti apa? Tuan Deka? atau nyonya Besar?"
Albert nampak berpikir sejenak.
"Sepertinya keduanya."
"Hhmm, kalau seperti itu, bagaimana cara kita mengatasi tuan itu? Aku takut sebelum rencana kita rampung, dia akan datang merusuh. Bukankah kita harus mulai bergerak cepat? kau tahu kan, kalau tuan George mulai membantu nona Milla sedangkan nyonya Besar nampak akan mulai menggusur perusahaan nona Milla."
Nana terlihat sedikit ketakutan.
"Aku tak mau terjerumus dalam dua tornado. Jika itu terjadi, kita akan tamat." Jujur Nana tentang pandangannya.
Bukannya takut, Albert malah cekikikan.
"Apanya yang lucu?! Aku serius," Kesal Nana melihat respon Albert.
"Maaf, maaf. Aku bukannya bermaksud mentertawakanmu. Aku hanya merasa semuanya akan berjalan sangat mulus." Jawab Albert dengan santainya.
Nana milirik ke arah Albert dengan raut wajah binggung.
"Kamu tenang. Si Deka itu tidak akan bisa berbuat apa-apa. Jika pun dia membantu nona Milla, semuanya akan selesai sebelum itu." Terang Albert sembari tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1