
Kring,,, krring,,,,
Sebuah alarm ponsel berbunyi. Sebuah tangan dengan sigap mematikan dering alarm itu. Dengan wajah ciri khas baru bangun tidur, Deka melihat ke ponselnya. Kemudian ia segera beranjak dari kasur untuk melawan rasa ngantuk.
Tak membuang waktu ia pergi ke kamar mandi dan melakukan beberapa ritual pagi agar dapat lebih fresh. Beberapa menit berselang, Deka sudah bugar, tak mengantuk. Lalu, ia berjalan ke arah lemari mengganti pakaian yang ada dalam lemari. Dari pakaian yang dikenakannya, Deka nampak akan berolahraga di pagi ini.
Setelah ganti pakaian, Deka langsung keluar dari kamar dan langsung berjalan menuju pintu keluar dari mansion. Saat berjalan Deka melihat para pelayan nampak masih sibuk membersihkan mansion pasca pesta semalam. Deka mengacuhkan pemandangan itu melanjutkan niatnya untuk olahraga pagi.
Semalam pesta itu benar-benar heboh. Semua orang berpesta senyaman mereka. Tapi Deka memilih untuk undur diri dari sana. Selesai pembukaan dari Agatha, Deka langsung kembali ke kamar. Tentunya ia memberitahukan dulu maksudnya pada Valeene agar wanita itu tidak banyak bertanya.
Meski diminta untuk menikmati pesta oleh Milla, Deka tetap memilih untuk tidur saja. Tipikal Deka memang bukan orang yang suka dengan keramaian. Bukan berarti takut, hanya saja ia merasa keramaian seperti itu buang-buang waktu saja. Itu juga yang menjadikan alasan kenapa ia mengangkat Leo sebagai tangan kanannya. Alasannya sederhana, karena dirinya tak mau terlibat keramaian seperti semalam.
__ADS_1
Lagipula pagi ini menjadi lebih tenang. Tidak ada yang terlalu memperhatikan pagi ini. Semua orang sudah terlalu capek dengan pesta semalam. Jadi Deka bisa lebih leluasa untuk melakukan apa yang diinginkannya. Tujuan Deka pagi ini memang lari pagi. Tapi selain itu dia juga ingin mencari tahu lebih lengkap tentang pria bernama Agatha ini. Ini saat yang tepat untuknya bertemu dengan Si tangan kanan.
Deka berlari menjauh dari mansion. Satu jam sudah ia berlari, seharusnya itu sudah cukup untuk lepas dari pandangan orang-orang si Agatha. Tak berselang lama, sebuah mobil berhenti di depannya menghalangi jalannya. Deka langsung sadar itu siapa, lalu kemudian masuk ke dalam mobil itu.
"Pagi, bos." Sapa Leo yang ternyata mengedarai mobil itu sendiri.
"Pagi, kita langsung ke tempat yang nyaman saja." titah Deka pada Leo.
"Jadi, bos, apa boleh saya hancurkan saja orang dibalik semua ini?" tanya Leo pada Deka saat keduanya sudah berada di dalam apartemen.
"Tidak perlu seperti itu. Jika kita berbuat semena-mena, jalannya akan berbeda."
__ADS_1
Deka berjalan ke arah dapur. Dia mengambil sebuah gelas dan menuangkan air minum untuk dirinya sendiri. Sementara Leo masih berdiri tak jauh dari pintu kamar apartemen.
"tapi mereka sudah keterlaluan, bos. Berani sekali mereka menyerang anda. Bahkan organisasi tingkat atas saja akan berpikir ribuan kali untuk melakukannya." Ungkap Leo sedikit menaikkan nada suaranya.
Deka berjalan keluar dari dapur. Dirinya beranjak ke sebuah sofa yang ada di dekat Leo.
"Ini hanya masalah kecil, Leo. Tak berkaitan sama sekali dengan organisasi manapun."
pria itu paham betul bagaimana perasaan Leo saat ini. Dan jika semua bawahannya tahu kalau bos mereka diserang dan hampir meregang nyaawa, semua bawahan Deka pasti akan sama emosi seperti Leo. Bahkan ada di antara mereka yang akan langsung menyerang balik orang di balik layar penyerangan Deka dan Milla tempo hari. Tak peduli siapa dan apa jabatan orang tersebut.
"tetap saja, tuan. Jika yang lain tau peristiwa kemarin, mereka pasti akan murka dan langsung menghabisi orang-orang itu."
__ADS_1
"Bukankah itu tugasmu? Aku tak pernah menyuruh kalian untuk ikut campur. Masalah ini murni masalahku pribadi. Jika ada yang bertindak lain, lakukan seperti cara biasanya."