
"Kamu tahu, mau dilihat dari segi manapun, tante Eny terlihat seperti ibuku." Karena binggung harus ngapain, Deka memilih untuk bercerita saja. Deka mengenang ingatannya tentang ibunya."Aku pernah seharian pergi bermain di luar rumah tanpa mengabari ibuku. Alhasil, begitu aku pulang ke rumah, ibuku langsung memberikan tatapan mata yang sama seperti tante Eny barusan."
Deka membayangkan semuanya seolah kejadian itu baru terjadi.
"Dia langsung mengomeliku. Dia lupkannya semua yang terlintas dibenaknya padaku. Semuanya sampai-sampai setiap inci dari tubuhku kena omel. Tapi kau tahu apa yang dia lakukan setelah mengomeliku? Dia malah mengajak aku makan." Deka terkekeh. "Semarah dan sekesal apapun ibuku melihat tingkahku, dia tidak pernah sekalipun memukulku. Dia hanya meluapkan semua kekesalannya, lalu memaafkan semuanya begitu saja."
Cerita Deka berhasil membuat Milla tertarik. Milla menyimak cerita itu dengan seksama. Setelah semua yang terjadi, Milla selalu ingin mendengar cerita Deka tentang dirinya sendiri. Bagaimana kehidupan masa kecilnya, semuanya ingin Milla dengar tanpa terkecuali.
"Sayangnya kenangan seperti itu tidak bisa berlangsung lama." Raut wajah Deka terlihat sedih.
"Kenapa begitu?" Tanya Milla penasaran.
Deka mengambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Ibuku meninggal. Dia meninggal saat aku berusia 8 tahun. Kapal yang ditumpangi ibuku mengalami kecelakaan ditengah laut." Ternyata cerita Deka malah berakhir menyedihkan. Pria itu mendongak ke langit-langit kamar mandi.
__ADS_1
Milla yang mendengarnya langsung tremor dibuat.
"Ah, ma-maaf. Aku gak tahu kalau itu yang terjadi." Milla merasa bersalah saat tahu kalau ibu Deka sudah meninggal.
"Gak perlu minta maaf. Lagipula itu bukan salahmu." Deka mengangkat tangannya dan menepuk-nepuk ujung kepala Milla. "Kurasa kamu harus sering mengunjungi makam kedua orang tuamu."
"Kenapa begitu?"
"Kamu terlihat lebih baik setelah ziarah tadi." Deka membicarakan aura yang dipancarkan oleh Milla. Tangan Deka turun ke arah wajah Milla. Dielus lembut kulit wajan dari dahi hingga sampai di bagian bibir. Deka menarik dagu Milla agar menatap ke arahnya. Sepersekian detik, Deka seperti tersihir akan kecantikan Milla.
Deka langsung ******* bibir Milla. Dia melakukannya dengan perlahan. Dia mencoba untuk masuk lebih dalam. Milla yang mendapatkan serangan tiba-tiba kebingungan. Pikirannya ingin menolak ciuman itu, tapi tubuhnya malah berkata lain. Tubuh Milla malah menginginkannya. Tanpa Milla sadari, kedua tangannya sudah mengantung di leher Deka.
Ciuman itu semakin memanas. keduanya menikmati kecapan yang mereka berdua buat. Baik Milla maupun Deka sama-sama memeberikan perlawanan. Hingga ciuman itu semakin menggila. Milla yang awalnya duduk di sebelah Deka sampai berpindah posisi di atas Deka. Pria itu membawa Milla ke atas pangkuannya.
Tapi, sesaat setelah semua itu, kesadaran Deka kembali. Dengan cepat Deka menghentikan ciuman panas itu agar dapat terkendali.
__ADS_1
"Huh, hah, Ma-maaf, aku hilang kendali. Kita sudahi saja di sini." Ucap Deka menahan gejolak dalam dirinya setengah mati. Dia hampir saja mengingkari janjinya. Tangan Deka ke dalam air ingin memindahkan Milla ke sampingnya lagi.
Tapi tangannya malah di hentikan.
"Hhmm, ehm, ti-tidak kumaafkan." Milla menahan kedua tangan Deka yang ingin mengangkatnya. Milla duduk dipangkuan Deka dalam posisi miring. Miliknya dan milik Deka memang tidak bertemu, tapi Milla tahu kalau Deka dalam posisi yang sama dengannya.
"T-a-tanggung jawab," Sambung Milla memberanikan diri. Dia memindahkan kedua tangan Deka ke bagian dadanya.
Tentu Deka terkejut dengan perbuatan Milla itu. Dia mengira Milla akan marah. Tapi ternyata wanita itu malah menginginkannya. Semuanya pikiran jernih yang tadi ingin menyudahi ini dalam pikiran Deka langsung hilang entah kemana. Tangannya langsung bermain di area yang di arahkan oleh Milla.
"Aw, pe-pelan-pelan. Itu geli." Ungkap Milla saat merasakan permainan kedua tangan Deka. Air yang tadinya hangat malah menjadi panas bagi dua pasangan ini.
"Hpmhh,,," Deka kembali menyosor Milla. Kali ini Deka bermain lebih agresif dibandingkan yang awal.
Kecapan demi kecapan terdengar menghiasi kamar mandi. Mereka berdua tidak lagi malu-malu. Keduanya dengan pikiran jernih menginginkan satu sama lain. Tangan kiri Deka yang gatal, turun ke bawah ingin mengecek bagian sana. Dengan satu jari, Deka berhasil masuk. Sontak Milla menghentikan kecupannya dan langsung memeluk Deka. Geli sekali rasanya. Tapi Deka tak berhenti, dia terus bermain-main di sana sampai Milla mengeluarkan suara-suara sexy dan memanjakan telinga Deka.
__ADS_1
"Ha, Ah,,, Dek, Deka,, aku keluar,,," Ucap Milla melepaskan sesuatu yang sudah tak bisa ia tahan.