Lelaki Penebus Hutang

Lelaki Penebus Hutang
30. Ini Aku, Deka.


__ADS_3

Deka langsung membungkam mulut pria itu dengan cara menginjaknya beberapa kali. Dirinya sangat kesal karena berhasil dipermainkan seperti ini.


Ternyata para bajing*n ini sengaja menuntun Deka naik ke lantai atas dengan suara berisik tadi sebagai pengalih perhatian. Sebab mereka sadar kalau lantai tiga cenderung berlorong sehingga cocok menjadi tempat untuk menghabisi Deka. Meski hasilnya berbeda dengan yang mereka bayangkan. Mereka terlalu meremehkan Deka.


Dengan perasaan marah Deka berlari ke arah tangga. Dia harus cepat. Harus sangat cepat. Telat sedikit saja maka hanya akan ada penyesalan yang ia dapat.


Sementara itu, di depan Kamar Milla. Anak buah yang berjaga malah menonton aksi erotis bos mereka.


"Sudah cantik, suaranya juga erotis ya?" Ungkap salah seseorang yang sedang melihat bos mereka bermain di atas Milla. Yang lainnya tertawa mendengar ucapan rekannya itu. Namun, saat mereka tertawa seseorang yang paling ujung tiba-tiba terjatuh.


"Sera,,,"

__ADS_1


Belum sempat mengingatkan yang lain, dua orang sudah tumbang. Tembakan Deka menumbangkan dua orang dengan cepat. Namun ketiga yang lainnya dengan cepat bersembunyi. Mereka langsung menembak secara brutal ke arah Deka datang. Tapi tembakan Deka lebih efisien. Dalam hitungan detik hanya tinggal tersisa satu orang terakhir.


"Sial*n! Siapa pria itu? kenapa dia kuat sekali." Umpat pria terakhir yang panik kala melihat teman-teman mati dengan cepatnya. Pria terakhir itu tidak berani menempak asal-asalan ke arah Deka seperti teman-temannya. Ia memilih untuk bersembunyi dulu. Dia akan menunggu saat Deka kehabisan peluru.


Sayangnya pikirannya terlalu dangkal. Deka ternyata tidak menembak secara sembarangan. Ia sengaja agar terlihat seperti menembak secara sembarangan agar musuhnya terkecoh. Tujuan Deka sebenarnya ada pada sebuah patung di belakang pria itu. Ia mencoba membuat patung itu jatuh menimpa si pria terakhir


"Sekarang saatnya," Batin pria itu ketika mengetahui Deka tidak menembak lagi.


"Hei, bajing*n mesum!" Teriak Deka saat masuk ke dalam kamar Milla. Teriakan Deka membuat si bos yang hendak membuka reseleting celana Milla menoleh ke arahnya.


Deka langsung menghabisi pria itu tanpa ampun.

__ADS_1


"Dasar mesum. Suara tembakan saja sampai tak kau dengar. Apakah otakmu hanya di isi hal-hal mesum?" Umpat Deka.


Suara samar tangisan Milla terdengar. Deka langsung membuang senjatanya dan menghampiri Milla. Wanita itu terlihat sangat menyedihkan. Dengan refleks Deka membuka jaketnya dan mengenakan jaket itu pada Milla untuk menutupi bagian tubuhnya yang terbuka.


"Kau sudah aman. Ini aku, Deka." Ucap Deka lembut. Dirinya sadar Milla sudah melewati sesuatu yang sangat buruk. Pasti jiwa Milla sangat terguncang sekarang.


Mata yang selalu menatap lurus itu mengeluarkan air mata yang begitu banyak. Wajahnya juga terlihat ada sebuah memar nampak seperti akibat pukulan. Suaranya juga begitu ringkih. Deka yakin wanita ini berteriak terlalu kencang sampai suaranya bisa seperti ini.


Dengan lembut Deka membawa Milla dalam pelukannya. Setidaknya hanya itu satu-satunya cara yang Deka bisa untuk menenangkan Milla.


"Kau sudah aman, Milla. Tidak perlu khawatir. Ada aku di sini." Ucap Deka bermaksud menghentikan tangisan Milla.

__ADS_1


Milla merasakan kehangatan saat Deka memeluknya. Akhirnya doa terjawab. Dirinya menangis sejadi-jadinya di pelukan Deka.


__ADS_2