
"Selamat datang, Nona Milla dan tuan Albert. Pria itu sudah menunggu anda di ruangan, nona." Sambut seorang wanita atas kedatangan Milla di kantor.
Nampaknya Milla tahu maksud dari kata pria itu. Sebatas mengangguk, Milla langsung masuk ke dalam ruangannya.
"Ah, akhirnya kau sampai juga."
Benar seperti penuturan wanita tadi, tepat saat Milla membuka pintu ruangannya, seorang pria langsung menyambutnya.
Pria itu berjalan ke arah Milla.
"Khehehe, aku tak pernah berhenti takjub dengan mu, Milla. Kau tetap saja cantik seperti biasanya." Tutur pria itu sembari mencium tangan Milla layaknya seorang ksatria.
Dan Milla dengan cepat menarik tangannya dari pria itu.
"Maaf, tuan. Bisakah anda menjaga sikap anda?" Kini giliran Albert yang angkat bicara. Albert nampak tak senang dengan pria itu. Hawa kebencian terpancara jelas saat Albert menatap pria itu.
Namun, bukannya merasa malu, pria itu malah terkekeh geli.
"Nona Milla, aku sudah menyempatkan pagi ku yang indah untuk bertemu denganmu. Jadi, bisakah kita berbicara sebentar." Terang pria itu membalikkan badannya membelakangi Milla dan Albert.
__ADS_1
Pria itu nampak seperti menekan kata kita dalam kalimatnya. Seperti sedang mengatakan hanya berbicara antara mereka berdua saja.
"Cih, sudah kubi,,,"
"Tentu, Tuan Bachsmid. Albert, tolong tinggalkan kami berdua."
Milla memotong ucapan Albert yang tadinya ingin mencaci pria itu pergi.
"Tapi nona Milla, Pria ini berbahaya." Albert menentang keputusan yang diberikan oleh Milla.
"Tak apa, Albert. Pria ini tidak akan berani macam-macam dengan ku."
Sementara itu, pria bernama Bachsmid itu tersenyum penuh kemenangan.
"Mari nona Milla, biar saya bantu anda untuk duduk." Bachsmid menghampiri Milla kembali dan mulai menuntun Milla ke kursinya.
Dan Albert hanya bisa mengamati kelakuan pria yang berhasil membuatnya jengkel.
"Kalau begitu, saya pamit undur diri, nona. Langsung panggil saya jika ada sesuatu yang tidak sepantasnya." Ucap Albert sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
"Tentu, Albert. Terimakasih." Balas Milla sembari mengikuti langkah Bachsmid menuntunnya ke sofa di dekat mereka.
"Hebat sekali pria itu. Hebat sekali dia bisa menyembunyikan sikap busuknya selama ini." Ucap Bachsmid setelah kepergian Albert.
"Jaga ucapanmu, Paman. Dia adalah bawahan ku yang paling setia." Bantah Milla sembari meraba sofa yang akan ia duduki barulah kemudian ia duduk.
Bachsmid tak langsung membalas ucapan Milla. Dirinya nampak tersenyum dan berjalan ke arah kaca besar yang ada diruangan itu. Dari sana Bachsmid bisa melihat keindahan kota sebab kantor Milla merupakan sebuah gedung besar pengcakar langit.
"Kota ini selalu indah mau berapa kali aku melihatnya." Bachsmid angkat suara dan tetap memandang ke bawah, melihat keramaian kota.
"Tapi sesuatu yang indah diluar tak semuanya nyata. Kota ini begitu indah tapi apakah semua orang akan beranggapan hal yang sama?" Sambung Bachsmid.
Milla tak memjawab pertanyaan Bachsmid itu. Dia hanya mendengarkan dan hanya menatap lurus ke depan.
"Jawabannya sederhana Milla. Karena tak semua orang merasakan hal yang sama. Lalu, kenapa aku tetap merasa kota ini indah?" Bachsmid membalikkan badannya dan berjalan ke arah sofa yang Milla duduki.
Bachsmid kemudian duduk di samping kiri Milla.
"Karena keberagaman itulah esensi keindahan yang kumaksudkan." Lanjut Bachsmid setelah duduk.
__ADS_1
"Itu hanya asumsi egois mu semata sebab kau tak merasakan apa yang mereka rasakan, Bachsmid." Kali ini barulah Milla membalas ucapan Bachsmid.