
pria itu berdiri di depan Milla. Dia mengenggam tangan Milla dan mengecupnya pelan. Lalu, menyengir tipis.
Deka yang dari tadi hanya memperhatikan terperanjat kaget. Dirinya langsung mempertanyakan maksud dan tujuan om-om itu dalam hati. Bagaimana bisa ia dengan percaya dirinya melakukan hal itu di depan umum.
"Siap-"
"Mari biar saya antarkan nona Milla ke tempat yang lebih aman." Ucap pria itu memotong perkataan Deka.
Pria itu menarik halus Milla untuk menuntunnya menuju mobil. Melihat itu, Deka dengan sigap hendak menahan langkah Milla, namun sebuah tangan menghalaunya. Itu adalah wanita tadi yang berdiri di balakang pria itu.
"Untuk tuan, bisa ikut saya." Ucap si wanita sembari menahan lengan Deka yang hendak menggapai Milla.
""Hei!" Bentak Deka yang tak suka dengan perlakuan orang-orang ini.
"Tak apa, Deka. Ikuti mereka saja. Kita sudah aman," Kali ini Milla angkat bicara. Tanpa menoleh ke arah Deka, Milla masuk ke dalam mobil sesuai arahan pria itu.
__ADS_1
Deka tidak bisa berbuat banyak. Matanya tak berpindah pandangan dari pria tua itu. Tapi yang diperhatikan malah acuh. Pria itu meninggalkan Deka bersama wanita itu menyusul Milla masuk ke dalam mobil. Mobil itu langsung berangkat tanpa menunggu Deka.
"Cih," Desih Deka lantaran masih merasa kesal. Deka menarik tangannya dari genggaman sang wanita.
"Tunggu apalagi? ayo antar aku juga." Sambung Deka sembari berjalan menuju mobil yang satunya.
Deka masuk melalui pintu kiri sementara wanita itu dari arah sebaiknya. Dan mobil mereka pun melaju menyusul mobil yang di kendarai Milla. Di dalam mobil Deka bertemu dengan seorang pria yang menjadi supir mereka.
Deka tidak memulai percakapan begitu pun dengan orang-orang dalam mobil itu. Mereka hanya diam sembari mengamati jalan. Rasa penasaran Deka tidak terlalu besar dibandingkan dengan rasa kesalnya beberapa waktu lalu. Jadi, dia memilih mengamati keadaan saja. Lagipula kalau keadaannya terdesak, Deka hanya perlu menghabisu semua yang menghalanginya.
Enggan untuk bertanya, Deka langsung keluar dari mobil ketika sudah berhenti dan langsung melangkah masuk ke dalam mansion.
"Tu, tuan, tunggu!" Teriak wanita tadi menyusul Deka dengan buru-buru.
Saat masuk ke dalam mansion Deka malah mematung. Pemandangan di depan matanya tak sesuai dengan bayangannya. Terlihat banyak benda-benda mewah terpajang. Di tambah juga dengan suasana yang sangat ramai membuat Deka sedikit Binggug.
__ADS_1
"tu--tuan Deka," Wanita yang tadi bersama Deka menyusul dengan tergesa--gesa.
"Di mana Milla?" tanya Deka lantaran tak melihat wanita itu di mana-mana.
"Ah, itu, nona Milla mungkin sudah berada di kamar utama. Tuan besar akan mengadakan party kecil di sini nanti malam. Jadi saat nona Milla menelpon tuan besar tadi, ia langsung berpikir untuk membawanya kemari.
"Lalu?"
"Lalu?" wanita itu malah balik bertanya kepada Deka.
"Iya, lalu apa yang di perintahkan oleh atasanmu itu?"
"Oh, itu. Anda juga diizinkan untuk hadir dalam party ini tuan. Dan saya yang akan menjadi asisten anda untuk kali ini."
Deka menghela nafas panjang. Dirinya tak bisa berkata-kata banyak. toh, ini keputusan Milla. Jadi dia hanya bisa mengikuti alur saat ini.
__ADS_1
"Hhmm, bagaimana selanjutnya?" tanya Deka kepada wanita itu.