Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
37. Mencari Tempat Berlindung


__ADS_3

Milla menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dirinya sangat frustasi dan binggung harus apa. Kenapa banyak orang di dunia sangat tidak menginginkan dirinya ada. Rasanya seperti musibah yang menimpanya merupakan bumerang atas kelakuannya di masa lalu.


Tak terasa air matanya mengalir membasahi wajahnya. Milla semakin tak kuasa menjalani hidup ini. Rasanya ia begitu lemas dan tak berdaya. Pertanyaan di otaknya terfokus dengan apa yang harus ia lakukan. Dirinya sudah tak berpikiran tentang harta ayahnya. Ambil saja harta itu, tapi jangan dengan nyawanya. Dia masih terlalu takut untuk mati.


Tiba-tiba sebuah benda dingin menimpa kepala bagian belakang Milla.


"Minum dulu,"


Ternyata itu adalah Deka yang membawa sebuah botol minuman dingin. Milla langsung mengadah ke atas.


Deka menyodorkan botol minum itu ke pipi Milla yang sedikit basah karena air mata itu.


"Ini," Tawar Deka lagi agar Milla mengambil air minum yang pegang.


Milla mengambil botol minum itu.


"Tak perlu cemas. Kau tak sendirian." Imbuh Deka sembari mengusap air mata di pipi Milla.


Tak lupa pula Deka sudah membukakan botol minum milik Milla agar wanita itu mudah untuk minum.


Deka menatap ke arah Milla yang sedang minum. Dia sadar bahwa ini berat sekali buat wanita seperti Milla. Semuanya terasa seperti musibah datang terus menerus menimpa wanita itu. Terlepas dari kontrak pernikahan mereka berdua Deka merasa ingin melakukan sesuatu untuk Milla. Setidaknya membantunya untuk bisa hidup tenang.


"Hhhmm,,, baiklah, aku akan membantumu. Sepertinya menolongmu untuk lepas dari semua kericuhan ini tidak menyalahi kontrak kita." Batin Deka.

__ADS_1


"Lalu, apa ada solusi lain?" Tanya Deka setelah melihat Milla selesai minum.


Milla hanya mengeleng. Dia benar--benar tidak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya orang terdekat yang mau menolongnya hanya paman George. Tapi menghubunginya saat ini sia-sia. Sebab keluarga paman George pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis sekaligus untuk perawatan tante Maria.


"Apa kau sudah mendingan?" Giliran Deka yang bertanya sembari berdiri dari tempat duduknya.


"Ya,"


"Kalau begitu lebih baik kita kembali saja. Terlalu lama di tempat terbuka akan membahayakan kita."


Mila setuju, dengan bantuan Deka, mereka berdua beranjak pergi keluar mall itu. Deka memberhentikan sebuah taksi untuk mereka naiki. Deka beruntung kemarin sebelum kabur sempat membawa uang yang cukup banyak. Jadi, mereka tidak perlu terlalu khawatir untuk makan dan transportasi beberapa hari ke depan.


Di dalam taksi Deka langsung mengarahkan kepada sang supir untuk pergi ke arah mana. Dan mereka langsung bergegas kembali ke tempat semalam mereka menginap.


"Untuk apa?"


"Untuk yang tadi dan air minumnya." Milla nampak malu-malu untuk mengungkapkan rasa terimakasihnya pada Deka.


"Oh, itu. Tidak perlu berterimakasih. Bukannya itu hal yang seharusnya aku lakukan,"


"ya, tetap saja terimakasih."


Deka sedikit binggung karenna tiba-tiba saja Milla membuang mukanya ke sisi lain.

__ADS_1


"hhmm, baiklah. Sama-sama."


Setelahnya tidak ada percakapan lanjutan antara kedua insan itu. Hingga mereka sampai di jalan menuju kos tempat mereka singgah semalam.


Deka menerawang jalanan depan menuju kos semalam dengan teliti. Perasaannya merasakan sesuatu yang tidak nyaman. Dan benar saja, dari kejauhan Deka bisa melihat dua mobil hitam sudah terparkir menghalangi jalan masuk ke dalam kos. Dia juga samar-samar melihat sekumpulan pria berpakaian yang sama seperti pria di cafe tadi.


"Pak lurus terus saja." Deka dengan sigap menyuruh pak supir untuk jalan terus.


"Oh siap. Kok di depan situ ramai ya," Jawab pak supir melihat ke arah yang tadi diperhatikan oleh Deka.


Milla yang mendengar hal itu langsung terperanjat. Sebelum sempat ia berbicara, Deka dengan cepat merangkul kepala Milla agar tidakk terlalu nampak dari luar jendela.


"Mungkin ada hajatan, pak." Jawab Deka sekenanya.


"Diamlah dalam posisi ini sebentar, aku rasa mereka sudah mengepung tempat semalam." Bisik Deka kepada Milla agar tidak salah paham.


Milla mengangguk. Bahkan ia menggelamkan wajahnya ke dada bidang Deka agar lebih tidak terlihat dari kaca luar.


"Oh, pantes." balas sang supir yang bersikap acuh pada keadaan itu.


Deka cukup bersukur mendapatkan supir yang tidak cerewet. Jadi ia tidak perlu menjelaskan sesuatunya dengan rinci.


"Aih, cepat sekali mereka menemukan kami. Apa aku harus menghubungi Leo untuk meminta tempat perlindungan." Batin Deka saat mobil taksi mereka melintasi kos yang semalam mereka singgahi.

__ADS_1


__ADS_2