
Deka berjalan menuruni tangga. Di bawah, terlihat banyak sekali bawahan Deka tengah berkeliaran di seisi bar untuk memastikan tidak ada yang membocorkan kejadian Deka dan Milla beberapa saat yang lalu.
“Selamat malam, bos.” Sapa Clio setengah membungkuk di ikuti semua bawahannya di sekitar.
“kau urus semuanya, aku mau pulang dulu.” Titah Deka langsung meninggalkan bar itu menggunakan mobil. Dia langsung kembali ke kediaman Bachsmid. Milla yang duduk di sebelahnya tak bicara sepatah kata pun.
Sesampainya di depan rumah Bachsmid, Deka langsung keluar dari mobil untuk membukakan Milla pintu. Tapi bukannya membiarkan Milla untuk jalan sendiri, Deka malah langsung mengendong Milla ala bridal Style masuk ke dalam rumah.
“Turunkan aku, Deka. Aku bisa jalan sendiri.” Ucap Milla berusaha memberontak agar Deka menurunkannya. Tentunya usahanya nihil. Sama seperti yang lalu-lalu, Milla tak mampu untuk turun dari gendongan Deka.
“Hush, diamlah. Kamu lupa taruhan kita tadi?” Balas Deka “Dorong pintunya.”
Mau tak mau Milla menuruti semua kemauan Deka. Untuk meminimalisir rasa malu, Milla menenggelamkan wajahnya di dada bidang Deka. Dia terlalu malu jika harus bertemu dengan tante dan pamannya dalam kondisi seperti ini. Dan benar saja, paman dan tantenya berpapasan dengan keduanya.
“Loh, Deka, kok Milla digendong gitu?” Tanya Eny heran kenapa Milla sampai harus digendong oleh Deka.
“Ah, Milla sudah tidur, tante.” Jawab Deka berbohong. “Aku langsung ke atas ya, tante. Takut mau nidurin Milla di kamar.”
“Oh, begitu. Ya sudah, langsung naik saja.” Balas Eny tanpa rasa curiga. Begitu pun Bachsmid. Mereka melepaskan Milla dan Deka begitu saja.
__ADS_1
Milla yang dari tadi mendegar semuanya bernafas lega. Untung saja paman dan tantenya sedang tidak cerewet, mereka jadi bisa langsung ke kamar.
“Eh, tapi, kita akan langsung ke kamar?” Batin Milla menerawang apa yang akan terjadi saat mereka berada didalam kamar.
“Kita gak bakal langsung melakukannya, kan?” Tanya Milla dalam hati.
Deka langsung membawa Milla ke dalam kamar. Milla dan Maya tadi tidak mengunci pintu, jadi Deka hanya perlu mendorong pintu kamar dengan kaki untuk membukanya. Setelah masuk, Deka tak lupa mengunci pintu.
Setelah mengunci pintu, Deka berjalan kembali ke arah ranjang. Dia langsung merebahkan Milla ke atas ranjang.
“Deka, Kita perl-“
“Hhhmm,,,” Deka tak memberikan Milla ruang untuk bernafas lega. Di himpitnya Milla dalam kukungannya. Kedua tangannya memegangi tangan Milla agar wanita itu tidak bisa kabur.
Tangan Deka Nampak mulai gatal, tangan kanan Deka mengapit kedua tangan Milla di atas kepala Milla agar Milla tak memberontak. Sementara tangan kirinya mulai melancarkan serangan lain. Dengan begitu lincahnya tangan kiri Deka melesat menyentuh jenjang leher Milla dan perlahan turun kea rah dua gundukan yang meninggin. Tangan Kiri Deka terhenti di atas dua gundukan maut itu. Di rabanyya dan di perasnya secara kasar.
Permainan dari Deka berhasil membuat Milla kehilangan akal sehatnya. Suara ******* kecil berhasil lolos saat dua bibir mereka masih saling berpaut. Merasa masih ingin lebih, Deka melepaskan pangutannya dan turun ke bawah menciumi leher jenjang milik Milla. Baru Menikmati sebentar, Milla bergerak sedikit memberontak.
“I-itu, geli, Uh,” Ucap Milla dengan nafas terengah-engah.
__ADS_1
Deka semakin percaya diri. Milla tak menunjukkan adanya penolakan sama sekali. Akhrinya Deka melepaskan tangan Milla dan beralih mengerayangi seluruh tubuh MIilla.
Deka menuntun Milla untuk duduk. Dia membuang jas yang Milla kenakan ke sembarang arah. Lalu di lanjutkan dengan melepaskan dress yang Milla kenakan. Satu gerakan, dress yang Milla kenakan sudah berhasil terbuka. Dibuangnya dress itu ke sembarang arah.
Mata Deka benar-benar seperti tengan melihat surga. Kulit putih nan mulus Milla hanya tinggal beralaskan pakian dalam saja. Hormon laki-laki Deka sudah tak tahan. Bagian dari dirinya langsung berdiri tegak meminta keadlian. Deka kembali menerkam Milla. Dia mulai mencumbu Milla kembali. Tangannya merasa lebih nyaman saat kuli keduanya bersentuhan. Terdengar jelas detak jantung Milla saat Deka memulainya. Alunan detak jantung yang cepat membuah semakin bergairah.
Tanpa pikir panjang Deka melepaskan penghalang terakhir yang terakhir Deka dengan dua gunung yang ia ingin cicipi. Setelah terbuka, Deka seakan terpesona. Pria itu seperti sedang kecanduan. Bibir Deka dengan rakusnya mencicipi dua buah gunung yang menjulang tinggu itu.
“Hmmhh.” Milla menggigit jari telunjuknya untuk menahan suara yang hampir saja dia keluarkan.
Mendengar Milla menahan suara desahannya, Deka malah menjadi semakin tertantang. Dia mempercepat tempo permainan. Tangannya kembali ikut bermain. Semuanya berbagi posisi. Tangan kanan membantu di atas dan yang kiri mencoba menelusuri bagian bawah.
Saat berada di bawah, tangan deka merasakan ada kain halus menjadi pembatas. Seolah menjadi parasit, tangan kiri Deka mencoba menyempil lewat celah yang yang ada dan masuk ke dalam pakaian dalam Milla. Baru masuk sebentar, tangan kirinya sudah sampai ke tempat tujuannya. Dengan jari tengah, Deka berhasil menerobos masuk ke dalam bagian inti milik Milla.
“Aaah,,,,” Desah Milla tak mampu lagi menahan gairah yang dirasakan saat jari Deka masuk ke dalam sana. Peluh terus membanjiri keduanya di malam ini.
Jemari dan permainan Deka sungguh apik membuat Milla semakin tak mampu menahan gairahnya. Milla mencoba mencari sesuatu untuk ia genggam. Selimut, bantal dan seprei menjadi pilihan yang buruk. Hingga akhirnya tangan Milla memilih untuk menjambak rambut Deka yang tengah asik bermain di dua gumpalan daging miliknya.
Mendapatkan feedback kasar dari Milla membuat Deka ikut bergairah. Dilepaskannya dua benda mengumpal itu dan kembali mencium bibir ranum Milla. Ciuman itu langsung menjadi sumbu yang sangat panas untuk keduanya. Pergerakan selaras antara kedua tangan Deka di dua titik membuat Milla tak mampu membendung hasratnya lagi.
__ADS_1
Milla melepaskan pangutannya. Dan mengalihkan pandangannya ke samping.
“Ah,,,, Deka,,” Rintih Milla melakukan pelepasan pertamanya.